Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Tempat Terakhir Spesies Terancam

Taman Nasional Bukit Tiga Puluh - Taman Nasional Bukit Tiga Puluh  ialah taman nasional yang berlokasi di Sumatra, Indonesia. Taman Nasional ini berlokasi di propinsi Riau serta Jambi. Taman nasional seluas 143.143 hektare ini terbagi dalam hutan hujan tropis dan juga populer sebagai tempat terakhir bagi spesies-spesies terancam seperti orangutan sumatera, harimau sumatera, gajah sumatera, badak sumatera, tapir asia, beruang madu serta beberapa spesies burung yang terancam.

Sumber: @hendrifotography via Instagram

Taman Nasional Bukit Tiga Puluh ialah taman nasional yang berlokasi di Sumatra, Indonesia. Taman Nasional ini berlokasi di propinsi Riau serta Jambi.

Alamat : Batang Gangsal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau

Ada di propinsi : Jambi , Riau

Kegiatan : Arung jeram , Air terjun , Pariwisata berbasis budaya , Pengamatan satwa liar , Telusur sungai

Ekosistem : Hutan dataran Tinggi , Hutan dataran randah , Hutan pamah.

Taman Nasional Bukit Tiga Puluh sekarang mendapatkan ancaman serius dari penebangan hutan yang dilakukan secara ilegal oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan juga penanaman minyak sawit. Melansir Kompas (2019), menyusutnya habitat lokasi ini, menyebabkan peningkatan pergesekan atau konflik di antara manusia dan juga gajah sumatra hingga mencapai 4 kali lipat sepanjang 10 tahun terakhir.

Menurut Frankfurt Zoological Society, 346 konflik pada tahun 2018 menyebabkan 9.161 pohon karet dan sawit, 2.475 batang tanaman dan juga pondok rusak, serta kematian seekor gajah, terjadi bersamaan menurunnya tutupan hutan hujan dataran rendah ekosistem Bukit Tigapuluh ini.

Hutan TNBT ini memiliki 84.042 ha area penyangga berbentuk tutupan hutan alam pada 2009, dan juga terjadi pemerosotan hingga hanya tersisa 34.814 ha saja. Pada 1980an, terdapat kurang lebih 400 ekor gajah yang hidup serta tidak sampai 150 ekor saja yang masih hidup dan tersisa setelah 3 dekade kemudian.

Bukit Tigapuluh meliputi satu diantara sedikit dataran rendah kering tak terfragmentasi yang masih ada di pulau Sumatera. Hutan ini adalah sebagai tempat perlindungan terakhir untuk tiga dari empat satwa kunci Sumatera yakni orangutan, gajah, serta harimau, dan kurang lebih 250 spesies burung beserta mamalia lainnya.

Suku Asli Talang Mamak dan juga Orang Rimba yang disebut juga suku Kubu tinggal di lokasi Bukit Tigapuluh. Talang mamak adalah suku yang diam di lokasi Bukit Tigapuluh, sedangkan Suku Orang Rimba hidup nomaden serta kurang lebih 3000 anggotanya hidup di daerah Jambi. Mereka berpindah lewat hutan alami serta sangat bergantung pada sumberdaya alam yang terdapat di hutan dan juga sungai buat bertahan hidup.

Lokasi Bukit Tigapuluh dikatakan sebagai satu diantara 20 kawasan prioritas global buat konservasi harimau oleh pakar spesialis harimau global pada tahun 2006. Kawasan ini sendiri dijadikan wilayah konservasi buat proyek pelepasliaran orangutan Sumatera yang sudah berjalan secara baik.

Sekitar 90 ekor orang utan Sumatera sekarang hidup di lokasi yang statusnya diajukan menjadi kawasan lindung akan tetapi sudah dirambah oleh perusahaan yang terafiliasi dengan APP. Saat ini Bukit Tigapuluh adalah cuma satu-satunya habitat liar yang tertinggal atau tersisa buat tempat tinggal kera besar ini selain wilayah Aceh dan juga Sumatera Utara.

Flora Dan Fauna

Sumber: commons.wikimedia.org

Jenis-jenis ekosistem yang terdapat di Taman Nasional ini mencakup hutan dataran rendah dan juga dataran tinggi, dengan flora seperti Gutta-percha , Shorea , Alstonia scholaris , Dyera costulata , Koompassia excelsa , Rafflesia hasseltii , Daemonorops draco serta beberapa jenis rotan.

Menurut survey yang dilaksankan pada tahun 1994, Taman Nasional Bukit Tigapuluh mempunyai 59 spesies mamalia, terhitung enam spesies primata dan juga 18 spesies kelelawar, selain 198 spesies burung dan juga beberapa spesies kupu-kupu yang juga terdapat pada taman nasional ini.

Mamalia terdiri dari orangutan sumatera , harimau Sumatera , gajah Sumatera , tapir Asia , beruang madu , siamang , kera pemakan kepiting , surili Sumatera , Sunda loris , macan tutul , macan tutul kucing , marmer kucing , anjing liar Asiatic, Malayan musang, muntjac India, Sumatra serow serta Java mouse-rusa.

Spesies burung mencakup argus besar, sedikit hijau-merpati, shama putih-rumped, burung pelatuk perut putih, jambul ular-elang, Bukit beo, burung enggang helm, keriput rangkong, bebek kayu putih bersayap, bangau Storm, serta garnet pitta.

Konservasi Dan Ancaman

Deforestasi buat perkebunan kelapa sawit di zona penyangga Taman Nasional. Pada tahun 1982, Gagasan Konservasi Nasional menyoroti betapa pentingnya ekosistem Bukit Tigapuluh dan juga mengklasifikasikan dua lokasi konservasi Suaka Margasatwa Bukit Besar (200.000 ha) dan juga Cagar Alam Seberida (120.000 ha) sebagai lokasi konservasi prioritas I.

Pada tahun 1992 Pemerintah Indonesia melaksanakan kerjasama dengan Pemerintah Norwegia dalam melaksanakan riset buat mendokumentasikan nilai biologis ekosistem Bukit Tigapuluh. Sebagai hasil riset, ekosistem Bukit Tigapuluh dengan luas 250.000 ha disarankan buat ditetapkan menjadi taman nasional.

Pada tahun 1995 Bukit Tigapuluh diputuskan sebagai taman nasional berdasar Keputusan Menteri yang terdiri dari 127.698 ha. Pada tahun 2002, luasnya sudah diperluas dan berubah menjadi 144.223 ha.

Taman Nasional berada dibawah ancaman yang berkelanjutan dari penebangan liar dan juga perkebunan kelapa sawit, dengan dua pertiga dari taman tersebut ditebang. Zona penyangga yang berada disekitarnya dan juga koridor margasatwa berkurang hingga dengan 30.000 hektar, area hutan paling besar yang masih ada atau tersisa di luar Taman Nasional, dirilis pada Mei 2009 oleh pemerintah Indonesia buat penebangan.

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar