7 Hama Tanaman Jati Yang Sangat Merugikan

Hama Tanaman Jati - Hama adalah organisme yang dalam jumlah banyak dapat merusak tanaman serta dapat merugikan manusia. Perkembangan populasi hama yang sangat pesat tentunya tidak lepas dari aktivitas manusia yang tidak mementingkan keseimbangan lingkungan. salah satu contohnya adalah penanaman secara monokultur. Tanaman yang banyak dilakukan penanaman secara monokultur salah satunya adalah jati.

Jati adalah tumbuhan unggulan yang dikenal menjadi flora penghasil kayu menggunakan kualitas kelas atas, hal ini dikarenakan kayu jati mempunyai taraf keawetan

Pada artikel kali ini saya akan memberikan informasi kepada anda tentang 7 Hama Tanaman Jati Yang Sangat Merugikan.

1. Kutu Daun

Sumber: daquagrotechno.org
Klasifikasi Kutu Daun

Kingdom     : Animalia

Klass          : Insecta

Ordo           : Homoptora

Famili         : Aphididae

Genus        : Aphis

Spesies      : Aphissp.

Kutu daun adalah jenis hama yang memiliki koloni yang besar pada daun yang meliputi betina dengan kemampuan reproduksi secara partenogenesis atau tanpa kawin. Satu betina setahun yang tidak memiliki sayap mampu melahirkan 68,2 ekor nimfa, sementara untuk betina yang memiliki sayap hanya 49 nimfa saja.

Kutu daun dewasa sangat menyukai pucuk daun jati sehingga banyak terjadi serangan pada bagian tersebut. Cara hama ini menyerang pucuk daun tersebut adalah dengan menghisap cairan daun sehingga daun menjadi menguning dan berkerut yang pada akhirnya mengering serta gugur. Walaupun kutu daun menyukai pucuk yang masih muda, akan tetapi hama ini juga menyerang daun yang lebih tua dengan cara menghisap cairan pada daun tersebut.

Puncak serangan kutu daun dapat terjadi pada musim kemarau dan menurun pada musim hujan, hal ini diakibatkan karena air hujan dapat menjatuhkan kutu daun yang menempel pada daun.

2. Rayap Kayu Basah

Sumber: antirayap.com

Klasifikasi Rayap Kayu Basah

Kingdom       : Animalia

Phyllum        : Arthropoda

Class            : Insecta

Ordo             : Isoptera

Famili           : Kalotermitidae

Genus          : Neotermes

Spesies        : Neotermes tectonae

Rayap kayu basah yakni jenis rayap yang menyerang pohon yang hidup. Rayap ini hidup di batang pohon dengan membuat sarang. Jenis rayap ini memakan kandungan selulosa yang terdapat pada kayu. Perlu anda ketahui bahwa selulosa adalah senyawa orgaik yang keberadaanya banyak tersedia di alam namaun tidak dapat dicerna oleh sistem pencernaan manusia maupun organisme lainnya. Berbeda halnya dengan rayap, pencernaannya bisa mencerna senyawa ini dikarenakan adanya parasit Trychonympha yang membantu rayap dalam mencerna senyawa tersebut.

Jenis rayap ini memiliki tubuh yang terdiri dri 3 bagian yakni kepala, toraks dan abdomen. Di dalam setiap kelompok ataupun koloninya rayap umumnya memiliki 3 kasta. Tingkatan kasta tersebut terdiri dari Kasta Pekerja, Kasta Prajurit dan Kasta Reproduksi.

Kasta Pekerja

Setiap kasta sendiri memiliki ciri fisik yang berbeda-beda, untuk kasta pekerja merupakan anggota yang memiliki jumlah paling banyak di dalam koloni, warna pucat dan tidak memiliki mata faset serta ukuran mendibel yang kecil dibandingkan dengan kasta prajurit. Tugas utama dari kasta pekerja ini adalah untuk mencari makan, membuat dan memelihara sarang serta merawat telur yang dihasilkan oleh kasta reproduksi.

Kasta Prajurit

Kasta Prajurit adalah kasta yang memiliki ciri kepala besar, serta rahang yang besar dan kuat. Karena memiliki ukuran rahang yang besar dan kuatlah maka tugas dari kasta ini untuk melindungi koloni dari serangan dari luar.

Kasta Reproduksi

Fungsi dari kasta ini sendiri adalah menghasilkan telur-telur rayap serta menjadi kasta paling penting dalam koloni rayap.

3. Belalang

Sumber: biodiversitywarriors.org
Klasifikasi Belalang

Kingdom     : Animalia

Filum          : Arthropoda

Kelas          : Insekta

Ordo           : Orthoptera

Famili         : Crididae

Genus        : Valanga

Spesies      : Valanga nigricornis Burm

Belalang yang termasuk ke dalam famili Crididae ini adalah jenis belalang yang memiliki ukuran yang besar dan hidup di pepohonan serta semak-semak. Belalang ini ada jenis belalang yang dapat melakukan proses reproduksi dengan sangat cepat serta melakukan migrasi secara besar serta termasuk ke dalam serangga yang bersifat polifag atau menyerang hampir seluruh jenis tanaman.

Jenis belalang ini memiliki siklus hidup yang berawal dari telur, nimfa lalu imago sehingga tergolong ke dalam metamorfosa tidak sempurna. Belalang ini memiliki ciri tubuh yang berwarna abu-abu kecoklatan, terdapat bercak-bercak terang pada bagian belakang permukaan sayapnya serta berwarna merah pada pangkal sayapnya.

Jenis belalang ini baik yang telah dewasa maupun yang masih muda menyerang tanaman jati pada bagian daun yakni dengan cara memakan daun jati sehingga dapat mengurangi luas permukaan daun. Hal yang paling mengkhawatirkan jika terjadinya serangan hama ini dengan populasi yang besar yakni dapat menghabiskan daun sekaligus beserta tulang tulang daunnya.

4. Rayap Kayu Kering

Sumber: tucson.com
Klasifikasi Rayap Kayu Kering

Kingdom    : Animalia

Phyllum     : Arthropoda

Class         : Insecta

Ordo          : Isoptera

Famili        : Kalotermitidae

Genus       : Cryptotermes

Spesies     : Cryptotermes spp.

Rayap kayu kering merupakan jenis rayap yang biasanya hidup di dalam kayu yang telah mati serta kering rayap ini biasanya terdapat di perabot-perabot seperti kursi, meja, lemari serta rumah-rumah yang terbuat dari kayu. Rayap ini juga ditemukan pada batang pohon yang telah mati dalam posisi tegak berdiri.

Sayap ini jika melakukan serangan terdapat tanda nya seperti butir-butir ekskremen yang kecil dengan warna kecoklatan dan dapat ditemui di lantai ataupun sekitar kayu yang telah diserang oleh rayap. Jenis rayap ini tidak berhubungan sama sekali dengan tanah karena menyukai habitat yang kering. Contoh dari rayap ini adalah Cryptotermes spp.

Rayap kayu kering mempunyai kemampuan bertahan hidup pada kayu kayu yang telah kering. Rayap ini umumnya tidak membuat liang ataupun sarang pada tempat-tempat yang terbuka sehingga sangat sulit untuk diketahui keberadaannya. Terjadinya serangan rayap ini biasanya baru diketahui setelah adanya kayu yang terserang menjadi keropos.

Serangan rayap ini juga dapat dikenali dari eskremen-eksremen berbentuk butiran halus, berwarna coklat muda serta memiliki bentuk yang lonjong. Selain merusak perabotan, jenis rayap ini juga merusak akar karet dan kelapa sawit.

5. Inger-Inger

Sumber: dokmaidogma.wordpress.com
Klasifikasi Inger-Inger

Kerajaan     : Animalia

Filum           : Arthropoda

Kelas           : Serangga

Famili          : Cossidae

Genus         : Duomitus

Spesies       : Duomitus ceramicus

Inger-inger adalah jenis hama yang termasuk ke dalam famili Cossidae. Hama ini termasuk jenis ngengat yang aktif pada malam hari. Ngengat betina biasa meletakkan telur pada malam hari di celah kulit batang. Hama ini memiliki telur dengan ciri berwarna putih kekuning-kuningan gelap serta memiliki bentuk yang silinder.

Seekor ngengat betina dapat menghasilkan telu 300-600 butir setiap kali masa bertelur. Pada fase larva ciri dari hama ini memiliki warna yang putih kotor, protaks yang berwarna terang serta kepala coklat tua. Larva serangga ini merusak tanaman jati dengan cara menggerek batangnya dengan gerekan yang panjangnya mencapai 10 sampai 15 cm.

Hama ini sangat menyukai tempat dengan kelembaban tinggi karena dapat mempercepat perkembangannya. penyebab terjadinya peningkatan hama ini karena adanya ketidakseimbangan alam yang disebabkan oleh pertanian monokultur yakni ini suatu budidaya dengan menanam satu jenis tanaman saja dalam jumlah yang besar.

Hal ini mengakibatkan serangga alami yang biasa memakan makanan tersebut berpotensi untuk mengalami peningkatan jumlah karena persediaan makanan yang banyak.

6. Semut Hitam

Sumber: bwars.com
Klasifikasi Semut Hitam

Kingdom     : Animalia

Filum          : Artropoda

Kelas          : Insekta

Ordo           : Hymenoptera

Divisi          : Holometabola

Klas            : Insecta

Famili         : Formicidae

Genus        : Lacius

Species      : Lasius fuliginosus.

Pada semut hitam, semut betina dan semut jantan memiliki perbedaan ciri yang cukup mencolok. Semut betina memiliki ukuran yang lebih besar dengan ukuran mencapai 15 cm serta berfungsi untuk menghasilkan telur sebanyak-banyaknya. Untuk semut jantan sendiri memiliki ciri tubuh yang lebih kecil daripada semut betina yakni berukuran 1,5 cm, rahang mereduksi dengan antena yang berukuran panjang serta kepala yang berbentuk bulat.

Semut hitam biasanya membuat sarang dalam bentuk gundukan tanah yang terdapat di pangkal bawah daun maupun di bawah tangkai daun. Semut ini hidup secara berkelompok dengan makanan utama serangga lain dan ulat.

Semut hitam dikategorikan sebagai hama karena menimbulkan kerugian pada pohon jati karena dengan kehadiran semut hitam ini menyebabkan munculnya penyakit sekunder contohnya jamur yang dapat menyebabkan penyakit, selain itu semut hitam dapat merusak akar serta tunas muda pada pohon jati.

7. Ulat Jati

Sumber: cookislands.bishopmuseum.org
Klasifikasi Ulat Jati

Kingdom    : Animalia

Phylum      : Arthropoda

Class         : Insecta

Order         : Lepidoptera

Family       : Hyblaeidae

Genus       : Hyblaea

Species     : H. puera

Ulat jati yang juga dikenal sebagai entung jati adalah jenis kupu-kupu yang menyerang tumbuhan jati saat malam hari. Ulat jati ini banyak tersebar di daerah Papua Nugini, sedangkan di indonesia sendiri ulat ini tersebar pada hutan jati di Jawa tengah dan Jawa Timur. Jenis hama ini menyerang pada saat awal musim hujan yaitu sekitar bulan November hinga Januari.

Hama ini menyerang daun pada tanaman jati. Daun yang terserang ulat ini biasanya akan meninggalkan lubang-lubang bekas gigitan ulat. Hal ini tentunya dapat menghambat pertumbuhan dari tanaman jati sendiri, salah satu pengendalian ulat jati ini bisa dilakukan dengan cara manual maupun dengan menggunakan insektisida.

Itulah informasi seputar hama yang menyerang tanaman jati. Semoga dengan mengetahui jenis-jenis hama tersebut kita dapat mengatasinya dengan cara yang efektif bahkan mencegahnya dengan menerapkan sistem silvikultur yang memperhatikan aspek lingkungan.

Silahkan berikan komentar anda tentang artikel ini dengan cara menuliskannya di kolom komentar.

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar