Biografi Al-Farabi Ilmuan Muslim Yang Berpengaruh Lengkap Beserta Penjelasan

Biografi Al-Farabi - Al-Farabi adalah satu diantara ilmuan Islam, yang memiliki nama lain diantaranya ialah Abu Nashr Muhammad Ibn Thorkhan Ibn Al-Uzalagh Al-Farabi, dikalangan orang-orang latin yakni pada abad pertengahan Al-Farabi lebih terkenal dengan nama Abu Nashr. Al-Farabi sendiri lahir pada tahun 827 Masehi dan meninggal dunia di kota Damaskus pada umurnya yang mencapai  80 tahun pada bulan Rajab 339 Hijriah atau Desember 950 Masehi, yakni pada saat pemerintahan Khalifah Al Muthi’ dari dinasti Abbasiyah serta disemayamkan di luar gerbang kecil (al-bab al-saghir) kota sisi selatan.

Sebenarnya nama julukan Al-Farabi sendiri diambil dari nama kota Farab yang merupakan tempat ia dilahirkan, dan untuk lebih lengkapnya beliau dilahirkan di desa Wasij di Distrik Farab (Utrar, propinsi Transoxiana, Turkestan) pada tahun 257 Hijriah atau 870 Masehi, terkadang Beliau mendapatkan sebutan sebagai orang Turki, karena ayahnya adalah orang Iran yang menikahi ibu Al-Farabi yang merupakan wanita Turki.

Kisah Kehidupan Al-Farabi

Al-Farabi sendiri senang berpakaian rapi semenjak kecil. Ayahnya merupakan seorang opsir tentara Turki keturunan Persia, sedangkan ibu Al-Farabi merupakan orang Turki asli. Sejak awal dia digambarkan mempunyai kecerdasan yang istimewa dan juga talenta yang besar sehingga bisa menguasai hampir tiap subyek ataupun ilmu yang ia pelajari.

Pada waktu awal pendidikannya, Al-Farabi belajar tentang Al-Qur’an, tata bahasa, kesusasteraan, ilmu-ilmu agama yang meliputi fiqih, tafsir dan juga ilmu hadits serta aritmetika dasar. Al-Farabi pada saat muda belajar ilmu-ilmu islam dan juga musik di Bukhara, serta tinggal di Kazakhstan hingga usia 50 tahun. Setelah itu, ia pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu di tempat tersebut selama 20 tahun lamanya.

Setelah sekitar 10 tahun lamanya tinggal di Baghdad, yakni sekitar tahun 920 Masehi, Al Farabi selanjutnya mengembara di kota Harran yang berlokasi di utara Syria, dimana waktu itu Harran adalah pusat kebudayaan Yunani di Asia kecil. Dia selanjutnya belajar filsafat dari Filsuf Kristen terkenal yang bernama Yuhana bin Jilad. Pada tahun 940 Masehi, Al Farabi kemudian meneruskan pengembaraannya ke Damaskus serta berjumpa dengan Sayf Al Dawla al Hamdanid yang merupakan Kepala daerah (distrik) Aleppo, yang terkenal sebagai simpatisan para Imam Syi’ah.

Al-Farabi ialah seorang pengamat filsafat Yunani yang ulung di dunia Islam. Walaupun kemungkinan dia tidak berbahasa Yunani, dia kenal  baik dengan banyak filsuf Yunani yaitu Plato, Aristoteles dan juga Plotinus. Perannya  di berbagai bidang ilmu pengetahuan dimulai dari bidang matematika, filosofi, pengobatan, bahkan juga musik. Al-Farabi telah menulis beberapa buku mengenai sosiologi dan juga sebuah buku yang sangat penting dalam bidang musik yakni Kitab al-Musiqa.

Tidak hanya itu, dia bisa juga memainkan serta telah membuat bebagai alat musik. Al-Farabi terkenal dengan julukan guru kedua setelah Aristoteles, lantaran kemampuannya untuk memahami Aristoteles yang terkenal sebagai guru pertama dalam ilmu filsafat. Ia merupakan filsuf Islam pertama yang berusaha menghadapkan, mempertalikan serta menyesuaikan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam dan berusaha membuatnya dapat dimengerti dalam konteks agama-agama wahyu.

Al-Farabi pada saat itu hidup pada daerah otonomi di bawah pengaruh kekuasaan pemerintahan Sayf al Dawla  dan juga di masa pemerintahan dinasti Abbasiyyah, yang bersifat Monarki yang saat itu dipimpin oleh seorang Khalifah. Dia lahir dimasa kepemimpinan Khalifah Mu’tamid yang berkuasa dari tahun 869 hingga 892 Masehi, serta wafat pada saat pemerintahan Khalifah Al-Muthi’ yang berkuasa dari tahun 946 hingga 974 Masehi. dimana periode tersebut dipandang seperti periode yang paling buruk lantaran tidak adanya kestabilan dalam politik.

Dalam situasi demikian, Al-Farabi berkenalan dengan pemikiran-pemikiran dari beberapa pakar Filsafat Yunani seperti Plato dan juga Aristoteles serta berusaha menggabungkan ide ataupun pemikiran-pemikiran Yunani Kuno dengan pemikiran Islam guna terbentuknya sebuah negara pemerintahan yang baik.

Hasil Pemikiran Al-Farabi

Sepanjang hidupnya Al Farabi memiliki banyak karya. Apabila dilihat dari Ilmu Pengetahuan, karya-karya al- Farabi bisa ditinjau menjdi 6 sisi yaitu Ilmu-ilmu Matematika, Logika, Teologi, Ilmu Alam, Bunga rampai (Kutub Munawwa’ah) dan Ilmu Politik serta Kenegaraan.

Karyanya yang paling populer ialah Al-Madinah Al-Fadhilah (Kota atau Negara Utama) yang mengulas tetang pencapaian kebahagian lewat kehidupan politik serta jalinan di antara rezim yang terbaik menurut pemahaman Plato dengan hukum Ilahiah islam. Filsafat politik Al-Farabi, utamanya gagasannya tentang penguasa kota utama menggambarkan rasionalisasi ajaran Imamah dalam Syi'ah.

Al Farabi tinggalkan banyak karya tulis, yang pada intinya dapat digolongkan dalam beberapa tema, seperti logika, fisika, metafisika, politik, astrologi, music, serta tulisan-tulisan yang berisi mengenai sanggahan pandangan filosof tertentu.

Karya-karya Al Farabi antara lain ialah:

1. Risalah Shudira Biha al Kitab (Risalah yang dengannya Kitab Bermula),

2. Risalah fi Jawab Masa’il Su’ila ‘Anha (Risalah mengenai Jawaban atas Pertanyaan yang Diajukan tentang-Nya),

3. Syarh Kitab al Sama’ al Tabi’I li Aristutalis (Komentar atas Fisika Aristoteles),

4. Syarh Kitab al Sama’ wa al ‘Alam li Aristutalis (Ulasan atas Kitab Aristoteles mengenai Langit serta Alam Raya),

5. Al-Jami’u Baina Ra’yai Hakimain Afalatoni Al Hahiy wa Aristho-thails (Pertemuan/Penyatuan Opini di antara Plato dan juga Aristoteles),

6. Tahsilu as Sa’adah (Mencari Kebahagiaan),

7. Fushus al Hikam (Permata Kebijaksanaan), Fususu al Taram (Hakikat Kebenaran),

8. Kitab fi al Wahid wa al Wahdah (Kitab mengenai Yang Satu serta Yang maha Esa),

9. As Syiyasyah (Ilmu Politik),

10. Kitab al Millat al Fadlilah (Kitab mengenai Komunitas Utama),

11. Ihsho’u Al Ulum (Himpunan Berbagai Ilmu),

12. Arroo’u Ahl al-Madinah Al-Fadilah(Pemikiran-Pemikiran Penting Pemerintahan),

13. Al-Siyasah al-Madaniyah (politik pemerintahan).

Pemikiran mengenai Asal mula Negara dan Warga Negara

Menurut Al-Farabi manusia adalah warga negara yang merupakan satu diantara syarat terbentuknya sebuah negara. Oleh sebab itu, manusia tidak bisa hidup sendiri serta senantiasa memerlukan pertolongan orang lain, maka dari itulah manusia menjalin suatu hubungan dengan manusia lainnya.

Selanjutnya, dalam proses yang panjang, pada akhirnya terbentuklah suatu Negara. Menurut Al-Farabi, negara atau kota adalah satu kesatuan masyarakat yang paling mandiri serta paling dapat memenuhi kebutuhan hidup diantaranya sandang, pangan, papan, dan juga keamanan, serta dapat mengendalikan ketertiban masyarakat, sehingga terciptanya suatu pencapaian kesempurnaan untuk masyarakat berubah menjadi mudah. Negara yang masyarakatnya telah mandiri serta mempunyai tujuan untuk meraih kebahagiaan yang nyata, menurut al-Farabi, ialah Negara Utama.

Menurut dia, warga negara adalah faktor yang paling pokok pada suatu negara. yang disertai dengan semua prinsip-prinsipnya yang bermakna dasar, titik awal, prinsip, ideologi, serta ide dasar. Adanya warga negara begitu penting karena warga negaralah yang tentunya dapat menentukan sifat, corak dan jenis suatu negara. Menurut Al-Farabi kemajuan dan juga kualitas suatu negara ditentukan oleh warga negaranya. Mereka memiliki hak untuk memilih seseorang pemimpin atau kepala negara, yakni seorang yang paling unggul serta paling sempurna antara mereka.

Al-Farabi membagi negara ke dalam lima bentuk , yakni:

1. Negara Utama (Al-Madinah Al-Fadilah) yakni negara yang di pimpin oleh para nabi serta diteruskan oleh para filsuf, yang dimana penduduknya merasakan suatu kebahagiaan.

2. Negara para orang Bodoh (Al-Madinah Al-Jahilah) yakni negara yang penduduknya tidak mengenal suatu kebahagiaan.

3. Negara para orang Fasik yakni negara yang penduduknya tahu akan suatu kebahagiaan, akan tetapi perilaku mereka sama juga dengan penduduk negara para orang bodoh.

4. Negara yang Berubah-ubah (Al-Madinah Al-Mutabaddilah) yakni, dimana pada mulanya penduduk negara ini mempunyai pemikiran dan juga opini seperti masyarakat negara utama, akan tetapi setelah itu mengalami kehancuran.

5. Negara Sesat (Al-Madinah Ad-dallah) yakni negara yang di pimpin oleh orang yang merasa dirinya mendapatkan wahyu dan setelah itu dia menipu banyak orang dengan perkataan serta tindakannya.

Teori Akal Al-Farabi

Al Farabi sendiri membagi atau mengelompokkan akal jadi dua, yakni Akal praktis, yakni akal yang menyimpulkan apa yang harus di lakukan, dan juga Akal teoritis, yakni akal yang membantu menyempurnakan jiwa. Akal teoritis ini di terbagi lagi menjadi dua yaitu :

1. Akal fisik (material) atau seperti kerap di ucapkan oleh Al Farabi sebagai akal potensial, ialah jiwa atau sisi jiwa atau unsur yang memiliki kemampuan mengabstraksi dan juga menyerap esensi pada tiap hal yang ada tanpa harus diikuti dengan materinya. Akal terbiasa atau bakat, adalah suatu rasionalisasi dari akal fisik, saat akal fisik sudah mengabtraksi maka dengan demikian seseorang selanjutnya akan mencari objek guna membuktikan fisik tersebut sebab akal bakat bisa menjadi aktif apabila disandarkan pada objek rasional yang dipikir oleh seseorang, sedangkan objek rasional yang belum dipikirkan ialah potensi.

2. Akal diperoleh (acquired). Saat akal aktual menghasilkan semua objek akal karena itu seseorang akan jadi manusia sejati dengan menggunakan realisasi akal yang sudah ditingkatkan.

Teori Sepuluh Kecerdasan Al-Farabi

Teori ini menduduki bagian penting dalam filsafat muslim, dia menjelaskan dua dunia, langit serta bumi, dia menerjemahkan gejala pergerakan dua perubahan. Dia adalah dasar fisika dan juga astronomi. Sektor utama garapannya adalah memecahkan permasalahan yang Esa serta yang banyak dan juga pembandingan di antara yang berubah serta yang tetap.

Al Farabi memiliki pendapat jika yang Esa, yakni Tuhan, yang ada dengan sendirinya. Karenanya, dia tidak membutuhkan yang lain untuk ada. Dia mampu mengetahui dirinya sendiri. Menurut Al Farabi, Tuhan ialah akal pikiran yang bukan berbentuk benda. Tuhan tahu zat-Nya serta tahu jika Dia menjadi dasar susunan wujud yang paling sempurna.

Jadi, bisa dikatakan jika akal Tuhan ialah aqil (berpikir), serta ma’qul (dipikir), lewat ta’aqul, Tuhan dapat memulai ciptaan-Nya. Disaat Tuhan mulai memikirkan, timbullah suatu wujud baru ataupun akal baru  yang disebut Al Farabi dengan istilah Al Aqlul Awwal (akal yang pertama).

Berkelanjutan dari akal pertama yang ta’aqul mengenai pemikiran Tuhan serta dirinya sendiri. Dengan ta’aqul Tuhan melimpah ke Al Aqlits Tsani (akal ke dua), yang bisa memunculkan al Falaqul Aqsha (langit yang paling luar), karena itu muncul sifat pluralitas dari alam makhluk.

Al Aqlits Tsani, memimbulkan Al Aqluts Tsalis (akal ketiga) bersama dengan munculnya Karatul Kawakibits Tsabitah, langit bintang-bintang tetap. Selanjutnya Al Aqluts Tsalis melimpah ke Al Aqlur Rabi’ (akal ke empat) yang memunculkan langit bintang Zuhal (Saturnus). Selanjutnya, melimpah ke Al Aqlul Khamis (akal ke lima) dengan timbulnya langit bintang Musytari (Yupiter). Lalu ke Al Aqlul Sadis (akal ke enam) bersama dengan bintang Mirris (Mars).

Seterusnya ke Al Aqluts Tsabi’ (akal ke tujuh) dengan timbulnya langit Matahari. Al Aqluts Tsamin (akal ke delapan) bersama dengan langit bintang Zuhrah (Venus). Al Aqlut Tasi’ (akal ke sembilan) dengan langit bintang ‘Utharid (Merkurius). Pada akhirnya, Al Aqlul ‘Asyir (akal kesepuluh) ini diberi nama Al Aqlul Fa’al (akal yang aktif bekerja), orang barat menyebutnya dengan kata Active Intellect.

Jumlahnya inteligensi ialah sepuluh, terdiri atas inteligensi pertama serta sembilan inteligensi planet serta lingkungan. Lewat ajaran sepuluh inteligensi ini, Al Farabi pecahkan permasalahan gerak serta perubahan. Dia memakai teori ini saat pecahkan permasalahan Yang Esa dan juga yang banyak, serta dalam menggabungkan teori materi Aristoteles dengan ajaran Islam mengenai penciptaan.

Itulah informasi yang abang nji informasikan kepada sahabat sekalian tentang Biografi Al-Farabi Ilmuan Muslim Yang Berpengaruh Lengkap Beserta Penjelasan. Semoga artikel ini dapat menjadi referensi bagi sahabat-sahabat sekalian dalam mengenal ilmuan-ilmuan Islam.

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar