Pohon Tenggaring (Kapulasan) Flora Endemik Kalimantan Yang Teranam Punah

Pohon Tenggaring Identitas Kalimantan - Tenggaring atau dikenal juga dengan nama Kapulasan adalah Flora yang merupakan identitas dari Kalimantan Tengah. Tenggaring atau kapulasan ini terlihat sangat mirip dengan rambutan (Nephelium lappaceum) sebab memang masih memiliki hubungan kerabat yang dekat. dan juga tenggaring memang adalah jenis rambutan hutan yang banyak ditemukan dan tumbuh alami di hutan Kalimantan Tengah.

Sumber: flikcr.com
Klasifikasi Ilmiah

Kerajaan: Plantae

Divisi:       Magnoliophyta

Kelas:      Magnoliopsida

Ordo:       Sapindales

Famili:     Sapindaceae

Genus:    Nephelium

Spesies:Nephelium ramboutan-ake(Labill.) Leenh.

Di Indonesia flora ini dikenal juga menjadi kapulasan, pulasan (Sunda), tenggaring (Kalimantan Tengah), tukou biawak (Kubu), Molaitomo (Gorontalo), mulitan (Toli-toli). Selain kerap dianggap dengan nama rambutan kafri

Morfologi Tenggaring (Kapulasan)

Pohon tenggaring (Nephelium ramboutan-ake) memiliki kemiripan dengan pohon rambutan sebab masih termasuk ke dalam 1 marga. Tinggi pohon Kapulasan normalnya lebih pendek dari rambutan walaupun dapat mencapai tinggi sampai 20 meter.

Bentuk batang, dahan, percabangan, dan juga daun tenggaring tidak jauh berbeda dengan daun rambutan, hanya saja daun tenggaring memiliki ukuran yang lebih kecil. Panjang daunnya 4 kali lebarnya. Perbungaan tersusun malai yang ada di tiap ketiak atau agak ke bagian ujung ranting.

Buahnya tebal, bulunnya keras, tegak, pendek serta tumpul. Kulit buah tebal berwarna kuning hingga berwarna merah tua. Bentuk buah seperti buah rambutan yakni bulat telur dan daging buahnya manis serta memiliki sedikit rasa asam. Daging buahnya umumnya agak sulit terlepas (nglotok) dari bijinya.

Tumbuhan khas Kalimantan Tengah ini tumbuh menyebar di beberapa daerah di Indonesia mulai dari pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, hingga pulau Sulawesi. Tidak hanya di Indonesia pohon kapulasan dapat pula ditemui di negara Malaysia, Thailand, serta Filipina.

Habitat yang cocok dan disukai oleh tumbuhan ini ialah wilayah subur serta cenderung lembab dengan curuh hujan 3.000 mm per tahun serta pada wilayah berketinggian antara 100 – 500 MDPL.

Kapulasan atau tenggaring (Nephelium ramboutan-ake) buahnya dimanfaatkan untuk dikonsumsi langsung. Tidak hanya buahnya, kayunya cukup keras sehingga oleh warga sekitar seringkali digunakan untuk bahan dasar pembuatan peralatan rumah tangga.

Biji tenggaring memiliki kandungan minyak nabati yang jumlahnya lebih banyak ketimbang biji rambutan karena itu biji ini bisa diolah untuk menghasilkan minyak yang bisa dipakai dalam proses pembuatan lilin dan juga sabun.

Akan tetapi harus diakui buah ini terbilang kalah pamor dibandingkan dengan saudaranya, rambutan. Tidak hanya rasanya yang cukup masam, daging buahnya yang sulit terkelupas, dan juga pertumbuhan tanaman ini termasuk cukup lama sebelum pada akhirnya menghasilkan buah. Tiap 100 gr daging buah memiliki kandungan 85 g air, 0.8 g protein, 0,6 g lemak, 13 g karbohidrat serta 0,1g serat.

Tetapi biar bagaimanapun tanaman penghasil buah ini adalah satu diantara kekayaan hayati kita. Mungkin butuh beberapa riset lanjutan buat mendalami manfaat  atau kegunaan tumbuhan ini lebih lanjut.

Bila Anda tertarik untuk memperbanyak tanaman ini, perbanyakan bibitnya bisa dilakukan dengan mencangkok, sambungan (okulasi) dan juga biji. Penanaman dengan biji memakan waktu yang lama/pertumbuhannya lamban yakni di antara 8-10 tahun tenggaring ini barulah mulai berbunga serta berbuah. Musim berbunga pohon ini berlangsung pada bulan Juni sampai Agustus dan serta musim berbuah pada bulan Oktober sampai Desember.

Itulah artikel tentang Pohon Tenggaring (Kapulasan) Flora Endemik Kalimantan Yang Teranam Punah yang dapat abang nji informasikan buat sahabat sekalian. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan dan bermanfaat buat sahabat sekalian.

Terima Kasih

Tidak ada komentar