Biografi Sultan Iskandar Muda Sang Pahlawan Nasional Dari Aceh Yang Gagah Berani

Biografi Sultan Iskandar Muda - Sultan Iskandar Muda merupakan salah seorang daftar pahlawan nasional dari Aceh yang lahir di wilayah Banda Aceh, yakni pada tahun 1593 serta wafat di Banda Aceh yang merupakan tempat yang sama dengan daerah kelahirannya pada tanggal 27 Desember 1636, dan pada saat itu usinya mencapai 43 tahun.

Sultan Iskandar Muda adalah sultan yang tercatat sebagai sultan terbesar dalam periode Kesultanan Aceh, yang periode kekuasaannya dimulai dari tahun 1607 sampai 1636 M. Perlu kita ketahui bersama, Aceh dapat mencapai puncak kejayaan pada saat di bawah kepemimpinan sultan Iskandar Muda, dimana pada saat itu wilayah kekuasaannya kian bertambah besar dan juga rekam jejak internasionalnya menjadi pusat dari pembelajaran mengenai Islam serta perdagangan.

Beliau pun pada masa kepemimpinannya, sempat melaksanakan sebuah penyerangan kepada pasukan Portugis, akan tetapi serangan tersebut mengalami kegagalan, walaupun gagal Aceh masih termasuk dalam daftar kerajaan yang merdeka.

Sumber: flickr.com

Kisah Leluhur Dan Masa Kecil Sultan Iskandar Muda

Dari pihak leluhur ibundanya, Iskandar Muda merupakan keturunan dari Raja Darul-Kamal, sedangkan dari pihak leluhur ayahnya, ia adalah keturunan dari keluarga Raja Makota Alam. Darul-Kamal dan juga Makota Alam disebutkan dahulunya adalah dua tempat permukiman bertetangga yang lokasinya terpisahkan oleh sungai, dan gabungan dari dua silsilah tersebut adalah cikal bakal berdirinya kesultanan Aceh Darussalam. Iskandar Muda seorang diri yang mewakili kedua cabang tersebut, yang memiliki hak seutuhnya untuk menuntut dan menduduki takhta.

Ibu sultan Iskandar Muda sendiri bernama Putri Raja Indra Bangsa, yang bergelar Paduka Syah Alam, yang merupakan anak dari Sultan Alauddin Riayat Syah yang Sultan Aceh ke-10, dimana sultan ini merupakan putra dari Sultan Firman Syah, serta Sultan Firman Syah merupakan anak atau cucu Sultan Inayat Syah yang merupakan Raja Darul-Kamal.

Putri Raja Indra Bangsa menikah yang dilaksanakan secara megah dan besar-besaran dengan Sultan Mansur Syah yang merupakan putra dari Sultan Abdul-Jalil, dimana Abdul-Jalil merupakan putra dari Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahhar yang merupakan Sultan Aceh ke tiga

Kisah Pernikahan Sultan Iskandar Muda

Sri Sultan Iskandar Muda selanjutnya menikah dengan seorang Putri dari Kesultanan Pahang. Putri ini diketahui dengan nama Putroe Phang. Konon, lantaran begitu cintanya sang Sultan dengan istrinya, Sultan memerintahkan pendirian Gunongan yang lokasinya berada ditengah-tengah Medan Khayali yang merupakan Taman Istana sebagai salah satu bentuk tanda cintanya.

Beritanya, sang puteri senantiasa sedih lantaran memendam rindu yang sangat dalam pada kampung halamannya yang lokasinya berbukit-bukit. Oleh karenanya Sultan membuat Gunongan guna mengobati rasa rindu sang puteri. Sampai sekarang Gunongan masih bisa dilihat dan juga dikunjungi oleh masyarakat luas khususnya masyarakat ACeh.

Periode Kekuasaan Sultan Iskandar Muda

Perlu kita ketahui bersama, periode kekuasaan dari Sultan Iskandar Muda yang diawali pada tahun 1607 sampai 1636, adalah periode paling gemilang untuk Kesultanan Aceh, meskipun di lain sisi kontrol ketat yang dilaksanakan oleh Iskandar Muda, memicu banyaknya pemberontakan di masa datang seusai berakhirnya kepemimpinan sultan Iskandar Muda.

Aceh adalah negeri yang sangat kaya dan juga makmur pada saat kejayaannya. Berdasarkan keterangan dari seseorang penjelajah yang berasal dari negara Prancis, pada masa keemasan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, kekuasaan Aceh ruang lingkupnya sangatlah luas hingga mencapai bagian pesisir barat Minangkabau. Kekuasaan Aceh juga mencakup hingga wilayah Perak.

Sewaktu sultan Iskandar Muda memulai kepemimpinan dan kekuasaannya pada tahun 1607, dia segera melaksanakan ekspedisi angkatan laut yang mengakibatkan dia mendapat kontrol yang efektif di wilayah barat laut Indonesia. Kendali kerajaan berjalan dengan lancar di semua pelabuhan-pelabuhan penting di pantai barat Sumatra dan juga di pantai timur, hingga ke Asahan di selatan.

Pelayaran penaklukannya dilancarkan hingga jauh ke Penang, di pantai timur Semenanjung Melayu, serta pedagang asing diperintahkan untuk patuh padanya. Kerajaannya kaya raya, serta jadi sentral ataupun pusat ilmu pengetahuan pada masanya.

Kisah Perluasan Kekuasaan Sultan Iskandar Muda

Sumber: @pikad_atjeh via Instagram
Keberhasilan Iskandar Muda didasarkan pada kemampuan dari militernya. Angkatan perangnya saat itu terdiri dari angkatan laut kapal berat, kavaleri (pasukan berkuda) yang menggunakan kuda Persia, Korps gajah, pasukan infanteri (pasukan tempur darat) dan lebih dari 2000 meriam dan juga senjata-senjata perang baik yang berasal dari Sumatera maupun yang berasal dari Eropa.  Setelah mendapat kekuasaan, ia mulai melakukan kontrol terhadap Sumatera Utara. Pada tahun 1612 ia berhasil menaklukkan Deli, dan di tahun 1613 ia pun kembali berhasil menaklukan Aru dan Johor.

Setelah penaklukan Johor, Sultan, Alauddin Riayat Shah III, dan beberapa keluarga kerajaan lainnya kemudian dibawa ke Aceh, dengan sekelompok pedagang dari Perusahaan Hindia Timur Belanda. Akan tetapi, Johor bisa singkirkan Garnisun Aceh di akhir tahun tersebut, dan Iskandar muda tidak pernah bisa menegaskan kendali penuh atas wilayah itu. Johor setelah itu membuat suatu aliansi dengan Palembang, Pahang, Jambi, Inderagiri, Siak dan Kampar untuk menentang kerajaan Aceh.

Kisah Perjuangan Sultan Iskandar Muda

Tahun 1607 Sultan Iskandar Muda diberikan tahta kesultanan Aceh dalam umur yang amat belia, langkah-langkah yang dikerjakannya ialah memperkokoh posisi dan juga kekuatannya dengan cara Membentuk suatu Angkatan Perang dengan mencari tenaga-tenaga yang tentunya masih muda guna menjadi anggota Angkatan Perang di wilayah kekuasaannya.

Selain itu, ia juga melakukan penataan sistem pemerintahan lewat pembagian wilayah yang disebut dengan mukim serta menciptakan Peraturan Perekenonomian Negara. Guna mengendalikan masalah perekenonomian ada sebuah Instansi Negara yang dinamai Balai Fundwah. Jalannya perekenomian ditentukan oleh alat tukar karenanya Sultan Iskandar Muda mengeluarkan mata uang sebagai suatu alat tukar.

Pada tahun 1614 Sultan Iskandar Muda mendirikan sebuah masjid yang kemudian dikenal dengan nama Masjid Baitur Rahim. Selama memegang tahta sebagai Raja Aceh, Sultan Iskandar Muda membuktikan sikap anti penjajahan asing dan tentunya sikap ini kelihatan sekali dalam menghadapi ancaman dari bangsa-bangsa asing yang datang mengunjungi Aceh.

Dia senantiasa memperlihatkan sikap tegas dan juga sangat berwibawa sebagai seorang Raja. Ia juga memimpin secara langsung serangan besar dalam menentang bangsa Portugis yang menguasai daerah Maluku pada tahun 1615. Akan tetapi kegagalan yang diikuti oleh banyaknya korban tentu saja tidak mematahkan semangat Sultan Iskandar Muda. Guna memperkokoh kerajaannya Sultan Iskandar Muda memperluas kekuasaan dan wilayah kerajaannya dengan menaklukan kerajaan-kerajaan kecil di semenanjung Malaya.

Pada tahun 1629 Masehi, pasukan Sultan Iskandar Muda tiba di wilayah perairan Malaka dan saat itu pasukan Portugis sudah bersiap-siap guna menghadapi mereka dan tentunya terjadilah pertarungan yang dahsyat, akan tetapi lantaran pasukan Portugis dibantu oleh pasukan Armada Johor, Pawang, Palani, Goa dan juga India pada akhirnya Sultan Iskandar Muda bisa ditaklukan dan dilumpuhkan oleh pasukan Portugis.

Untuk membalas kekalahannya, pada tahun 1635 Sultan Iskandar Muda menyerang Panang, alasan kuat dilakukan penyerangan, dikarenakan Panang mendukung pasukan Portugis pada saat kerajaan Aceh melakukan serangan pada pasukan Portugis.

Interaksi Sultan Iskandar Muda Dengan Bangsa Asing

Inggris

Pada abad ke 16, Ratu Inggris yang saat itu dipimpin oleh Elizabeth I, mengirim utusannya yang bernama Sir James Lancester menuju Kerajaan Aceh dan juga mengirimkan surat yang diperuntukkan pada Saudara Hamba, Raja Aceh Darussalam dan seperangkat perhiasan-perhiasan yang bernilai tinggi.

Sultan Aceh saat itu tentunya menerima dengan sangat baik iktikad baik saudarinya di Inggris serta mengizinkan Inggris buat berlabuh serta berdagang di daerah kekuasaan Aceh. Bahkan juga, Ratu Elizabeth I mengirimkan berupa hadiah-hadiah yang tentunya berharga termasuk juga sepasang gelang dari batu rubi serta surat yang ditulis dengan tinta emas di atas kertas yang halus. Sir James lantas kemudian diberi gelar "Orang Kaya Putih".

Jalinan yang mesra di antara Aceh dan juga Inggris diteruskan pada saat Raja James I dari Inggris dan Skotlandia. Raja James mengirim sebuah senjata meriam yang ditujukan sebagai hadiah khusus untuk Sultan Aceh. Meriam itu sampai sekarang masih terurus dan terkenal dengan nama Meriam Raja James.

Belanda

Tidak hanya menjalin hubungan yang baik dengan Kerajaan Inggris, Pangeran Maurits yakni seorang pendiri dinasti Oranje pernah juga mengirim surat yang bermaksud meminta pertolongan dari Kesultanan Aceh Darussalam. Sultan tentunya menyambut dengan baik iktikad baik mereka dengan cara mengirim rombongan utusannya ke Belanda. Rombongan pasukan tersebut, saat itu dipimpin oleh Tuanku Abdul Hamid.

Rombongan inilah yang diketahui dan dikenang sebagai orang Indonesia pertama yang berkunjung ke Belanda. Dalam kunjungannya Tuanku Abdul Hamid sakit serta pada akhirnya wafat di sana. Dia disemayamkan dengan penghormatan secara besar-besaran di Belanda yang pada saat itu dihadiri oleh beberapa pembesar-pembesar Belanda.

Akan tetapi, lantaran orang Belanda tidak pernah memakamkan orang Islam, karena itu dia disemayamkan dengan tata cara agama Nasrani yang dilaksanakan di pekarangan sebuah gereja. Saat ini di makam dia terdapat satu prasasti yang diresmikan oleh Mendiang Yang Mulia Pangeran Bernhard yang merupakan suami dari mendiang Ratu Juliana dan juga Ayah dari Yang Mulia Ratu Beatrix.

Turki Utsmaniyah

Pada masa kepemimpinan sultan Iskandar Muda, Kerajaan Aceh pernah mengirimkan utusannya untuk menghadap Sultan Utsmaniyah yang memiliki kedudukan di Konstantinopel. Lantaran waktu itu Sultan Utsmaniyah tengah sakit karena itulah utusan daripada Kerajaan Aceh terluntang-lantung sedemikian lamanya hingga mereka terpaksa menjual dikit demi sedikit hadiah persembahan untuk bertahan hidup.

Kemudian, kelanjutannnya saat mereka diterima oleh sang Sultan, persembahan mereka hanya menyisakan Lada Sicupak atau Lada sekarung. Akan tetapi dengan kebaikannya sang Sultan tetap menyambut baik hadiah itu serta mengirim sebuah meriam dan juga sebagian orang yang mahir dalam ilmu perang guna menolong kerajaan Aceh.

Meriam tersebut pun masih dapat dilihat sampai saat ini. Meriam tersebut dikenal dengan nama Meriam Lada Sicupak. Pada masa setelah itu Sultan Ottoman mengirim sebuah bintang jasa yang ditujukan  kepada Sultan Aceh.

Prancis

Kerajaan Aceh saat itu juga menerima kunjungan perwakilan dari Kerajaan Prancis. Perwakilan dari Raja Prancis itu awalnya mempunya tujuan untuk memberi hadiah sebuah cermin yang sangatlah berharga dan bernilai untuk Sultan Aceh. Akan tetapi dalam perjalanan dari Prancis ke kerajaan Aceh cermin itu pecah.

Pada akhirnya, mereka memberikan serpihan cermin itu sebagai hadiah untuk sang Sultan. Dalam karya bukunya, Denys Lombard menjelaskan jika Sultan Iskandar Muda sangat menyukai benda-benda yang memiliki nilai atau berharga.

Pada waktu itu, hanya Kerajaan Aceh sajalah satu-satunya kerajaan Melayu yang mempunyai Balee Ceureumeen atau Aula Kaca yang terletak di dalam Istananya. Menurut Utusan dari Prancis itu, Istana Kesultanan Aceh memiliki luasan yang besar, dimana luasnya tidak kurang dari dua kilometer.

Istana itu bernama Istana Dalam Darud Donya yang saat ini dikenal dengan Meuligoe Aceh yang menjadi tempat tinggal Gubernur. Di dalam kerajaan tersebut juga mencakup Medan Khayali serta Medan Khaerani yang dapat menampung pasukan gajah yang jumlahnya dapat mencapai 300 ekor.

Sultan Iskandar Muda memberikan perintah buat menggali sebuah kanal yang tentunya mampu mengaliri air bersih dari sumber mata air di Mata Ie sampai ke aliran Sungai Krueng Aceh dimana kanal itu melewati istananya, sungai ini sampai saat ini masih bisa kita lihat, mengalir tenang di seputar Meuligoe. Di sanalah sultan seringkali berenang sembari menjamu tamu-tamu kerajaan Aceh.

Aktivitas Ekonomi

Landasan ekonomi dari Kesultanan Aceh sendiri yaitu perdagangan rempah, khususnya lada. Perselisihan di antara Aceh, Johor dan juga Portugis Melacca, serta beberapa pelabuhan penghasil merica dalam ranah Kesultanan ini, adalah pemicu utama terjadinya suatu konflik di bidang militer.  Selain lada, ekspor penting lainnya dari kesultanan Aceh antara lain cengkeh dan juga kacang sirih (pinang).

Iskandar Muda sendiri,  membuat suatu ketetapan ekonomi yang amat cerdas dan tentunya dapat mendukung pertumbuhan ekonomi di kerajaan Aceh. Salah satunya dengan menerapkan rendahnya tingkat suku bunga dan juga meluaskan penggunaan koin emas kecil. Akan tetapi, seperti Kesultanan lain di wilayah tersebut mengalami kesulitan untuk menarik aktivitas pertanian ke pedalaman yang bertujuan untuk menjaga ketersediaan makanan untuk kegiatan militer dan juga komersial ibukota.

Pada dasarnya, satu diantara tujuan kampanye sultan Iskandar Muda ialah untuk membawa dan memanfaatkan tawanan perang yang tentunya dapat dimanfaatkan sebagai buruh untuk produksi pertanian.

Aktivitas Budaya

Pada saat periode kepemimpinan Iskandar Muda, sejumlah sarjana Islam penting ditarik ke Aceh dan membuat Aceh menjadi pusat dari beasiswa Islam. Sultan Iskandar Muda senang pada adat mistik Syamsuddin dari Pasai dan Sufi Hamzah Pansuri, yang keduanya saat itu diberikan tempat tinggal di Istana Aceh.

Karya sejumlah penulis ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan hal ini memiliki dampak yang cukup besar di semua Semenanjung. Keduanya setelah itu dikritik atas gagasan sesat mereka oleh Nuruddin Ar-Raniri, yang hadir di Istana Aceh ketika kepemimpinan berada di bawah kekuasaan Iskandar Thani, dan akhirnya kitab-buku hasil karya mereka diperintahkan untuk dimusnahkan dan dibakar.

Pemberian Penghormatan Dan Gelar Pahlawan Nasional

Sumber: @ayat_islam87 via Instagram
Tepatnya pada tanggal 14 September 1993, Pemerintah Republik Indonesia akhirnya memberikan suatu penganugerahan kepada sultan Iskandar Muda dengan gelar Pahlawan Nasional atas jasa dan perjuangannya dalam memperjuangkan kemerdekaan, yakni dengan dikeluarkannya Kepres No. 77/TK/1993.

Tidak hanya itu, namanya juga diabadikan menjadi nama sebuah Bandar Udara Internasional yang ada di Aceh, yang kemudian diberi nama Sultan Iskandar Muda International Airport.

Demikianlah informasi yang dapat abang nji informasikan kepada sahabat sekalian tentang Biografi Sultan Iskandar Muda Sang Pahlawan Nasional Dari Aceh Yang Gagah Berani. Semoga, kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari informasi yang telah disampaikan di atas.

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar