3 Faktor Kemunduran Kerajaan Kediri Yang Menarik Dipelajari

Faktor Kemunduran Kediri - Seperti halnya kerajaan-kerajaan lain yang memiliki masa keemasan dan masa kemunduran demikian juga kerajaan Kediri, dimana kerajaan ini mengalami masa kemunduran yang dipicu oleh faktor internal maupun faktor yang berasal dari luar kerajaan. Berikut abang nji akan memberikan informasi kepada sahabat-sahabat sekalian tentang Faktor Kemunduran Kerajaan Kediri Yang Menarik Dipelajari.

Sumber: id.wikipedia.org

Ringkasan Faktor Kemunduran Kerajaan kediri

Kediri memperoleh masa keemasan atau kejayaannya pada masa kepemimpinan Raja Jayabaya. Sang Raja yang tenar sakti mandraguna dan juga bisa menangani permasalahan dengan prediksinya yang dikenal selalu ‘waskita’ dan juga ‘ngerti sak durunge winarah’ hingga sampai saat ini pun banyak yang tahu dan juga masih meyakini apa yang disebut Jangka Jayabaya.

Provokasi Ken Arok

Kerajaan makin lama menjadi kacau semenjak Raja Kediri diperintah oleh Raja Kertajaya yang merupakan penerus Raja Jayabaya. Kala itu warga Kediri yang merupakan penganut agama Hindu yang patuh diprovokasi oleh beberapa agen-agen yang sengaja dikirim oleh Ken Arok dari Tumapel.

Permainan Ken Arok benar-benar rapi sekali hingga para ulama Hindu di Kediri tidak mengetahui kebenaran sesungguhnya akan berita yang tersebar di warga bahwa Kertajaya memerintah warga buat menyembahnya sebagai Dewa.

Beberapa Brahmana Kediri memandang jika sang raja Kertajaya sudah melecehkan agama pada saat itu. Seringkali upaya dilaksanakan buat bicara dengan Kertajaya. Akan tetapi sebab Kertajaya sendiri tidak merasakan memerintah semacam itu, karena itu Kertajaya menanggapinya dengan asumsi jika itu semua tidak benar.

Merasa upaya yang telah mereka lakukan dianggap remeh dan dipermainkan oleh raja Kertajaya, para Brahmana yang memiliki semangat membela kepercayaannya menyusun kekuatan sendiri dengan berencana meminta pertolongan pada Tumapel yang waktu itu adalah wilayah bawahan kerajaan Kediri. Pemimpin Tumapel ialah Ken Arok.

Ken Arok tentunya menyambut baik kemauan para Brahmana buat menantang Kertajaya, sebab memang berikut ini yang diharapkannya. Para Brahmana waktu itu memandang jika Ken Arok benar-benar memihak pada Brahmana serta ingin mengembalikan kemuliaan agama yang dirasa dilecehkan oleh Kertajaya waktu itu.

Terjadi Perang Ganter

Tahun 1254 tejadi peperangan di antara Kertajaya dengan para Brahmana yang dibantu oleh Ken Arok dari Tumapel. Menurut kitab Negarakertagama, peperangan itu meletus di Desa Ganter. Peperangan pada akhirnya dimenangi oleh pihak Tumapel bersama dengan para Brahmana.

Akan tetapi di luar sangkaan para Brahmana, nyatanya niat baik Ken Arok menolong yang semula disebutkan berdasar atas keyakinan yang sama nyatanya membawa misi terselubung, yakni ingin memerdekakan Tumapel yang semula dibawah kekuasaan Kediri.

Gagasan Ken Arok yang telah diaturnya jauh-jauh hari dengan cara libatkan emosi keagamaan para Brahmana ini berhasil dengan mulus. Dia mengadu domba para Brahmana dengan rajanya sendiri, yakni Kertajaya. Kediri alami kemunduran semenjak Kertajaya ditaklukkan dan juga wafat.

Berdirinya Kerajaan Singasari

Ken Arok selanjutnya memproklamirkan kerajaan Tumapel dengan bergelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhum. Berdasar prasasti Kudadu, nama resmi Kerajaan Singasari yang sebenarnya adalah Kerajaan Tumapel. Menurut Nagarakertagama, saat kali pertama dibangun tahun 1222, ibu kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja.

Disini ambisi berdirinya kerajaan Singasari dibangun dengan menggunakan sebuah kelicikan pemberontakan yang mengambil sentimen agama waktu itu dimana para Brahmana dipengaruhi serta selanjutnya berani memberontak rajanya.

Kediri yang semula besar dengan nama Rajanya yang amat terkenal, Prabu Jayabaya, sekarang porak-poranda dan juga hancur cuma karena hasutan serta gagasan licik Ken Arok.

Seusai Ken Arok menaklukkan Kertajaya, Kediri berubah menjadi satu daerah dibawah kekuasaan Singasari. Ken Arok kemudian mengangkat Jayasabha, putra Kertajaya menjadi bupati Kediri.

Tahun 1258 Jayasabha diganti putranya yang bernama Sastrajaya. Pada tahun 1271, Sastrajaya diganti putranya, yakni Jayakatwang. Jayakatwang memberontak pada Singasari yang di pimpin oleh Kertanegara, sebab dendam waktu dulu dimana leluhurnya Kertajya ditaklukkan oleh Ken Arok.

Sesudah sukses membunuh Kertanegara, Jayakatwang mendirikan kembali Kerajaan Kediri, akan tetapi cuma bertahan setahun karena serangan kombinasi yang dilancarkan oleh pasukan Mongol serta pasukan menantu Kertanegara, Raden Wijaya.

Itulah informasi tentang faktor kemunduran dan keruntuhan kerajaan Kediri yang dapat abang nji informasikan kepada sahabat sekalian. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan dan menjadi referensi sahabat-sahabat sekalian tentang sejarah-sejarah kerajaan yang pernah eksis di Indonesia.

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar