5 Pahlawan Nasional Dari Maluku Yang Berjasa Bagi Indonesia

Pahlawan Nasional Maluku - Berbicara tentang pahlawan nasional banyak sekali tentunya pahlawan-pahlawan pada zaman penjajahan yang rela berkorban jiwa dan raga demi kemerdekaan Indonesia, begitupun halnya para pahlawan Nasional dari Maluku, salah satunya yang paling populer adalah kapitan Pattimura.

Selain Pattimura, tentunya banyak lagi pahlawan nasional yang berjuang dengan penuh semangat demi membebaskan tanah air tercinta dari kekuasaan penjajah asing. Untuk itu, pada kali ini Abang Nji akan memberikan informasi tentang 5 Pahlawan Nasional Maluku Yang Berjasa Bagi Indonesia.

1. Kapitan Pattimura

Sumber: @72morea via Instagram

Sejarah tentang nama asli dari kapitan Pattimura menjadi tanda tanya bagi sebagian kalangan. Hal ini juga semakin menimbulkan keraguan, karena adanya seorang sejarawan yang mengungkapkan bahwa nama asli dari Kapitan Pattimura adalah Ahmad Lussy. Menurut sejarwan ini Kapitan Pattimura lahir di daerah Hualoy, Seram Selatan, Maluku, pada tanggal 8 Juni 1783 serta wafat di daerah Ambon, Maluku, pada tanggal 16 Desember 1817 pada usianya yang mencapai 34 tahun.

Sejarawan bernama Mansyur Suryanegara memiliki pendapat di bukunya yang berjudul Api Sejarah terbitan 2009. Di dalam buku tersebut, Mansur Suryanegara menjelaskan jika nama asli Pattimura ialah Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku dikatakan sebagai Mat Lussy yang lahir di daerah Hualoy, Seram Selatan. Pattimura menurut Mansyur ialah seseorang bangsawan yang berasal dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah oleh Sultan Abdurrahman yang terkenal dengan julukan Sultan Kasimillah.

Sedangkan menurut sejarah versi Indonesia, Pattimura memiliki nama asli Thomas Matulessy yang lahir di Haria, pulau Saparua, Maluku, pada tanggal 8 Juni 1783 serta wafat di daerah Ambon, Maluku, pada tanggal 16 Desember 1817 di usianya yang mencapai 34 tahun. Ia dikenal sebagai Kapitan Pattimura yang merupakan Pahlawan nasional Indonesia dari wilayah Maluku.

Menurut buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama keluar, M Sapija menulis, "Jika pahlawan Pattimura termasuk ke dalam turunan bangsawan yang datang dari Nusa Ina (Seram)". Ayahnya yang bernama Antoni Matulessy merupakan anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Namanya saat ini diabadikan menjadi nama untuk satu universitas yakni Universitas Pattimura serta Bandar Udara Pattimura di wilayah Ambon.

Kisah Perjuangan Kapitan Pattimura

Sebelum lakukan perlawanan pada VOC dia sempat berkarier di bidang militer yakni sebagai mantan sersan Militer kerajaan Inggris. Pada tahun 1816 pihak Inggris memberikan tampuk kekuasaannya pada pihak Belanda. Setelah perpindahan tampuk kekuasaan tersebut, kemudian Belanda memutuskan suatu kebijakan politik monopoli, pajak terhadap tanah, perpindahan masyarakat dan pelayaran Hongi (Hongitochten), dan meremehkan Traktat London I diantaranya dalam pasal 11 berisi ketetapan jika Residen Inggris di Ambon harus membicarakan dulu perpindahan koprs Ambon dengan Gubenur.

Perlu kita ketahui, dalam hasil kesepakatan tersebut juga tercantum secara jelas jika pemerintahan Inggris berakhir di wilayah Maluku, karena itu para serdadu-serdadu Ambon harus dibebaskan dalam pengertian memiliki hak untuk menentukan pilihan untuk masuk dinas militer pemerintah baru atau keluar dari dinas militer, namun dalam pratiknya perpindahan dinas militer ini terkesan dipaksakan.

Kedatangan kembali kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapatkan kendala dari rakyat. Ini karena disebabkan keadaan politik, ekonomi, serta jalinan kemasyarakatan yang tidak baik selama dua abad. Rakyat Maluku pada akhirnya bangkit dan mengangkat senjata dibawah komando pimpinan Kapitan Pattimura.

Karena itu pada saat pecah perang menentang penjajahan Belanda tahun 1817, Raja-raja Patih, Beberapa Kapitan, Tua-tua Adat serta rakyat mengangkatnya menjadi pemimpin serta panglima perang sebab memiliki pengalaman serta mempunyai sifat-sfat ksatria. Sebagai seorang panglima perang, Kapitan Pattimura mengatur taktik perang bersama-sama pembantunya.

Sebagai seorang pemimpin ia sukses mengkoordinir raja-raja Patih dalam melakukan pekerjaan pemerintahan, memimpin rakyat, mengontrol pendidikan, menyediakan sumber pangan serta membuat benteng-benteng pertahanan. Kewibawaan dan ketegasannya dalam kepemimpinan diakui oleh para raja patih maupun rakyat biasa.

Dalam perjuangan melawan Belanda dia menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan juga Tidore, raja-raja di daerah Bali, Sulawesi dan juga Jawa. Perang Pattimura dengan skala nasional itu dihadapi oleh para penjajah Belanda dengan kemampuan dan kekuatan militer yang besar dan juga kuat, dimana Belanda mengirim sendiri Laksamana Buykes,yang merupakan  salah seorang Komisaris Jenderal guna melawan Patimura.

Pertempuran yang berlangsung sengit serta dahsyat dalam melawan  penjajah Belanda di darat serta di laut diatur oleh Kapitan Pattimura yang dibantu para penglimanya diantaranya Melchior Kesaulya, Anthoni Rebook, Philip Latumahina serta Ulupaha. Pertarungan dalam menaklukan pasukan Belanda tertulis seperti persaingan dalam memperebutkan benteng Belanda Duurstede di wilayah Saparua, pertarungan di pantai Waisisil serta jasirah Hatawano, Ouw- Ullath, Jazirah Hitu di Pulau Ambon serta Seram Selatan.

Perang Pattimura cuma bisa dihentikan dengan cara politik adu domba, bumi hangus dan juga tipu muslihat oleh penjajah Belanda. Para tokoh pejuang akhirnya bisa diamankan serta menyudahi pengabdian dan perjuangannya di tiang gantungan pada tanggal 16 Desember 1817 yang lokasinya berada di kota Ambon. Dikarenakan jasa dan pengorbanannya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, Kapitan Pattimura diberikan penghargaa sebagai pahlawan perjuangan kemerdekaan oleh pemerintah Indonesia.

2. Dr. Johannes Leimena

Sumber: @wikipedia.indonesia via Instagram

Dr. Johannes Leimena adalah seorang pahwalan nasional dari daerah Maluku yang lahir di Ambon, Maluku tepatnya pada tanggal 6 Maret 1905 dan wafat di daerah Jakarta pada tanggal 29 Maret 1977 di  usianya yang mencapai 72 tahun. Dia adalah seorang tokoh politik yang seringkali memegang jabatan sebagai menteri kabinet Indonesia serta satu-satunya Menteri di negara Indonesia yang menjabat menjadi seorang Menteri sepanjang 21 tahun beruntun.

Dr. Johannes Leimena tergabung dalam 18 kabinet yang berbeda, di mulai sejak Kabinet Sjahrir II pada tahun 1946 hingga Kabinet Dwikora II pada tahun 1966, baik menjadi seorang Menteri Kesehatan, seorang Wakil Perdana Menteri, Menteri Sosial ataupun Wakil Menteri Pertama . Tidak hanya itu Leimena juga  memiliki pangkat Laksamana Madya (Tituler) di TNI Angkatan Laut, saat dia tergabung dalam anggota KOTI (Komando Operasi Tertinggi) di dalam rangka Trikora.

Kisah Kehidupan Dr. Johannes Leimena

Pada tahun 1914 Masehi, Dr. Johannes Leimena pindah ke daerah Batavia yang saat ini kita kenal dengan nama Jakarta, dimana dia melanjutkan pendidikannya di ELS (Europeesch Lagere School), akan tetapi cuma untuk sekian bulan saja dan setalah itu pindah ke sekolah menengah Paul Krugerschool yang saat ini kita kenal sebagai PSKD Kwitang.

Dari sinilah dia menyambung pendidikannya ke MULO Kristen, setelah itu beliau meneruskan pendidikannya di kedokterannya STOVIA(School Tot Opleiding Van Indische Artsen) yang merupakan cikal bakal didirikannya Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Prihatin  atas minimnya kepedulian sosial umat Kristen pada nasib bangsa, adalah soalan penting yang mendorong semangat dan niatnya untuk aktif dan berpatisipasi terhadap Gerakan Oikumene. Pada tahun 1926 M, Leimena ditugaskan guna menyiapkan Konferensi Pemuda Kristen di daerah Bandung.

Konferensi ini merupakan perwujudan pertama Organisasi Oikumene di kelompok pemuda Kristen. Seusai lulus studi kedokteran STOVIA, Leimena terus mengikuti kemajuan CSV yang ia bangun kala dia duduk pada tahun ke 4 di bangku perkuliah. CSV sendiri adalah cikal bakal terbentuk dan berdirinya GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) pada tahun 1950 M.

Dengan partisipasi dan keaktifannya di Jong Ambon, ia turut menyiapkan Kongres Pemuda Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928, yang menghasilkan suatu sumpah dari para pemuda-pemuda yang berjuang saat itu yang saat ini kita kenal dengan Sumpah Pemuda. Perhatian Leimena terhadap gerakan nasional kebangsaan makin berkembang tentunya,  sejak mengikuti kegiatan kongres pemuda Indonesia tersebut.

Sehabis menempuh pendidikan kedokterannya di STOVIA Surabaya pada tahun 1930 M, dia meneruskan pendidikannya di Geneeskunde Hogeschool (GHS - Sekolah Tinggi Kedokteran) di daerah Jakarta yang kemudian ia selesaikan pada tahun 1939. Dia terkenal sebagai satu diantara pendiri Pergerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI)

Leimena mulai bekerja menjadi seorang dokter semenjak tahun 1930. Pertama, ia diangkat menjadi seorang dokter pemerintah di CBZ Batavia yang sekarang kita kenal dengan nama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Tidak lama setelah itu, dia dipindah tugaskan di Karesidenan Kedu bertepatan dengan meletusnya Gunung Merapi. Selanjutnya ia dipindahkan kembali ke Rumah Sakit Zending Immanuel derah Bandung. Di rumah sakit inilah dia bekerja dari tahun 1931 hingga tahun 1941 M.

Pada tahun 1945, Partai Kristen Indonesia (Parkindo) didirikan dan juga pada tahun 1950, dia dipilih menjadi ketua umum serta memegang jabatan tersbut sampai tahun 1957. Tidak hanya di Parkindo, Leimena juga  berperan aktif dalam pembentukan DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia) pada tahun 1950 yang saat ini dikenal dengan nama PGI. Di instansi ini Leimena dipilih sebagai wakil ketua yang mengepalai bidang komisi gereja serta negara.

Disaat Orde Baru berkuasa, Leimena mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai menteri, akan tetapi dia masih diakui Presiden Soeharto sebagai bagian dari keanggotaan DPA (Dewan Pertimbangan Agung) sampai tahun 1973. Setelah aktif di DPA, dia kembali libatkan dirinya di lembaga-lembaga Kristen yang sempat dibesarkannya seperti Parkindo, DGI, STT, UKI, dan lainnya.

Saat Parkindo tergabung dalam PDI (Partai Demokrasi Indonesia) yang sekarang kita kenla dengan PDIP, Leimena dipercaya menjadi anggota DEPERPU (Dewan Pertimbangan Pusat) PDI, serta sempat juga memegang jabatan Direktur Rumah Sakit DGI Cikini.

Penghargaan Sebagai Pahlawan Nasional

Sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa-jasa dari Dr. Johannes Leimena, pemerintah Indonesia kemudian lewat Keputusan Presiden No. 52 TK/2010 pada tahun 2010 memberikannya gelar sebagai Pahlawan Nasional.

3. Martha Christina Tiahahu

Sumber: @margery_genevie via Instagram
Martha Christina Tiahahu  merupakan seorang pahlawan nasional dari Maluku yang lahir di Nusa Laut, Maluku, pada tanggal  4 Januari 1800 serta wafat di daerah Laut Banda, Maluku, pada tanggal 2 Januari 1818 pada usianya yang baru berjalan 17 tahun. Walaupun beliau masih berusia muda, ia merupakan seseorang yang berani mengangkat senjata dalam menentang penjajah Belanda.

Ayahnya merupakan Kapitan Paulus Tiahahu, seseorang kapitan yang berasal dari negeri Abubu yang membantu perjuangan Thomas Matulessy atau dilebih dikenal dengan kapitan Pattimura dalam Perang Pattimura pada tahun 1817 dalam menentang penjajahan Belanda.

Perlu kita ketahui, Martha Christina Tiahahu terdaftar sebagai salah seorang pejuang kemerdekaan yang sangat unik, dimana ia merupakan seorang wanita berusia remaja yang terjun langsung dalam medan pertempuran menentang penjajah Belanda dalam Perang Pattimura tahun 1817. Di kelompok para pejuang serta penduduk hingga di kelompok lawan, dia terkenal sebagai seorang gadis pemberani dan juga konsekuen terhadap cita-cita serta perjuangannya.

Semenjak awal perjuangan, dia senantiasa turut ambil bagian serta memiliki sikap yang pemberani dan pantang mundur. Memiliki rambut yang panjang terurai dan berikat kepala dengan sehelai kain berang, dia masih menyertai ayahnya dalam tiap pertarungan baik di Pulau Nusalaut ataupun di Pulau Saparua.

Dia tidak hanya mengangkat senjata, namun juga memberikan semangat pada kaum hawa di tiap-tiap negeri supaya turut menolong kaum pria di tiap medan pertempuran sampai-sampai Belanda kerepotan dalam melawan kaum hawa yang turut bertarung.

Di pertarungan yang sangat sengit yakni di Desa Ouw-Ullath jasirah tenggara Pulau Saparua dapat dirasakan dan dilihat betapa hebat dan pemberaninya srikandi ini menyerbu lawan bersama-sama dengan para pejuang rakyat. Akan tetapi pada akhirnya karena tidak mampu mengimbangi baik dalam persenjataan, tipu daya lawan serta juga terjadinya pengkhianatan, para tokoh pejuang kemerdekaan bisa diamankan serta diberikan hukuman.

Ada yang mendapat hukuman mati dengan cara digantung serta ada yang dibuang ke luar Maluku yakni dibuang ke Pulau Jawa. Kapitan Paulus Tiahahu divonis hukum mati dengan cara ditembak. Martha Christina Tiahahu berusaha buat membebaskan ayahnya dari hukuman mati, tapi dia tidak berdaya serta melanjutkan bergerilyanya di hutan, dan pada akhirnya ia ditangkap oleh serta diasingkan ke Pulau Jawa.

Di Kapal Perang Eversten, Martha Christina Tiahahu menjumpai ajalnya serta dengan penghormatan militer jasadnya diluncurkan di Laut Banda mendekati tanggal 2 Januari 1818. Guna menghormati jasa dan juga pengorbanannya, Martha Christina Tiahahu dikukuhkan atau diberikan penghargaan menjadi seorang Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Pemerintah Indonesia.

Penetapan Sebagai Pahlawan Nasional

Berdasarkan Surat Keputusan Presiden Indonesia Nomor 012/TK/Tahun 1969, pada tanggal 20 Mei 1969, Martha Christina Tiahahu secara sah diakui sebagai seorang pahlawan nasional.

4. Brigadir Polisi Anm. Karel Sasuit Tubun

Sumber: biografi-tokoh-ternama.blogspot.com

Brigadir Polisi Anm. Karel Satsuit Tubun  merupakan seorang pahlawan nasional dari Maluku yang lahir di wilayah Maluku Tenggara, pada tanggal 14 Oktober 1928 serta wafat di daerah Jakarta, pada tanggal 1 Oktober 1965 yakni diusianya yang menginjak 36 tahun. Beliau merupakan seorang pahlawan nasional Indonesia yang disebut sebagai salah satu korban Gerakan 30 September pada tahun 1965.

Dia merupakan pengawal dari J. Leimena. Dia dikebumikan di TMP Kalibata, Jakarta. Karena ia merupakan korban Gerakan 30 September serta jasa-jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan negara Indonesia, maka ia diangkat menjadi seorang Pahlawan Revolusi.

Kisah Kehidupan

Sewaktu menginjak dewasa dia memutuskan guna masuk menjadi anggota POLRI. Dia lantas diterima, lalu mengikuti Pendidikan Polisi, seusai lulus, dia di tempatkan di Kesatuan Brimob Ambon dengan Pangkat Agen Polisi Kelas Dua atau saat ini dikenal dengan nama Bhayangkara Dua Polisi. Dia lantas ditarik ke Jakarta dan juga memiliki pangkat Agen Polisi Kelas Satu atau saat ini dikenal dengan nama Bhayangkara Satu Polisi.

Disaat Bung Karno mengumandangkan Trikora yang didalamnya menuntut pengembalian Irian Barat pada Indonesia dari tangan Belanda. Saat itu jugalah dilakukan Operasi Militer, dia juga terlibat dalam perjuangan itu. Sesudah Irian barat berhasil dikembalikan, dia diberikan suatu pekerjaan buat menjaga tempat tinggal Wakil Perdana Menteri, Dr. J. Leimena di daerah Jakarta. Perlahan tapi pasti, akhirnya pangkatnya naik menjadi anggota Brigadir Polisi.

Sebab Kematian

Lantaran mengganggap para pimpinan Angkatan Darat sebagai penghambat utama cita-citanya. Karena itu PKI berencana untuk melaksanakan penculikan serta pembunuhan terhadap beberapa Perwira Angkatan Darat yang dipandang menghambat cita-citanya. Salah satu targetnya ialah Jenderal A.H. Nasution yang bertetangga dengan rumah Dr. J. Leimena. Gerakan itu pun dimulai di malam hari.

Dikarenakan diberikan tugas untuk jaga pagi, dia pun menyempatkan diri buat tidur. Para penculik lantas datang, pertama kali mereka menyekap para pengawal rumah Dr. J. Leimena. Lantaran mendengar suara ribut maka K. Satsuit Tubun pun terjaga dengan membawa senjata.

Dia mencoba menembak beberapa gerombolan PKI itu. Bernasib malang, gerombolan itu juga menembaknya. Lantaran tidak seimbang antara pasukan PKI dan Angkatan Darat yang melawan K. Satsuit Tubun pun terbunuh  seketika di saat peluru penculik dari PKI tersebut menembus tubuhnya.

Pemberian Gelar dan juga Penghormatan

Atas semua jasa-jasanya selama ini terhadap bangsa dan negara, dan turut serta menjadi korban kebrutalan Gerakan 30 September karena itulah maka pemerintah memasukannya sebagai satu diantara Pahlawan Revolusi Indonesia, bersama-sama dengan Jenderal Ahmad Yani, Letjen R. Suprapto, Mayjen Sutoyo, Letjen M.T. Haryono, Letjen S. Parman, Mayjen D.I. Pandjaitan, Kolonel Sugiono, Kapten CZI Pierre Tendean serta Brigjen Katamso.

Tidak hanya itu pangkatnya pun dinaikkan dan berubah menjadi Ajun Inspektur Dua Polisi. Namanya sekarang diabadikan sebagai nama dari sebuah Kapal Perang Indonesia yakni kapal perang KRI Karel Satsuitubun.

5. Nuku Muhammad Amiruddin Kaicil Paparangan

Sumber: @halifurudesign via Instagram

Perlu kita ketahui bersama, Muhammad Amiruddin atau lebih terkenal dengan sebutan Sultan Nuku ialah seseorang sultan dari Kesultanan Tidore yang dikukuhkan pada tanggal 13 April 1779, yakni dengan julukan atau gelar “Sri Paduka Maha Tuan Sultan Saidul Jehad el Ma’bus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan.  Disaat masa perang dengan VOC, Nuku disebutkan sebagai Jou Barakati, berarti Tuan Yang Diberkahi.

Kisah Kehidupan

Sultan Nuku Muhamad Amiruddin ialah putra ke-2 Sultan Jamaluddin (1757–1779) dari Kesultanan Tidore. Dilahirkan pada tahun 1738, nama kecilnya ialah Kaicil Syaifuddin.

Pada jaman pemerintahan Nuku yang dimulai dari tahun 1797 hingga 1805 M, Kesultanan Tidore miliki cakupan wilayah kerajaan yang luas yang di dalamnya termasuk pulau Tidore, Halmahera Tengah, pantai Barat, sisi Utara Irian Barat dan juga seram Timur. Sejarah pernah tercatat, bahwasanya hampir mencapai 25 tahun lamanya, Nuku berkutat dengan peperangan guna menjaga tanah airnya dan juga membela suatu kebenaran.

Sultan nuku memiliki semangat yang luar dalam melawan penjajah Belanda dimana dari satu wilayah, sultan Nuku pun terus berpindah ke wilayah lain, dari perairan yang satu menerobos ke perairan lainnya, berdiplomasi dengan Belanda ataupun dengan Inggris, mengatur siasat dan juga strategi lalu kemudian terjun ke medan perang. Seluruhnya dilaksanakan cukup dengan kemauan serta tujuan untuk melepaskan rakyat dari cengkaman penjajah serta hidup damai dalam kebebasan. Cita-citanya melepaskan seluruh kepulauan Maluku khususnya Maluku Utara (Maloko Kie Raha) dari penjajah Belanda.

Kisah Peperangan

Seperti di seluruh daerah jajahannya di negara Indonesia, Belanda selalu ikut campur dalam penetapan siapa yang memiliki hak untuk menaiki tahta di dalam sebuah kerajaan di Nusantara. Figur yang dapat diajak bekerja sama umumnya akan dipilih menjadi seorang penguasa/pemimpin serta figur yang dipandang berbahaya, walaupun pewaris resmi tahta, akan didepak.

Begitupun yang terjadi di kesultanan Tidore, dimana Sultan Jamaluddin ialah penguasa kesultanan Tidore. Lantaran dipandang beresiko untuk kedudukan Belanda, Sultan Jamaluddin pun juga diamankan serta diasingkan ke Batavia pada tahun 1779.

Berdasarkan pada tradisi yang dilakukan turun temurun oleh kerajaan Tidore, pengangkatan raja baru harus berdasar silsilah yang sesuai dengan garis keturunan. Yang memiliki hak  untuk naik tahta sebagai Sultan Tidore saat itu ialah Nuku, meneruskan tahta Sultan Jamaluddin yang merupakan ayahandanya. Akan tetapi Belanda tidak menginginkan Nuku naik tahta.

Perlawanan Nuku Muhammad Amiruddin dimulai saat dia dan juga adiknya Kamaluddin melawan pengangkatan Kaicil Gay Jira yang dilakukan oleh Belanda untuk dijadikan sebagai Sultan Tidore. Dengan sengaja Belanda menginjak-injak tradisi yang dianut dan dipercayai oleh kesultanan Tidore, ditambah lagi sehabis Belanda menurunkan Sultan Kaicil Gay Jira dan menunjuk kembali putra Kaicil, Patra Alam, menjadi sultan Tidore yang baru.

Sebagai sebuah bentuk perlawanan, Nuku Muhammad Amiruddin lantas mengumpulkan kekuatan guna menentang para penjajah Belanda. Dia membuat armada Kora-kora di wilayah seputar Pulau Seram dan juga Irian Jaya dengan membangun basis pertahanan di Seram Timur pada tahun 1781. Mereka membuat benteng-benteng di pesisir pantai, menebar ranjau di lautan, serta menempatkan meriam tempur.

Belanda kembali memperlihatkan kesewenang-wenangannya dalam penetapan pemegang tahta kesultanan Tidore sekaligus juga menerapkan politik yang biasa mereka lakukan yakni politik adu dombanya dengan mengusung adik kandung Nuku Muhammad Amiruddin, Kamaluddin, menjadi Sultan Tidore seusai menurunkan Sultan Patra Alam. Pada tahun 1787, pasukan Belanda menggempur Seram timur guna melumpuhkan perlawanan Nuku.

Perlu kita ketahui, basis pertahanan Nuku di Seram Timur saat itu pun berhasil diambil oleh pasukan Belanda. Nuku Muhammad Amiruddin pun terpaksa menggeser atau memindahkan basis untuk pertahanan pasukannya di Pulau Gorong serta menjalin suatu hubungan yang baik dengan para pasukan Inggris atas dasar sebagai hubungan timbal balik yang memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak.

Sebagai keturunan Raja Tidore, dia memiliki semangat untuk menjadi seorang pejuang yang tidak dapat diajak untuk berkompromi serta memiliki pengaruh yang luar biasa dan kuat di daerah Maluku. Saat usianya telah senja, semangat serta perjuangannya pun tidak dapat dihentikan. Sultan Nuku sangat susah ditaklukan, dia berperang menentang Belanda di darat ataupun di laut. Guna melawan Belanda, Sultan Nuku mengikuti strategi devide et impera yang seringkali dipakai oleh penjajah Belanda.

Sultan Nuku menghasut beberapa orang Inggris supaya bisa menyingkirkan beberapa orang Belanda, sesudah berhasil menerapkan taktik dan strategi adu domba selekasnya dilakukan penggempuran. Pasukan Nuku bertambah kuat setelah mendapat beragam peralatan perang dari Inggris dan juga meraih kemenangan di dalam banyak pertarungan melawan penjajah Belanda.

Belanda mulai merasa gelisah terhadap perjuangan sultan Nuku, dimana Belanda mengalami kekalahan hampir di seluruh medan pertempuran, untuk mensiasati hal tersebut VOC ajukan sebuah penawaran untuk berdialog dengan Nuku Muhammad Amiruddin serta menawarkan kekuasaan padanya apabila bersedia berdialog dengan Sultan Kamaluddin. Nuku menampik dengan tegas strategi Belanda tersebut dan juga semakin menggiatkan serangan pasukannya kepada pasukan Belanda yang dibantu pasukan kesultanan Tidore yang patuh dan setia kepada Sultan Kamaluddin.

Perlu kita ketahui bersama bahwasanya pada tahun 1796, pasukan Nuku sukses merampas serta menguasai Pulau Banda. Setahun setelah itu, mereka sanggup mengambil kembali kekuasaan Tidore dan juga membuat Sultan Kamaluddin melarikan diri ke Ternate. Seperginya Sultan Kamaluddin, rakyat Tidore pun menunjuk secara resmi Nuku Muhammad Amiruddin menjadi sultan Tidore.

Sultan Nuku terus melakukan penyerbuan terhadap pasukan Belanda di Ternate sampai tahun 1801 dan pada akhirnya Ternate bisa dibebaskan kembali dari cengkraman Belanda. Dia wafat dengan umur yang mencapai 67 tahun pada tahun 1805 Masehi.

Pemberian Kehormatan

Sebagai penghargaan pada jasa-jasanya dalam melawan penjajahan Belanda, Pemerintah  Indonesia menganugerahkan Sultan Nuku jadi " Pahlawan Nasional Indonesia" menurut Ketetapan Presiden RI No. 071/TK/1995, tanggal 7 Agustus 1995.

Itulah artikel tentang 5 Pahlawan Nasional Maluku Yang Berjasa Bagi Indonesia. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan kita serta kecintaan kita terhadap bangsa dan negara, demi menghormati jasa para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raganya demi kemerdekaan yang tentunya kita rasakan pada saat ini.

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar