9 Peninggalan Kerajaan Islam Gowa Tallo Yang Bersejarah

Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo - Kesultanan Makassar adalah kesultanan Islam yang berada di Sulawesi bagian Selatan pada abad 16 Masehi. Pada awalnya kesultanan ini hanya terdiri dari kumpulan kerajaan kecil yang saling bertikai antara satu dengan yang lainnya. Kemudian, daerah ini akhirnya disatukan atau dikumpulkan oleh kerajaan kembar yakni kerajaan Gowa dan kerajaan Tallo sehingga menjadi kesultanan makassar.

Cikal bakal menurut berdirinya kesultanan Makassar yakni impak kerajaan Gowa

Dengan adanya kisah sejarah yang menceritakan tentang betapa besar dan eksisnya kerajaan ini pada zamannya, tentunya banyak pula peninggalan bersejarah dari kerajaan ini yang tentunya masih dapat kita jumpai pada saat ini. Untuk itu berikut Abang Nji informasikan kepada sahabat sekalian tentang 9 Peninggalan Kerajaan Islam Gowa Tallo Yang Bersejarah.

1. Benteng Ford Ratterdam (Benteng Ujung Pandang)

Sumber: @marithagraph via Instagram

Benteng Ford Ratterdam atau juga dikenal dengan Benteng Ujung Pandang oleh masyarakat setempat merupakan sebuah bangunan benteng yang berasal dari peninggalan kerajaan Gowa Tallo yang berlokasi di Pesisir Barat pantai kota Makassar, Sulawesi Selatan. Benteng ini pertama kali dibangun oleh raja Gowa ke 9 yaitu raja Manringau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' Kallona yaitu pada tahun 1545 Masehi.

Pada awalnya, bangunan benteng ini dibangun dengan bahan dasar tanah liat, akhirnya pada pemerintahan raja Gowa ke 14 yitu Sultan Alauddin kemudian melakukan renovasi atau perbaikan terhadap bangunan benteng dengan menggunakan bahan dasar batu padas yang didapat dari pegunungan Karst yang terletak di Maros.

Benteng ini memiliki bentuk yang menyerupai seekor penyu yang ingin merangkak turun ke lautan. Dilihat dari segi bentuknya, filosofi dari kerajaan Gowa terlihat jelas dari bangunan ini yang berarti penyu dapat hidup di darat dan juga di laut yang artinya kerajaan ini dapat bertahan terhadap apapun ancaman yang berasal dari luar maupun dari dalam kerajaan itu sendiri.

Perlu kita ketahui, bahwa pada asal mulanya benteng ini bernama benteng Ujung Pandang. Akan tetapi, setelah kerajaan Gowa Tallo menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu isi pasalnya mewajibkan kerajaan ini untuk menyerahkan benteng kepada pasukan Belanda.

Setelah belanda menguasai benteng ini, akhirnya nama benteng ini diubah menjadi Fort Rotterdam oleh Cornelis Speelman dengan tujuan untuk mengenang daerah tempat kelahirannya di Belanda. Benteng ini pun dijadikan Belanda sebagai tempat untuk penampungan rempah-rempah Indonesia bagian Timur.

Saat ini, di kompleks Benteng Fort Rotterdam terdapat sebuah museum la Galigo yang di dalam museum tersebut terdapat banyak sekali referensi tentang sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) serta daerah lainnya yang berada di Sulawesi Selatan. Sebagian dari fisik benteng ini masih tetap utuh dan telah menjadi objek wisata yang disarankan untuk dikunjungi saat berada di kota Makassar.

2. Batu Pallantikang (Batu Pelantikan)

Batu Pallantikang atau disebut juga batu pelantikan merupakan sebuah batu andesit yang posisinya diapit oleh batu kapur. Batu peninggalan sejarah kerajaan Gowa Tallo ini dianggap oleh sebagian orang memiliki tuah karena dipercaya sebagai batu yang asalnya dari khayangan.

3. Masjid Katangka

Sumber: pedomankarya.co.id

Masjid Katangka atau dikenal juga dengan masjid Al-Hilal merupakan salah satu masjid tertua yang ada di Sulawesi Selatan. Masjid ini diberikan nama Katangka karena terletak di kel. Katangka, kec. Somba Opu, kab. Gowa. Selain itu, ada juga pendapat yang mengatakan masjid ini diberi nama Katangka karena bahan dasar pembuatan masjid ini berasal dari pohon Katangka.

Masjid ini merupakan masjid peninggalan dari kerajaan Gowa tallo yang diperkirakan didirikan pada tahun 1603, akan tetapi ada beberapa sejarawan yang ragu terkait hal ini. Pendapat lain menjelaskan bahwa masjid ini didirikan pada awal abad 18.

Masjid Katangka sendiri dibangun pada lahan dengan luasan 150 meter persegi. Terdapat ciri khas pada masjid ini yakni mempunyai satu kubah, atap dua lapis yang menyerupai bangunan Joglo. Masjid ini mempunyai 4 tiang penyangga yang memiliki bentuk bulat serta memiliki ukuran yang luas di bagian tengahnya. Masjid ini memiliki jendela yang berjumlah 6 buah dan pintu dengan jumlah 5 buah.

Terdapat makna dari arsitektur masjid ini, dimana atap dua lapis berarti kalimat syahadat , empat tiang penyangga berarti sahabat nabi, 6 jendela berarti rukun iman dan 5 pintu berarti sholat wajib 5 waktu. Selain keunikan di atas terdapat juga keunikan di bagian kubahnya yang mengandung arsitektur Lokal dan Jawa, Mimbar yang dipengaruhi oleh budaya Cina dimana atap mimbar yang mempunyai kesamaan dengan atap klenteng serta tiang yang mengandung arsitek bangunan Eropa.

4. Masjid Jongayya (Babul Firdaus)

Sumber: ramadhan.rakyatku.com

Masjid Jongayya  atau dikenal juga dengan nama Babul Firdaus adalah masjid yang dibangun pertama kali oleh raja Gowa ke 34 yaitu Imakkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang Sultan Husain Tumenanga ri Bundu’na saat perayaan maulid Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam sekitar tahun 1314 Hijriah.

Berdasarkan keterangan masyarakat setempat masjid ini merupakan masjid ketiga yang didirikan oleh kerajaan Gowa selain masjid Jami' Nurul Mu'minin dan masjid Katangka. Arsitektur dari ketiga masjid ini hampir sama karena masih dibangun oleh keturunan raja Gowa. Tujuan dibangunnya masjid ini dikarenakan berpindahnya pusat kerajaan Gowa dari daerah Katangka ke Jongayya.

Dikarenakan lokasinya berada di pusat kerajaan, maka masjid ini juga menjadi tempat pertemuan raja-raja dalam mengatur strategi untuk melawan penjajahan Belanda sekaligus juga sebagai tempat menuntut ilmu agama Islam. Seiring berjalannya waktu masjid ini kemudian diperluas dari yang luas awalnya 100 meter persegi menjadi 750 meter persegi dan saat ini luasan masjid telah mencapai 2000 meter persegi.

5. Masjid Jami' Nurul Mu'minin

Sumber: travel.rakyatku.com

Masjid Jami' Nurul Mu'minin adalah masjid peninggalan kerajaan Gowa Talo yang berada di jalan Urip Sumoharjo, Makassar. Masjid ini diperkirakan dibangun sekitar 1700 tahun yang lalu. Konon katanya masjid ini didirikan oleh salah satu putra kerajan Gowa yang bernama Andi Cincing Karaeng Talengkese.

Tujuan dari pembangunan masjid ini saat itu yakni untuk membantu masyarakat yang kesulitan untuk menuju tempat sholat yang jaraknya cukup jauh yakni masjid Jongayya.

6. Kompleks Makam Katangka

Sumber: @sunartihajjah via Instagram

Kompleks Makam Katangka terletak di areal masjid Katangka. Di makam ini terdapat pemakaman dari keluarga dan keturunan raja-raja Gowa termasuk di dalamnya sultan Hasanudin.

Untuk mengenali makam sangat mudah, dimana makam raja-raja diatapi dengan kubah sedangkan makam pemuka agama serta keturunan raja hanya diberi tanda dengan batu nisan biasa saja.

7. Makam Syekh Yusuf Tajul Khalwati

Sumber: @daengserang55 via Instagram

Syekh Yusuf Tajul Khalwati atau dikenal juga dengan nama Syekh Yusuf Almaqassari Al-Bantani adalah seorang ulama besar yang lahir di Gowa pada 3 Juli 1926. Beliau adalah keturunan dari pasangan Abdullah dan Aminah. Saat ia lahir, ia diberikan kehormatan karena diberikan nama langsung oleh Sultan Alauddin, nama yang diberikan adalah Muhammad Yusuf.

Syekh Yusuf memiliki pengaruh yang sangat besar bagi perlawanan rakyat Gowa Tallo terhadap para penjajah. Dengan pengaruhnya yang besar ini membuat penjajah merasa terusik,  ia kemudian diasingkan ke Srilanka, India pada September 1684 dan kemudian ke Cape Town, Afrika Selatan. Saat ia meninggal kemudian jenazahnya dipulangkan ke daerah asalnya yaitu Makassar dan dimakamka tepatnya du dataran rendah Lakiung sebelah Barat masjid Katangka.

8. Istana Balla Lompoa

Sumber: @amytriyulin via Instagram

Istana ini juga bagian dari peninggalan sejarah kerajaan Gowa Tallo yang berlokasi di kec. Somba Opu, Kab. Gowa tepatnya di kelurahan Sungguminasa. Istana ini dibangun pertama kali oleh raja Gowa ke 3 yaitu  I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bonionompo Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin Tumenangari Sungguminasa.

Setelah dilakukan renovasi, saat ini tiang istana berjumlah 54 tiang dan bisa jadi kedepannya akan ada penambahan kembali. Istana ini memiliki 6 jendela di sisi kiri dan empat jendela depan yang memiliki fungsi sebagai Museum yang berguna dalam menyimpan benda-benda bersejarah kerajaan Gowa Tallo.

9. Benteng Somba Opu

Sumber: @fa_amelia via Instagram

Benteng Somba Opu merupakan benteng peninggalan sejarah kesultanan Gowa yang didirikan oleh raja Gowa ke 9 yakni Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna pada abad ke 16. Benteng ini dapat kita temui di jalan daeng Tata, kel. Benteng Somba Opu, kec. Barombong, kab.Gowa, Sulawesi Selatan.

Pada zamannya, tempat ini pernah menjadi pusat pelabuhan dan perdagangan rempah-rempah yang diperjual belikan untuk para pedagang baik dari Asia maupun Eropa. Akan tetapi, tempat ini berhasil dikuasai oleh VOC yaitu pada tahun 1969 yang kemudian dihancurkan hingga terendam oleh ombak.  Benteng ini kemudian ditemukan kembali pada kisaran tahun 1980 oleh para ilmuwan yang datang ke tempat itu.

Kemudian pada tahun 1990-an barulah benteng ini direkonstruksi ulang sehingga tampak lebih baik dari sebelumnya. Tempat ini pun kini telah menjadi wisata bersejarah karena terdapat rumah adat di dalamnya dan juga ada sebuah museum yang berisi benda-benda bersejarah peninggalan dari kerajaan ini. Tidak kalah menariknya, di tempat ini juga ditemukan sebuah meriam dengan ukuran panjang 9 meter dan berat kisaran 9.500 kilogram.

Itulah artikel tentang 9 Peninggalan Kerajaan Islam Gowa Tallo Yang Bersejarah yang dapat Abang Nji informasikan kepada sahabat sekalian. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan kita serta kecintaan kita kepada bangsa ini.

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar