9 Pahlawan Nasional Dari Aceh Yang Berjasa Bagi Indonesia

Pahlawan Nasional Aceh - Pahlawan Nasional ialah gelar penghargaan tingkat paling tinggi di Indonesia. Gelar ini diberi oleh Pemerintahan Indonesia atas aksi yang dianggap heroik serta didefinisikan sebagai aksi nyata yang bisa dikenang dan juga diteladani sepanjang waktu bagi masyarakat yang lain ataupun jasanya yang begitu luar biasa bagi kepentingan bangsa dan juga negara.

Pada provinsi Aceh terdapat nama-nama pahlawan nasional yang populer dan sering kita dengar seperti Cut Nyak Dhien dan Achmad Soebardjo. Akan tetapi selain 2 nama tersebut di Aceh juga terdapat pahlawan-pahlawan nasional lainnya yang jarang kita dengar namanya ataupu  tidak pernah terdengar sama sekali. Untuk itu, Abang Nji akan memberikan informasi kepada sahabat sekalian tentang 9 Pahlawan Nasional Dari Aceh Yang Berjasa Bagi Indonesia.

1. Cut Nyak Meutia

Sumber: @ruangbaca_matamerah via Instagram

Cut Nyak Meutia  merupakan seorang pahlawan nasional Aceh yang lahir di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, pada tahun 1870 serta wafat di Alue Kurieng, Aceh, pada tanggal 24 Oktober 1910. Dia disemayamkan di Alue Kurieng, Aceh.

Pada awalnya Cut Meutia lakukan perlawanan pada Belanda bersama dengan suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Akan tetapi pada bulan Maret 1905, Tjik Tunong berhasil diamankan pasukan Belanda serta dijatuhi hukuman mati di pinggir pantai Lhokseumawe. Sebelum ia wafat, Teuku Tjik Tunong memberi pesan pada sahabatnya Pang Nanggroe agar mau menikah dengan istrinya serta menjaga anaknya yang bernama Teuku Raja Sabi.

Cut Meutia setelah itu menikah dengan Pang Nanggroe sesuai dengan permintaan terakhir suaminya, serta bergabung dengan pasukan yang lain dibawah komando pimpinanTeuku Muda Gantoe. Dalam satu pertempuran dengan Korps Marechausée di Paya Cicem, Cut Meutia dan juga para wanita melarikan diri ke hutan. Pang Nagroe sendiri terus lakukan perlawanan sampai pada akhirnya gugur pada tanggal 26 September 1910.

Cut Meutia setelah itu bangkit dan terus lakukan perlawanan bersama dengan sisa-sisa pasukkannya. Dia menyerang serta merebut pos-pos kolonial Belanda sembari bergerak menuju ke arah Gayo melalui hutan belantara. Akan tetapi pada tanggal 24 Oktober 1910, Cut Meutia bersama dengan pasukannya bentrokan dengan Marechausée di Alue Kurieng. Akhirnya alam pertarungan itu Cut Meutia pun gugur mengikuti jejak suaminya.

Pemberian Kehormatan dan Gelar Pahlawan Nasional

Pada tanggal 19 Desember 2016, atas pengorbanan dan jasanya terhadap dalam melawan penjajah Belanda, kemudian Pemerintah Indonesia mengabadikannya di dalam  uang kertas rupiah baru Republik Indonesia, yakni pada pecahan Rp1.000.

Selain itu, ia pun juga ditetapkan sebagai daftar dari salah satu pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada tahun 1964.

2. Cut Nyak Dhien

Sumber: @galeriantiik via Instagram

Cut Nyak Dhien merupakan seorang pahlawan nasional dari Aceh yang lahir di Lampadang, Kerajaan Aceh,  pada tahun 1848 serta wafat di Sumedang, Jawa Barat, pada tanggal 6 November 1908. Beliau disemayamkan di Gunung Puyuh, Sumedang.  Seusai wilayah VI Mukim diserang oleh pasukan Belanda, kemudian dia menyelamatkan diri, sementara suaminya Ibrahim Lamnga berperang melawan pasukan Belanda.

Karena peperangan tersebut, akhirnya Ibrahim Lamnga di Gle Tarum gugur pada tanggal 29 Juni 1878. Gugurnya Ibrahim Lamnga di Gle Tarum membuat tekad dan niat Cut Nyak Dhien lebih jauh dalam perlawanannya menentang pasukan Belanda.

Pada tahun 1880, Cut Nyak Dhien kemudian menikah kembali dengan Teuku Umar, dikarenakan dia dijanjikan bisa turut serta bertarung di medan perang apabila menerima lamaran itu. Dari pernikahan ini Cut Nyak Dhien mempunyai seseorang anak yang dinamakan Cut Gambang.

Seusai pernikahannya dengan Teuku Umar, Cut Nyak Dhien bersama dengan Teuku Umar berperang bersama dalam menentang maupun melawan pasukan Belanda. Akan tetapi, dikarenakan pertarungan yang sengit melawan Belanda pada tanggal 11 Februari 1899 Teuku Umar pun gugur dalam medan pertempuran.  Perihal ini membuat Cut Nyak Dhien berusaha sendirian di pedalaman Meulaboh bersama dengan pasukan kecilnya.

Umur Cut Nyak Dhien yang kala itu cukup tua dan tubuh  yang mulai digerogoti berbagai macam penyakit seperti encok serta gangguan penglihatan menyebabkan pasukannya yang bernama Pang Laot memberitahukan keberadaannya lantaran kasihan dengan kondisi Cut Nyak Dhien  Pada akhirnya, ia diamankan serta dibawa oleh pasukan Belanda ke Banda Aceh. Disana dia dirawat dan juga kondisi tubuhnya perlahan mulai pulih.

Kehadiran Cut Nyak Dhien yang dipandang masih memberi dampak kuat pada perlawanan rakyat Aceh dan hubungan dengan pejuang Aceh yang belum tertangkap, membuat ia akhirnya diasingkan oleh pasukan Belanda ke daerah Sumedang. Lantaran penyakit dan usia yang  tidak muda lagi, akhirnya Cut Nyak Dhien wafat pada tanggal 6 November 1908 serta disemayamkan di Gunung Puyuh, Sumedang. Nama Cut Nyak Dhien saat ini diabadikan menjadi nama Bandar Udara Cut Nyak Dhien Nagan Raya di Meulaboh.

Gelar Pahlawan Nasional Cut Nyak Dhien

Makam Cut Nyak Dhien sendiri, baru ditemukan lokasinya pada kisaran tahun 1959. Berdasarkan permintaan sang Gubernur Aceh saat itu yakni Ali Hasan. Akhirnya Cut Nyak Dhien ditetapkan oleh Presiden Soekarno sebagai salah satu orang yang digelari Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964.

3. Teuku Umar

Sumber: @galeriantiik via Instagram
Teuku Umar juga termasuk ke dalam daftar pahlawan nasional dari aceh yang lahir di Meulaboh pada tahun 1854 serta wafat di tempat yang sama dengan daerah kelahirannya yakni di Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899. Dia terkenal sebagai pahlawan asal Aceh yang berjuang melalui cara berpura-pura bekerja sama dengan pasukan Belanda serta terkenal pula dengan taktik perang gerilyanya. Dia menentang pasukan Belanda disaat telah berhasil mengumpulkan senjata serta uang yang lumayan banyak.

Kisah Wafatnya Teuku Umar

Tepatnya pada Februari 1899, Jenderal Van Heutsz mendapatkan laporan dari mata-matanya tentang kehadiran Teuku Umar di Meulaboh, serta segera memposisikan beberapa pasukan yang cukup kuat di wilayah perbatasan Meulaboh. Pada malam hari menjelang tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar bersama dengan pasukannya tiba di pinggir kota Meulaboh. Pasukan Aceh pun sangat kaget disaat pasukan Van Heutsz mencegat.

Posisi pasukan Teuku Umar saat itu tidak memberikan keuntungan serta mustahil untuk mundur. Satu-satunya cara guna menyelamatkan pasukannya ialah dengan cara berperang melawan pasukan Belanda. Dalam pertarungan itu Teuku Umar gugur tertembak peluru lawan yang menembus bagian dadanya.

Jenazah Teuku Umar kemudian disemayamkan di Mesjid Kampung Mugo di Hulu Sungai Meulaboh. Mendengar berita tentang gugurnya suaminya dalam pertempuran, Cut Nyak Dhien benar-benar sangat terpukul, akan tetapi bukan berarti perjuangan melawan Belanda telah selesai. Dengan gugurnya suaminya itu, Cut Nyak Dhien semakin memiliki tekad untuk melanjutkan perjuangan rakyat Aceh dalam menentang Belanda. Dia juga menggantikan pimpinan perlawanan para pejuang Aceh setelah wafatnya Teuku Umar.

Gelar Pahlawan Nasional Teuku Umar

Atas dedikasi, jasa dan perjuangannya dalam menentang pasukan penjajah Belanda, Teuku Umar dianugerahi gelar sebagai salah satu daftar Pahlawan Nasional Indonesia. Nama Teuku Umar sendiri juga diabadikan menjadi nama jalan di beberapa wilayah di tanah air. Satu diantara kapal perang TNI AL pun diberi nama KRI Teuku Umar. Tidak hanya itu Universitas Teuku Umar di Meulaboh pun dinamakan sesuai nama beliau.

Sumber: pahlawancenter.com

4. Sultan Iskandar Muda

Sultan Iskandar Muda merupakan seorang pahlawan nasional dari Aceh yang lahir di Banda Aceh, pada tahun 1593 dan wafat  di tempat yang sama dengan tempat kelahirannya yakni di Banda Aceh pada tanggal 27 Desember 1636 yakni pada usianya yang mencapai 43 tahun. Beliau adalah sultan terbesar dalam periode Kesultanan Aceh, yang berkuasa dari tahun 1607 sampai 1636 Masehi.

Aceh sendiri mencapai masa kejayaan pada saat kepemimpinan sultan Iskandar Muda, dimana wilayah kekuasaannya yang kian besar serta rekam jejak internasionalnya menjadi pusat dari perdagangan serta pembelajaran mengenai Islam. Beliau sempat juga melakukan serangan kepada Portugis, akan tetapi serangan itu gagal, meski gagal Aceh masih sebagai kerajaan yang merdeka. Namanya saat ini diabadikan pada nama Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda yang ada di Aceh.

Pemberian Gelar Pahlawan Nasional

Pemerintah Indonesia kemudian memberikan gelar sebagai Pahlawan Nasional pada Sultan Iskandar Muda tepatnya pada 14 September 1993 atas jasa dan juga kejayaannya menciptakan sebuah dasar-dasar penting jalinan hubungan ketatanegaraan serta atas keagungan beliau, yaitu dengan dikeluarkannya Kepres No. 77/TK/1993.

5. Teungku Chik di Tiro

Sumber: @philately_bali via Instagram

Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman merupakan salah satu pahlawan nasional Indonesia yang lahir di Tiro, Pidie, pada tanggal 1 Januari 1836 serta wafat di Aneuk Galong, Aceh Besar, pada tanggal 31 Januari 1891 pada usianya yang mencapai 55 tahun.

Disaat Aceh Besar takluk oleh pasukan kolonial  Belanda, Teuku Cik Di Tiro hadir untuk menjadi komando pertempuran. Pada tahun 1881, dia sukses mengambil alih benteng Belanda Lam Baro, Aneuk Galong serta berhasil membuat pasukan Belanda kelabakan.

Teuku Cik Di Tiro merupakan pahlawan nasional dan juga tokoh penting yang berjasa menentang kolonial Belanda. Teuku Cik Di Tiro memiliki nama asli yakni Muhammad Saman.  Saat masa kecil, ia di besarkan dalam lingkungan yang taat pada perintah agama.

Cik Di Tiro adalah keturunan dari pasangan Teuku Syekh Ubaidillah dan juga Siti Aisyah. Satu diantara cucunya yakni Hasan Di Tiro yang merupakan pendiri sekaligus pemimpin dari Gerakan Aceh Merdeka. Dia amat dihormati lantaran pengetahuan serta keberaniannya menentang imperialisme serta kolonialisme.

Untuk memperdalam pengetahuan dan ilmu agamanya, Cik Di Tiro banyak berguru dan belajar pada banyak ulama kondang di wilayah Tiro. Karena Itu jua lah beliau dia di panggil dengan panggilan Teuku (Teungku) Cik Di Tiro. Dia memang terkenal sebagai anak yang menyukai belajar agama dan juga memahami ilmu-ilmu baru.

Sewaktu melaksanakan ibadah haji di Mekkah, Saudi Arabia, dia terus memperdalam ilmu pengetahuan agamanya di Tanah Suci. Dia di besarkan pada zaman dimana pasukan Belanda berupaya menundukkan bumi Aceh pada tahun 1873. Aceh Besar kala itu sukses ditaklukkan serta ada dalam pengaruh kekuasaan pasukan Belanda.

Sewaktu ada di Mekkah dalam rangka untuk menunaikan ibadah haji, Cik Di Tiro belajar mengenai beberapa cara menentang kolonialisme serta imperialisme. Waktu kembali lagi ke Aceh, dia dipilih menjadi pemimpin gerakan yang berbuntut pecahnya pertarungan menentang Belanda.

Lantaran semangat juangnya, dia diberikan julukan sebagai Panglima Sabil. Kesultanan Aceh menaruh rasa percaya yang tinggi kepada beliau untuk menjadi pemimpin perang, dan juga perjuangan dijalankan atas dasar ilmu agama serta rasa cinta akan tanah air.

Dia dan juga pasukannya sukses mengambil alih daerah jajahan yang awalnya dikuasai oleh pasukan Belanda. Pada tahun 1881, benteng Belanda di Indrapura juga sukses diambil alih oleh pasukan yang dipimpin oleh Cik Di Tiro.  Setelah itu benteng Lambaro, Aneuk Galong, dan juga tempat yang lain juga berhasil ia ambil alih bersama pasukannya.

Pulau Breuh juga ikut mendapat serangan, dari sana pasukan Cik Di Tiro punya tujuan untuk mengambil alih Banda Aceh. Pasukan Belanda benar-benar kelabakan dan wilayah Aceh yang masih dikuasai oleh Belanda tidak lebih dari 4 kilometer persegi saja.

Serangan yang dilancarkan Teuku Cik Di Tiro bersama pasukannya layaknya seperti singa. Pasukan Belanda memilih tumbang dalam nyala api yang membakar benteng ketimbang menyerah.

Belanda juga makin tertekan serta hanya bertahan dalam benteng di daerah Banda Aceh. Guna mempertahankan wilayah yang mereka kuasai, Belanda sangat terpaksa memakai strategi uni konsentrasi (concentratie stelsel), yakni strategi dengan cara mendirikan benteng disekelilingnya.

Merasa kelabakan dengan serangan Cik Di Tiro serta pasukannya, Belanda lantas mendatangkan bantuan dengan peralatan perang dalam jumlah yang besar. Pada tahun 1873 Belanda lancarkan aksi balas dendam untuk merampas kembali wilayah kekuasaannya.

Pada serangan pertama, pasukan Belanda melaksanakan aksinya akan tetapi bisa dihentikan oleh pasukan Cik Di Tiro. Perang itu menelan korban dari pihak Belanda dengan tewasnya pimpinan mereka yakni Mayor Jenderal Kohler.

Kegagalan ini membuat pasukan Belanda semakin marah, pada akhirnya mereka memperkokoh barisan pasukannya dengan tembakan meriam dari kapal perang yang berlabuh di pantai. Akhirnya situasi tersebut memaksa pasukan Cik Di Tiro untuk mundur.

Gugurnya Cik Di Tiro

Belanda memahami jika sumber semangat perjuangan Aceh saat itu adalah Teuku Cik Di Tiro. Guna menghentikannya, Belanda lantas mencari strategi untuk membunuh Panglima Sabil itu. Mereka tak mau habis akal. Lantaran merasa terancam, Belanda pada akhirnya menggunakan "strategi liuk" dengan cara mengirimkan makanan yang dicampur dengan racun.

Cara licik itu dipakai Belanda untuk membunuh pahlawan kebanggaan rakyat Aceh itu. Mereka meracuni Teuku Cik Di Tiro dengan makanan melalui bantuan pekerja kerajaan. Saat itu Belanda merayu seorang yang jika bersedia untuk bekerja bersama akan diangkat menjadi Kepala Sagi.

Mereka membayar seseorang lelaki yang ingin memperoleh jabatan tinggi buat membunuh Cik Di Tiro. Selanjutnya,lelaki itu memerintah seseorang wanita untuk mencampurkan racun ke makanan dan juga memberikannya pada Cik Di Tiro.

Disaat Teuku Cik Di Tiro berkunjung ke Benteng Tui Seilimeung lalu shalat di masjid. Kemudian, wanita itu datang untuk menawarkan makanan yang telah diracun tersebut. Wanita ini adalah suruhan lelaki yang telah dibayar oleh pasukan Belanda. Tanpa ada berprasangka buruk sedikit pun, Cik Di Tiro pun menikmati makanan yang sudah dibubuhi racun tersebut.

Hal ini mengakibatkan, pahlawan Aceh tersebut jatuh sakit dan pada akhirnya hembuskan nafas terakhir di Benteng Aneuk Galong pada bulan Januari 1891. Selanjutnya jasadnya disemayamkan di Meureu, Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar bersama istrinya yaitu Teuku Mat Amin. Beberapa pejuang Aceh dan orang dekat keluarga Tiro juga disemayamkan di Meureue, termasuk cucunya Hasan Tiro.

Meskipun Teuku Cik Di Tiro sudah wafat, perjuangan rakyat Aceh menentang Belanda terus berkobar Peperangan menentang penjajah terus dilaksanakan hingga sekian tahun lamanya. Pada akhirnya, Belanda baru dapat menguasai Aceh kembali  pada tahun 1904..

Sepanjang Cik Di Tiro memimpin peperangan di Aceh, berlangsung 4 kali pergantian gubernur Belanda yakni, Abraham Pruijs van der Hoeven (1881-1883), Philip Franz Laging Tobias (1883-1884), Henry Demmeni (1884-1886) dan Henri Karel Frederik van Teijn (1886-1891).

Gelar Pahlawan Nasional

Untuk menghormati dedikasinya dan jasanya dalam menjaga Tanah Air dari intimidasi penjajah, dia memperoleh suatu penghargaan khusus dari pemerintah. Pemerintah Indonesia kemudian memberinya gelar sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 6 November 1973. Pemberian gelar pahlawan itu sesuai Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 087/TK/Tahun 1973.

6. Teuku Muhammad Hasan

Sumber: atjehpusaka.blogspot.com

Teuku Muhammad Hasan merupakan salah satu pahlawan nasional Indonesia yang lahir di Pidie, Aceh, pada tanggal 4 April 1906 serta wafat di Jakarta, pada tanggal 21 September 1997 pada usianya yang mencapai 91 tahun.

Beliau merupakan Gubernur pertama di wilayah Sumatra pertama sesudah Indonesia merdeka, Menteri Pendidikan serta Kebudayaan Indonesia pada tahun 1948 sampai tahun 1949 dalam Kabinet Darurat.

Ayah Teuku Muhammad Hasan bernama Teuku Bintara Pineung Ibrahim yang merupakan Ulèë Balang di Pidie (Ulèë Balang ialah golongan bangsawan yang memimpin suatu wilayah di Aceh. Sedangkan Ibunya bernama Tjut Manyak.

Ia bersekolah di Sekolah Rakyat (Volksschool) di Lampoeh Saka pada tahun 1914 hingga 1917. Pada tahun 1924 ia melanjutkan pendidikannya di sekolah berbahasa Belanda Europeesche Lagere School (ELS), dan kemudian diteruskan ke Koningen Wilhelmina School (KWS) di Batavia yang saat ini kita kenal dengan nama Jakarta. Setelah itu dia kembali melanjutkan pendidikannya dengan masuk Rechtschoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum).

Pemberian Kehormatan dan Gelar Pahlawan Nasional

Pada tahun 1990, Universitas Sumatra Utara menganugerahkan kepada Teuku Muhammad Hasan dengan gelar Doctor Honoris Causa. Selain itu, namanya juga diabadikan di jalan di Banda Aceh yang diberi nama Jalan Mr. Teuku Muhammad Hasan.

Teuku Muhammad Hasan kemudian diberi gelar sebagai salah satu daftar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia dengan Surat Keputusan Presiden Nomor 085/TK/Tahun 2006 tertanggal 3 November 2006

7. Teuku Nyak Arif

Sumber: rmol.id

Teuku Nyak Arif merupakan salah satu daftar Pahlawan Nasional Indonesia. Dia adalah Residen atau gubernur Aceh yang pertama menjabat dengan masa periode dari 1945 hingga 1946. Pada saat perjuangan kemerdekaan Indonesia, kala Volksraad (parlemen) didirikan, Teuku Nyak Arif dipilih menjadi wakil pertama dari daerah Aceh

Teuku Nyak Arief dilahirkan pada tanggal 17 Juli 1899 di Ulèë Lheue, Kutaraja yang saat ini kita kenal dengan nama Banda Aceh dan wafat pada tanggal 4 Mei 1946 di Takengon, Aceh Tengah pada usianya yang mencapai 46 tahun.  Ayahnya merupakan seorang Ulèë Balang bernama Teuku Nyak Banta, sedangkan ibunya bernama Cut Nyak Rayeuk.

Posisi Teuku Nyak Banta sendiri yakni sebagai Panglima Sagi 26 Mukim wilayah Aceh Besar. Teuku Nyak Arief adalah anak ke 3 dari 5 bersaudara, Adapun nama-nama saudara kandung Teuku Nyak Arief yakni Cut Nyak Asmah, Cut Nyak Mariah, Cut Nyak Samsiah serta Teuku Mohd. Yusuf

Perlu kita ketahui, Teuku Nyak Arief bersekolah di Volksschool yang merupakan sekolah rakyat di daerah Kutaraja, dia kemudian meneruskan pendidikannya di Sekolah Raja Kweekschool yang berada di daerah Bukit Tinggi, dan setelah itu melanjutkan kembali pendidikannya di Sekolah Pamongpraja OSVIA di Serang Banten. Sekolah ini adalah sekolah  khusus yang didirikan oleh Belanda untuk anak-anak raja Raja dan juga Bangsawan dari semua wilayah Indonesia.

Gelar Pahlawan Nasional

Atas jasa dan perjuangannya yang luar biasa, akhirnya Teuku Nyak Arif diberi gelar menjadi salah satu Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 071/TK/1974.

8. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo

Sumber: edukasiislam.over-blog.com
Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo merupakan salah satu pahlawan nasional yang lahir di Karawang, Jawa Barat, pada tanggal 23 Maret 1896 serta wafat pada tanggal 15 Desember 1978 pada usianya yang mencapai 82 tahun. Beliau merupakan tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat, serta seseorang Pahlawan Nasional Indonesia.

Dia merupakan Menteri Luar Negeri Indonesia yang pertama menjabat. Achmad Soebardjo sendiri adalah orang yang sangat cerdas dan hal ini dibuktikan dengan adanya gelar Meester in de Rechten, yang diraihnya di Universitas Leiden Belanda pada tahun 1933.

Ayah Achmad Soebardjo bernama Teuku Muhammad Yusuf, dimana masih keturunan bangsawan Aceh dari Pidie. Kakek Achmad Soebardjo yang berasal dari dari pihak ayahnya merupakan seorang Ulee Balang dan juga ulama di daerah Lueng Putu, sedangkan Teuku Yusuf merupakan pegawai pemerintahan dengan jabatan Mantri Polisi di daerah Teluk Jambe, Kerawang. Ibu Achmad Soebardjo bernama Wardinah yakni seorang wanita keturunan Jawa-Bugis dan merupakan anak dari Camat di Telukagung, Cirebon pada saat itu

Dia bersekolah di Hogere Burger School di Jakarta pada tahun 1917 yang setara dengan Sekolah Menengah Atas seperti saat ini. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Universitas Leiden, Belanda dan juga mendapatkan ijazah Meester in de Rechten yakni seorang sarjana hukum lulusan Belanda dengan keahlian di bidang undang-undang pada tahun 1933.

9. Laksamana Malahayati

Sumber: @saifulazi06 via Instagram
Laksamana Malahayati ialah salah pejuang wanita yang berasal dari Kesultanan Aceh. Ayahnya adalah Laksamana Mahmud Syah. Kakek dari garis keturunan ayahnya ialah Laksamana Muhammad Said Syah yang merupakan putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memegang tampuk kepemimpinan sekitar tahun 1530 hingga 1539 Masehi. Adapun Sultan Salahuddin Syah merupakan putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah yang memegang kekuasaan dari 1513 hingga 1530 Masehi yang merupakan pendiri dan perintis dari kerajaan Aceh Darussalam

Pada tahun 1585 hingga 1604 Masehi, ia memegang jabatan sebagai Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia serta Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV. Laksamana Malahayati saat itu memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee yakni pasukan yang terdiri dari janda-janda yang suaminya merupakan pahlawan yang telah gugur berperang menentang pasukan Belanda pada tanggal 11 September 1599, sekaligus juga membunuh Cornelis de Houtman dalam pertarungan dalam duel satu lawan satu di geladak kapal.

Karena keberaniannya yang luar biasa, ia memperoleh gelar Laksamana, selepas persitiwa tersebut ia pun lebih terkenal dengan nama Laksamana Malahayati. Saat wafat, jasad Malahayati disemayamkan  Lamreh, Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh.

Pemberian Kehormatan Dan Gelar Pahlawan Nasional

Tidak hanya diabadikan sebagai nama jalan di beberapa daerah di Indonesia, nama Malahayati juga diabadikan dalam Pelabuhan laut di Teluk Krueng Raya, Aceh Besar diberi nama dengan Pelabuhan Malahayat, Satu diantara kapal perang jenis Perusak Kawal Berpeluru Kendali (fregat) kelas Fatahillah kepunyaan TNI Angkatan Laut yang diberi nama KRI Malahayati. Kapal perang ini dibuat di galangan kapal Wilton-Fijenoord, Schiedam, Belanda pada tahun 1980, khusus buat TNI-AL.

Di dunia pendidikan, ada Universitas Malahayati yang ada di Bandar Lampung. Satu serial film Laksamana Malahayati yang bercerita kisah hidup Malahayati telah dibikin pada tahun 2007. Nama Malahayati juga  digunakan oleh Organisasi masyarakat Nasional Demokrat menjadi nama divisi wanitanya dengan nama lengkap Garda Wanita Malahayati

Atas jasa dan pengorbanannya dalam melawan penjajahan. Pemerintah  Indonesia, yang saat itu dipimpin oleh Presiden Joko Widodo menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2017 tanggal 6 November 2017.

Itulah informasi tentang 9 Pahlawan Nasional Dari Aceh Yang Berjasa Bagi Indonesia. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan sahabat-sahabat sekalian serta menjadikan pahlawan-pahlawan tersebut sebagai contoh dari semangat perjuangannya dalam mempertahankan bangsa ini dari pihak asing yang mengancam keutuhan negara.

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar