17 Peninggalan Kesultanan Cirebon Paling Bersejarah Lengkap Dengan Penjelasan

Peninggalan Kesultanan Cirebon - Kesultanan Cirebon ialah kesultanan Islam terkenal di Jawa Barat pada era ke-15 serta 16 Masehi. Kesultanan ini memiliki peranan penting sebagai pangkalan  bagi  jalur perdagangan serta pelayaran antar pulau. Lokasinya yang berada di pantai utara pulau Jawa yang merupakan daerah perbatasan di antara Jawa Tengah dan juga Jawa Barat, membuat wilayah ini menjadi pelabuhan ataupun jembatan di antara kebudayaan Jawa dan juga Sunda.

Dengan adanya hal tersebut terbentuklah suatu kebudayaan yang memiliki kekhasan, yakni kebudayaan Cirebon yang tak didominasi baik dari kebudayaan Jawa ataupun kebudayaan Sunda. Kesultanan Cirebon dibangun di dalem agung pakungwati yang difungsikan sebagai pusat pemerintahan negara islam kesultanan cirebon. letak dalem agung pakungwati saat ini berubah menjadi keraton kasepuhan cirebon.

Seperti halnya kerajaan-kerajaan lain, tentunya kesultanan Cirebon juga meninggalkan jejak-jejak sejarah yang tentunya dapat kita temukan pada era saat ini. Untuk itu Abang Nji akan memberikan informasi kepada sahabat sekalian tentang 17 Peninggalan Kesultanan Cirebon Paling Bersejarah Lengkap Dengan Penjelasan.

1. Keraton Kacirebonan

Sumber: @pricess_mimi1409 via Instagram

Keraton Kacirebonan dibuat pada tahun 1800 M, Bangunan kolonial ini banyak menyimpan beberapa benda peninggalan sejarah seperti Keris, Wayang, peralatan Perang, Gamelan dan sebagainya.

Keraton Kacirebonan adalah keraton yang dibangun atas prakarsa Pangeran Muhamad Haerudhin. Ia merupakan Putra Mahkota Sultan Kanoman ke-IV yang melaksanakan perlawanan sengit pada pemerintahan kolonial Belanda.

Sejarah dibuatnya Keraton Kacirebonan memang tidak terlepas dari peperangan yang sempat berkecamuk di daerah Cirebon. Waktu itu, tahun 1670, Belanda mulai masuk ke dalam kedaulatan Keraton Kanoman yang saat itu di pimpin oleh Pangeran Haerudhin. Perihal ini ditentang oleh putra mahkota kesultanan yang tidak lain ialah Pangeran Muhamad Haerudhin.

Menyertakan rakyat Cirebon yang memberi dukungan, peperangan menentang kolonial Belanda berjalan selama kurang lebih 5 tahun. Akan tetapi, pada tahun 1696 Pangeran Muhamad Haerudhin sukses ditaklukkan serta diasingkan ke daerah Ambon, Maluku.

Pengasingan itu membuat Pangeran Haerudin yang sudah tua tidak mempunyai putra mahkota untuk diangkat jadi Sultan Kanoman. Hal ini dimanfaatkan oleh Pemerintah Belanda dengan sepihak untuk mengusung Pangeran Imamudin yang pro kolonial menjadi Sultan Kanoman yang ke-V.

Tetapi, penobatan yang tidak disetujui rakyat Cirebon tersebut menjadikan peperangan makin menjalar serta menyebar sampai ke wilayah luar Cirebon. Selanjutnya, Pangeran Muhamad Haerudhin pun dipulangkan untuk menurunkan amarah rakyat kota dengan julukan kota udang ini.

Keraton Kanoman yang telah menentukan Pangeran Imamudin menjadi pemangku tahta, membuat Pangeran Muhamad Haerudhin membangun Kesultanan Kacirebonan pada tahun 1800 Masehi dengan gelar Sultan Carbon Amirul Mukminin.

Seperti Keraton Kasepuhan serta Keraton Kanoman, Kecirebonan juga masih menjaga, melestarikan dan melakukan rutinitas serta upacara tradisi seperti Upacara Pajang Jimat dan lain-lain.

Kacirebonan posisinya terletak di kelurahan Pulasaren Kecamatan Pekalipan, persisnya 1 km samping barat daya dari Keraton Kasepuhan lebih kurang 500 meter sisi selatan Keraton Kanoman. Keraton Kacirebonan sendiri posisinya memanjang dari utara ke selatan dengan luas tanah kira-kira 46.500 meter persegi

Sumber: @pricess_mimi1409 via Instagram
Desain Bangunan

Bangunan Kacirebonan sendiri menggunakan model jenis percampuran Cina, Bangunan zaman Kolonial serta Tradisional. Bentuk bangunannya seperti bangunan pembesar pada jaman kolonial Belanda dengan efek arsitektur Eropa yang kuat.

2. Keraton Kanoman

Sumber: @pojokjendela via Instagram
Perlu kita ketahui bersama, bangunan keraton Kanoman sendiri termasuk ke dalam salah satu antara dua bangunan peninggalan kesultanan Cirebon, seusai berdirinya keraton Kanoman pada tahun 1678 Masehi, kesultanan Cirebon pun terdiri dari keraton Kasepuhan serta keraton Kanoman. Kebesaran Islam di Jawa bagian barat tentunya tidak terlepas dari Cirebon.

Sunan Gunung Jati ialah orang yang bertanggungjawab menebarkan agama Islam di Jawa Barat, sehingga jika berbicara mengenai Cirebon tidak akan pernah terlepas dari figur Syarif Hidayatullah atau juga dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati.

Keraton Kanoman dibangun oleh Pangeran Mohamad Badridin/Pangeran Kertawijaya, yang bergelar Sultan Anom I pada kisaran tahun 1678 Masehi. Keraton Kanoman masih patuh memegang adat-istiadat serta pepakem, salah satunya melakukan adat Grebeg Syawal, yang dilakukan satu minggu sesudah Idul Fitri serta berziarah ke makam leluhur, Sunan Gunung Jati yang lokasinya berada di Desa Astana, Cirebon Utara. Peninggalan-peninggalan bersejarah yang terdapat di Keraton Kanoman sangat erat hubungannya dengan syiar agama Islam yang gencar dilaksanakan Sunan Gunung Jati, yang dikenal juga dengan nama Syarif Hidayatullah.

Komplek dari Keraton Kanoman sendiri memiliki luasan yang cukup besar yakni kurang lebih 6 hektare yang posisinya berada di belakang pasar. Di Keraton ini ,tinggallah sultan ke dua belas yang bernama Raja Muhammad Emiruddin yang ditemani dengan keluarganya. Keraton Kanoman adalah komplek yang ruang lingkupnya luas, di dalamnya terdapat bangunan kuno, diantaranya saung yang dikenal dengan nama bangsal witana yang disebut sebagai cikal bakal dari keraton yang luasnya hampir mencapai lima kali lapangan sepak bola.

Di keraton ini masih ada barang barang peninggalan sejarah cirebon, seperti dua kereta bernama Paksi Naga Liman serta Jempana yang masih tertangani baik serta tersimpan di museum.Terdapat peninggalan yang menyerupai bentuk burak, yaitu hewan yang dikendarai Nabi Muhammad saat beliau Isra Mi'raj.

Tak jauh dari kereta, ada bangsal Jinem, atau Pendopo yang digunakan untuk menerima tamu, penetapan sultan serta pemberian restu pada sebuah acara seperti Maulid Nabi. Di sisi tengah Keraton, juga dapat kita temukan sebuah kompleks bangunan yang dikenal dengan nama Siti Inggil.

Perihal yang menarik dari Keraton di wilayah Cirebon ialah terdapatnya piring-piring porselen asli Tiongkok sebagai penghias dinding semua keraton yang ada di wilayah Cirebon. Tidak hanya di keraton, piring-piring keramik itu juga bersebaran hampir di semua situs bersejarah di wilayah Cirebon. Serta yang tak kalah penting dari Keraton di Cirebon ialah keraton senantiasa menghadap ke utara.

Di halaman keraton ini, juga terdapat patung macan yang  menjadi simbol dari Prabu Siliwangi. Di bagian depan keraton senantiasa ada alun alun sebagai tempat bagi rakyat untuk berkumpul serta pasar dijadikan sebagai pusat perekonomian, di samping timur keraton juga senantiasa terdapat masjid.

3. Keraton Kasepuhan Cirebon

Sumber: @nessiamegawati88 via Instagram
Keraton Kasepuhan ialah keraton termegah dan juga keraton paling terawat di erah daCirebon. Arti di tiap-tiap pojok arsitektur keraton ini juga paling bersejarah. Perlu anda ketahui, di halaman depan keraton ini dikelilingi tembok bata merah serta ada bangunan berbentuk pendopo di dalamnya. Keraton Kasepuhan ialah kerajaan islam tempat beberapa pendiri cirebon bertahta, disini pusat pemerintahan Kasultanan Cirebon berdiri pertama kali.

Keraton ini mempunyai museum yang cukup komplet serta berisi benda pusaka dan juga lukisan koleksi kerajaan. Satu diantara koleksi yakni kereta Singa Barong dimana kereta tersebut merupakan kereta kencana Sunan Gunung Jati. Kereta itu sekarang tidak lagi digunakan serta cuma dikeluarkan pada setiap 1 Syawal untuk dibersihkan dengan cara dimandikan. Pada bagian dalam keraton ini juga terdiri dari sebuah bangunan penting berwarna putih yang di dalamnya ada ruangan tamu, ruangan tidur serta singgasana raja.

Sejarah Ringkas Keraton

Keraton Kasepuhan sendiri terdapat dua komplek bangunan paling bersejarah yakni Dalem Agung Pakungwati yang dibangun pada tahun 1430 Masehi oleh Pangeran Cakrabuana serta komplek keraton Pakungwati yang saat ini dikenal dengan sebutan keraton Kasepuhan yang dibangun oleh Pangeran Mas Zainul Arifin pada tahun 1529 Masehi.

Pangeran Cakrabuana dahulu senantiasa bersemayam di Dalem Agung Pakungwati. Keraton Kasepuhan dahulunya bernama Keraton Pakungwati. Sebutan Pakungwati sendiri dinisbatkan pada nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati.

Dewi Pangkuwati meninggal dunia pada tahun 1549 Masehi, yakni di dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dengan umur yang sangat tua. Nama ia diabadikan serta dimuliakan oleh nasab Sunan Gunung Jati, sehingga namanya diabadikan menjadi nama Keraton yakni Keraton Pakungwati yang saat ini dikenal dengan nama Keraton Kasepuhan

Desain Bangunan

Suumber: @dian_ismyama via Instagram

Keraton Kasepuhan adalah satu dari bangunan peninggalan kesultanan Cirebon yang masih terurus secara baik, seperti pada keraton-keraton yang berada di daerah Cirebon, bangunan keraton Kasepuhan sendiri menghadap ke sisi utara.

Pada bagian depan keraton Kesepuhan juga dapat ditemukan alun-alun yang pada saat jaman dulu bernama alun-alun Sangkala Buana yang dikenal sebagai tempat latihan keprajuritan yang diselenggarakan di hari Sabtu atau istilahnya pada saat itu ialah Saptonan serta sebagai titik pusat tatanan letak kompleks pemerintahan keraton.

Dan juga di alun-alun inilah dahulunya dilakukan acara perayaan kesultanan. Alun-alun ini pun juga dijadikan sebagai tempat untuk rakyat berdatangan dengan tujuan untuk memenuhi panggilan atau pun sekilas mendengarkan suatu pengumuman dari Sultan.

Di samping barat Keraton kasepuhan ada Masjid yang cukup istimewa hasil karya dari para wali yakni Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Di samping timur alun-alun dahulunya ialah tempat perekonomian yakni pasar yang saat ini dikenal dengan nama pasar kesepuhan yang benar-benar populer dengan pocinya.

Model bentuk keraton sendiri, menghadap ke arah utara dengan bangunan Masjid di samping barat serta pasar di samping timur dan juga alun-alun ditengahnya adalah suatu model tatanan letak keraton pada saat itu khususnya yang terdapat di wilayah pesisir. Bahkan sampai saat ini, model ini pun banyak diikuti modelnya oleh semua kabupaten/kota khususnya di daerah Jawa. Pada bagian depan gedung pemerintahan pun ada alun-alun dan juga di samping baratnya terdapat sebuah masjid.

Perlu kita ketahui bersama, keraton Kasepuhan mempunyai dua buah pintu gerbang, pintu gerbang utama dari keraton Kasepuhan berlokasi di sisi utara serta pintu gerbang ke-2 ada di sisi selatan kompleks. Gerbang utama dikenal dengan nama Kreteg Pangrawit yang artinya adalah jembatan kecil. Gerbang ini berbentuk jembatan, sedangkan di sisi selatan disebutkan Lawang sanga yang artinya pintu sembilan. Seusai melalui Kreteg Pangrawit kita akan menuju atau sampai di bagian depan keraton. Pada bagian ini dapat dijumpai dua bangunan yakni Pancaratna dan juga Pancaniti.

Bangunan Pancaratna berlokasi di kiri depan kompleks arah barat yang memiliki ukuran 8 x 8 meter. Lantai tegel, konstruksi atap ditopang empat sokoguru di atas lantai yang lebih tinggi serta du belas tiang pendukung di permukaan lantai yang lebih rendah. Atap bangunan sendiri berbahan dasar genteng yang ujungnya terdapat mamolo. Bangunan ini memiliki fungsi sebagai tempat seba atau tempat untuk bertemu para pembesar desa yang diterima oleh Demang atau Wedana.

Pancaniti bermakna jalan atasan, merupakan sebuah bangunn pendopo sisi timur yang difungsikan sebagai tempat perwira-perwira keraton melatih prajurit-prajurit saat dilaksanakannya latihan keprajuritan di alun-alun dan juga dijadikan sebagai tempat pengadilan. Bangunan ini memiliki ukuran 8 x 8 meter. Bangunan ini sendiri keadaanya terbuka tanpa adanya dinding. Tiang-tiang dengan jumlah enam belas batang menjadi penopang bagi atap sirap. Bangunan ini pun juga dilengkapi dengan pagar terali besi untuk meningkatkan keamanannya.

4. Keraton Kaprabonan

Sumber: @rachmawatiindah via Instagram
Selain terkenal dengan julukan kota udang, kota Cirebon dikenal juga sebagai kota wali, dikarenakan Cirebon jadi pusat penebaran agama Islam di Jawa Barat kisaran abad ke-16. Ada banyak kerajaan Islam yang berdiri di kota Cirebon, atau lebih dikenal dengan nama keraton. Diantaranya ialah Keraton Kaprabonan.

Keraton dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai makna yaitu tempat tinggal ratu atau raja; istana raja, kerajaan. Keraton Kaprabonan ialah satu antara empat keraton yang berada di kota Cirebon. Tidak sama seperti halnya tiga keraton lain, Keraton Kaprabonan sendiri pernah menuai masalah lantaran dipandang tidak termasuk ke dalam golongan keraton.

Kaprabonan tercipta sebab adanya konflik di Keraton Kanoman yang saat itu di pimpin oleh Sultan Badrudin. Pembangunannya direncanakan pertama kali pada tahun 1696 Masehi. Karena terdapatnya konflik, Sultan Badrudin membuat keputusan untuk memisahkan diri dari Keraton Kanoman serta didirikanlah Kaprabonan.

Arti dari Kaprabonan adalah kebonnya Cirebon. Juga dikenal sebagai peguron atau tempat berguru. Keraton Kaprabonan memiliki fungsi sebagai tempat penobatan jika ada raja yang akan diberi gelar, karena itu dia mesti dikukuhkan di Keraton Kaprabonan. Sampai sekarang Kaprabonan masih dihuni oleh keluarga sultan ke-10, yakni Sultan Pangeran Hempi Raja Kaprabon. Kaprabonan saat itu pun, dijadikan sebagai tempat pengukuhannya raja ketika akan dilakukannya sebuah proses pengukuhan. Akan tetapi, saat ini tempat tinggal raja atau istana tidak dibuka bagi khalayak umum.

Areal yang berada Keraton Kaprabonan tidaklah terlalu luas jika dibandingan dengan keraton lain di kota Cirebon, yakni kurang lebih 1 hektar. Berlokasi di Jalan Lemahwungkuk, gerbang khusus keraton ini tidaklah terlalu besar, bahkan juga tidaklah terlalu mencirikan sebuah bangunan keraton dikarenakan bercampur baur dengan area Pasar Kanoman.

Keraton ini dari sisi arsitektural dikatakan sebagai bangunan Ndalem, sebab Keraton Keprabon tidak mempunyai struktur suatu komplek atau bangunan keraton, tidak mempunyai alun-alun, serta masjid agung, tetapi lebih kelihatan sebagai suatu tempat tinggal bagi pemangku tradisi (Ndalem).

Jalan masuk keraton ini yaitu melewati sebuah gang dengan lebar sekitar 3 meter diantara ruko-ruko. Bangunan ini pun di dalamnya juga amat sederhana, tidak memperlihatkan kemewahan serta kebesaran suatu keraton, lebih menyerupai bangunan rumah dengan halaman kecil di bagian dalamnya.

5. Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Sumber: @melatiramadhana via Instagram
Perlu kalian ketahui, Masjid Agung Sang Cipta Rasa dikenal juga dengan nama Masjid Agung Kasepuhan atau Masjid Agung Cirebon. Masjid ini merupakan masjid yang berlokasi di kompleks Keraton Kasepuhan, Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Konon katanya, masjid ini ialah masjid paling tua di Cirebon, yakni dibuat kira-kira tahun 1480 Masehi atau ketika para Wali Songo menebarkan agama Islam di tanah pulau Jawa. Nama masjid ini diambil dari kata "sang" yang berarti keagungan, "cipta" yang bermakna dibuat, serta "rasa" yang bermakna dipakai.

Menurut adat setempat, pembangunan masjid ini dikisahkan libatkan kira-kira lima ratus orang yang dihadirkan dari kerajaan Majapahit, Demak, serta Cirebon khususnya. Dalam pembangunan masjid ini, Sunan Gunung Jati memberikan tanggung jawab kepada Sunan Kalijaga untuk menjadi arsiteknya. Tidak hanya itu, Sunan Gunung Jati juga  membawa Raden Sepat, yang merupakan arsitek handal Majapahit yang merupakan tawanan perang Demak-Majapahit, agar menolong Sunan Kalijaga dalam membuat serta mendirikan bangunan masjid itu.

Dahulu kala, dikisahkan masjid ini mempunyai memolo atau disebut juga dengan kemuncak atap. Akan tetapi, kala azan pitu salat Subuh diadakan guna menyingkirkan Aji Menjangan Wulung, kubah itu berpindah ke Masjid Agung Banten yang hingga saat ini dapat kita lihat masih mempunyai dua kubah. Sebab kisah tersebutlah, sampai saat ini setiap kali salat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa diadakan Azan Pitu yakni lantunan azan yang dilaksanakan secara berbarengan oleh tujuh orang muazin yang memakai seragam serba putih.

Desain Masjid

Sumber: @melatiramadhana via Instagram

Kekhasan masjid ini diantaranya berada pada atapnya, dimana atap masjid ini tidak mempunyai kemuncak atap seperti yang umum dijumpai pada setiap atap masjid-masjid yang ada di di pulau Jawa. Masjid ini terbagi menjadi dua ruang, yakni teras dan juga ruang khusus.

Untuk menuju ke lokasi ruang utama/khusus ada sembilan buah pintu. Banyaknya pintu ini melambangkan Wali Songo yang berjumlah sembilan orang. Warga kota Cirebon tempo dahulu juga terbagi dalam beberapa etnik. Ini bisa kita lihat dan amati pada arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang menggabungkan model arsitektur Demak, Majapahit, serta Cirebon.

Di bagian mihrab masjid, juga dapat kita temui ukiran berupa bunga teratai yang dibuat sendiri oleh Sunan Kalijaga. Tidak hanya itu, dibagian mihrab juga dapat ditemukan tiga buah ubin yang memiliki tanda spesial guna melambangkan tiga ajaran inti agama, yakni Iman, Islam, dan juga Ihsan. Konon katanya, ubin itu dipasang bersama oleh Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, serta Sunan Kalijaga pada pertama kali masjid didirikan.

Di beranda sisi utara masjid, dapat kita lihat dan amati secara jelas sumur zam-zam atau dikenal juga dengan nama Banyu Cis Sang Cipta Rasa yang ramai didatangi orang, khususnya pada bulan Ramadhan. Tidak hanya dipercaya bermanfaat untuk menyembuhkan beberapa penyakit, sumur yang terdiri dari dua kolam ini dapat dipakai untuk mencoba atau menguji kejujuran dari seseorang.

6. Kereta Singa Barong Kasepuhan

Sumber: @iklan_jehh via Instagram
Kereta kencana kepunyaaa Keraton Kasepuhan ini dikenal dengan nama kereta singa barong. Kereta Singa Barong dibuat pada era ke-15 M oleh cucu dari Sunan Gunung Jati yang tujuan dibuatnya untuk dijadikan simbol persahabatan. Keraton Cirebon khususnya Keraton Kasepuhan mempunyai jalinan dan hubungan yang baik dengan bangsa-bangsa lain, salah satunya India, negeri Cina serta Mesir.

Kereta Singa Barong dibuat untuk dijadikan sebagai salahsatu lambang atau simbol yang mengakrabkan keempat bangsa tersebut. Singa Barong jadi bukti percampuran budaya lokal serta luar negeri. Saat ini, kereta itu terletak di Museum Singa Barong yang tempatnya tepat di Keraton Kasepuhan, Cirebon, Jawa Barat.

Kereta cantik ini mempunyai bentuk yang unik, dimana terdapat kepala naga dengan belalai gajah, serta satu sayap pada tubuh naga itu, sementara saat keluarga kerajaan menaikinya, konon kereta Singa Barong mesti ditarik oleh 4 ekor kerbau putih.

Kepala naga adalah simbol negeri Cina, belalai gajah adalah perlambang bangsa Hindu di wilayah India, dikarenakan sebelum masuknya Islam ke pulau Jawa, tanah Cirebon dikuasai oleh pemeluk agama Hindu, sedangan sayap serta tubuh buroq adalah perlambang/simbol dari negara Mesir.

Di bagian belalai naga, ada satu trisula. Trisula ini melambangkan rasa, cipta, dan karsa manusia. Tidak hanya itu, di trisula juga dapat kita temukan susunan serbuk emas serta intan pada badan kereta hingga membuatnya lebih indah saat dilihat. Konon katanya, Kereta Singa Barong mempunyai kekhasan lain.

Tidak hanya kecantikannya, kereta ini mempunyai roda yang tidak kalah hebat, dimana rodanya dapat berputar hingga 90 derajat. Hal ini membuat kereta menjadi lebih mudah dalam berbelok arah.

UNESCO  yang merupakan sebuah organisasi pendidikan serta kebudayaan dari PBB sudah memutuskan kereta Singa Barong jadi satu diantara kereta kencana paling cantik serta unik di dunia

7. Patung Macan Putih Cirebon

Sumber: instazu.com

Dua Buah Patung Macan Putih adalah sebuah peninggalan dari Kesultanan Cirebon yang ada di keraton Kasepuhan, patung ini lokasinya berada di depan keraton-keraton yang ada di Cirebon khususnya Keraton Kasepuhan.

Makna dari Patung Macan Putih itu yakni melambangkan keluarga besar Pajajaran yang disebut sebagai keturunan Maharaja Prabu Siliwangi. Warga saat ini lebih memandang bahwa 2 patung itu merupakan makhluk penjaga dari suatu tempat yang mistis atau sakral, namun sesungguhnya peranan dari patung itu pada zaman dulu hanya dimanfaatkan sebagai simbol keturunan ataupun keluarga Prabu Siliwangi.

8. Mangkok Kayu Ukiran Cirebon

Sumber: cirebonmuseumtropen.blogspot.com

Peninggalan Kerajaan Cirebon berikut ini ialah kayu berukir yang disebut-sebut sebagai salah satu barang peninggalan kerajaan Cirebon yang digunakan sultan sebagai sebuah nampan, awal mulanya warna dari mangkuk itu terdapat beberapa macam warna dan pada saat ini yang terdapat di museum Tropen Belanda hanyalah mangkuk kayu bercorak coklat yang memiliki suatu ukiran pohon kehidupan.

Mangkuk itu dipakai kerajaan sebagai tempat atau nampan untuk membawakan keluarga raja makanan atau lainnya , makna dari corak ukiran itu melambangkan asal-usul suatu kehidupan yang panjang yang dirasakan manusia di dunia ini.

9. Makam Sunan Gunung Jati

Cirebon mempunyai keterikatan yang kuat tentang histori penyebaran agama Islam di Indonesia, terutama pulau Jawa. Satu dari sembilan tokoh wali Songo yang menyebarkan agama Islam yang populer di Indonesia, yakni Syarief Hidayatullah yang diberi gelar sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati  adalah sultan pertama di Kasultanan Cirebon yang dahulu bernama Keraton Pakungwati. Tokoh ini merupakan ulama penting yang turut berjasa dalam menebarkan agama Islam di sisi barat pulau Jawa.

Sunan Gunung Jati dilahirkan pada tahun 1450 M, akan tetapi ada pula yang mengemukakan jika beliau lahir pada tahun 1448 M. Tokoh yang bertindak sebagai seorang pemimpin spriritual, sufi, mubalig, serta ulama ini meninggal dunia pada tahun 1568 Masehi, yang kala itu umurnya mencapai 120 tahun. Beliau selanjutnya dikebumikan di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, yang memiliki jarak kurang lebih 3 kilometer dari kota Cirebon.

Perlu kita ketahui bersama, makam Sunan Gunung Jati berada dalam sebuah kompleks pemakaman yang berlokasi di atas area seluas lima hektar, yang dibagi jadi dua kompleks pemakaman. Kompleks intinya ialah kompleks tempat makam Sunan Gunung Jati dimakamkan, yakni di Gunung Sembung, yang berisi lebih kurang 500 makam.

Di tempat ini, juga terdapat makam istri Sunan Gunung Jati, yakni Putri Ong Tien Nio yang juga dikenal dengan nama Nyi Ratu Rara Semanding. Putri Ong Tien Nio adalah puteri dari Kaisar Hong Gie yang berasal dari Dinasti Ming. Jadi tidaklah heran bila sedemikian banyaknya keramik yang menghiasi kompleks pemakaman ini.

10. Kutagara Wadasan

Sumber: @cirebonwarta via Instagram

Kutagara Wadasan, memiliki ukuran lebar 2,5 meter serta tinggi sekitar 2,5 meter, yang dibuat oleh Sultan Sepuh I Syamsudin Martawidjaja pada kisaran tahun 1678 Masehi. Kutagara Wadasan ialah gapura yang bercat putih dengan ciri khas kota Cirebon, model arsitek Cirebon terlihat di bagian bawah kaki gapura yang berukiran wadasan serta sisi atas dengan ukiran mega mendung. Makna ukiran itu adalah seseorang mesti memiliki dasar yang kuat bila menjadi seorang pemimpin atau sultan yang mesti menaungi bawahan dan juga rakyatnya.

11. Tajuq Agung dan Beduq Samogiri

Perlu kita ketahui, bangunan utama Tajug Agung memiliki ukuran 6 x 6 meter dengan luas teras 8 x 2,5 meter. Sisi terasnya sendiri terbuat dari kayu pada setengah permukaan lantai sedangkan setengah bagiannya lagi  diberikan terali yang terbuat dari kayu. Dinding bangunan utama adalah dinding tembok, mihrabnya memiliki bentuk melengkung yang mempunyai ukuran 5 x 3 x 3 meter.

Pada bagian mihrab bangunan ini, dapat kita temukan sebuah mimbar terbuat dari kayu yang memiliki ukuran 0,90 x 0,70 x 2 meter. Atap Tajug Agung adalah atap tumpang dua yang dilengkapi dengan sirap. Konstruksi atapnya sendiri disangga dengan empat  tiang pokok. Tajug Agung ini memiliki fungsi sebagai tempat beribadah para kerabat keraton. Bangunan Tajug Agung juga dilengkapi dengan pos atau tempat bedug Samogiri.

Pos bedug Samogiri posisinya ada di depan Tajug Agung serta menghadap ke timur, berdenah bujur sangkar yang memiliki ukuran 4 x 4 meter, dimana di dalamnya terdapat sebuah bedug. Pos bedug ini dibuat tanpa menggunakan dinding. Bangunan ini  memiliki atap yang menyerupai bentuk limas, sedangkan penutup atapnya disanggah oleh empat tiang pokok serta lima tiang pendukung.

12. Regol Pengada

Regol Pengada ialah pintu gerbang yang memiliki bentuk paduraksa, yang bahan dasar bangunannya terbuat dari batu. Bangunan ini daun pintunya terbuat dari bahan dasar kayu. Gapura Lonceng sendiri terdapat disamping timur Gerbang Pengada. Gerbang ini memiliki bentuk menyerupai kori agung atau gapura beratap yang memakai bahan dasar berupa batu bata.

Bangunan Pengada yang ada tepat di bagian depan gerbang Regol Pengada memiliki ukuran 17 x 9,5 meter yang memiliki fungsi sebagai tempat memberikan berkat dan juga sebagai tempat pengecekan sebelum menghadap ke raja.  Di bagian atas tembok, sekitar kompleks Siti Inggil ini juga terdapat Candi Laras yang berguna sebagai penyelaras dari kompleks Siti Inggil ini.

13. Mande Malang Semirang

Mande Malang Semirang adalah bangunan utama yang berlokasi ditengah-tengah komplek Siti Inggil dengan banyaknya tiang pokok sebanyak enam buah yang melambangkan rukun iman dan apabila dijumlahkan total tiangnya berjumlah dua puluh buah. Banyaknya tiang tersebut tentunya melambangkan 20 sifat-sifat Allah. Bangunan ini adalah tempat sultan menyaksikan latihan keprajuritan atau pun menyaksikan pelaksanaan hukuman.

14. Bangunan Mande Pengiring

Bangunan Mande Pengiri yakni bangunan yang ada di keraton Kasepuhan tepatnya di kompleks Siti Inggil atau lebih tepatnya di belakang bangunan mande Malang Semirang, yang dahulunya dibuat oleh Sunan Gunung Jati. Bangunan tersebut dahulunya dipakai sebagai tempat santai atau duduk untuk pengiring sultan , karena itu mengapa bangunan tersebut dikenal dengan nama Mande Pengiring dimana nama tersebut sesuai kegunaan dari bangunan itu.

15. Mande Karesmen

Peninggalan sejarah kesultanan Cirebon satu ini adalah Bangunan Mande Karesmen yakni bangunan yang terletak disebelah Mande Pengiring, tempat ini merupakan tempat pengiring tetabuhan atau gamelan. Sampai saat ini ,bangunan ini masih digunakan untuk membunyikan gamelan Sekaten (Gong Sekati), gamelan ini biasanya hanya dibunyikan sebanyak dua kali dalam setahun yaitu pada hari – hari tertentu saja seperti saat perayaan Idul Fitri dan  juga Idul Adha.

16. Mande Pandawa Lima Dan Semar Tinandu

Mande Pendawa Lima adalah bangunan yang berlokasi di samping kiri bangunan utama yakni mande Malang Semirang, dengan banyaknya tiang penyangga yakni 5 buah yang melambangkan jumlah rukun islam. Bangunan ini merupakan tempat beberapa pengawal pribadi sultan.

Sedangkan, Mande Semar Tinandu adalah bangunan yang berada di samping kanan bangunan utama yaitu mande Malang Semirang yang memiliki 2 buah tiang untuk melambangkan dua kalimat Syahadat. Bangunan ini ialah tempat penasehat Sultan atau Penghulu.

17. Alun-Alun Utara Keraton Kasepuhan Cirebon

Satu diantara peninggalan sejarah dari kesultanan Cirebon ialah Alun-alun Utara Keraton Kasepuhan Cirebon. Alun-alun ini terletak di sisi Utara Keraton Kasepuhan Cirebon. Di sisi Barat Alun-alun dapat kita temui Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

Dahulu, di sisi Utara Alun-alun Utara Keraton Kasepuhan terdapat satu penjara, dan terdapat pula sebuah pasar di sisi Timur, akan tetapi saat ini ke dua tempat itu sudah tidak bisa kita lihat lagi. Apabila tengah berlangsung kegiatan resmi di Alun-alun Utara Keraton Kasepuhan, Sultan Cirebon umumnya melihat dari singgasananya di Mande Malang Semirang yang ada di kompleks Siti Inggil.

Nama Alun-alun Utara Keraton Kasepuhan dahulunya ialah Alun-alun Utara Sangkala Buana Keraton Kasepuhan, yang biasa dipakai sebagai tempat latihan keprajuritan pada setiap hari Sabtu sampai-sampai disebut Saptonan, dan jadi tempat pelaksanaan hukuman pada rakyat yang bersalah, seperti hukum cambuk.

Sekarang, Alun-alun Utara Keraton Kasepuhan baru kelihatan hidup bila sedang berjalan kegiatan adat tahunan Cirebon pada hari-hari khusus, dan acara-acara festival seni budaya, contohnya Grebeg Maulud serta Festival Seni Pesisir Utara.

Itulah 17 Peninggalan Kesultanan Cirebon Paling Bersejarah Lengkap Dengan Penjelasan yang dapat Abang Nji informasikan kepada sahabat sekalian. Semoga dengan adanya artikel ini, dapat menambah wawasan serta referensi sahabat sekalian tentang sejarah kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Indonesia.

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar