13 Peninggalan Kesultanan Aceh Darussalam Paling Bersejarah Beserta Penjelasan

Peninggalan Kesultanan Aceh - Kesultanan Aceh adalah suatu kerajaan Islam yang pernah berdiri di prov. Aceh, Indonesia. Kesultanan Aceh berlokasi di sisi Utara pulau Sumatera dengan ibu kota Bandar Aceh Darussalam. Kesultanan Aceh Darussalam dipimpin oleh sultan pertamanya yang bernama sultan Ali Mughayat Syah yang diangkat pada 1 Jumadil Awal 913 Hijriah atau 8 Sepetember 1507.

Kesultanan Aceh dibuat oleh sultan Ali Mughayat Syah yakni dalam tahun 1496. Pada mulanya, kerajaan ini berdiri pada atas daerah kerajaan Lamuri yang lalu disatukan dengan beberapa kerajaan sekitarnya meliputi Pedir, Daya, Lidie & Nakur karena berhasil ditundukan oleh kesultanan Aceh. Setelah itu pun wilayah Pasai pada tahun 1524 menjadi bagian menurut kedaulatan kesultanan Aceh yang kemudian disusul dengan Aru.

Tampuk kepemimpinan kesultanan Aceh pun selalu berganti kepemimpinan, dimana kesultanan ini dipimpin oleh Ali Mughayat Syah sekaligus sultan pertama sampai tahun 1528, kemudian digantikan oleh putra sulungnya yakni sultan Salahuddin yang berkuasa hingga tahun 1537

Itulah sejarah ringkas berdirinya kesultanan Aceh sekaligus sultan-sultan perintis berdirinya kesultanan Aceh. Dengan sejarah panjang kerajaan ini, tentunya banyak pula peninggalan-peninggalan sejarah baik dalam bentuk masjid, benteng maupun peninggalan-peninggalan lainnya. Untuk itu, Abang Nji akan memberikan informasi kepada sahabat sekalian 13 Peninggalan Kesultanan Aceh Paling Bersejarah Beserta Penjelasan.

1. Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman merupakan sebuah masjid yang posisinya berada di pusat kota Banda Aceh, prov. Aceh, Indonesia. Masjid ini dapat dikatakan sebagai suatu simbol agama, semangat, budaya dan perjuangan rakyat Aceh. Masjid ini juga termasuk sebagai salah satu bangunan yang selamat saat terjadinya Tsunami aceh yang terjadi pada tahun 2004.

Masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 1612 saat di bawah kepemimpinan sultan Iskandar Muda. Namun, ada juga pendapat yang menyatakan bahwa masjid ini dibangun lebih awal saat di bawah kepemimpinan sultan Alaidin Mahmudsyah pada tahun 1292.

Saat kolonian Belanda melalukan serangan kepada kesultanan Aceh pada 10 April 1873, masyarakat aceh menjadikan masjid ini sebagai benteng pertempuran dan menyerang balik pasukan belanda dari dalam masjid. Pasukan Belanda pun semakin gencar dan serangannya dengan menembakan suar ke atap masjid yang saat itu terbuat dari jerami hingga menyebabkan masjid terbakar habis.

Sebagai permintaan maaf, jenderal Van Swieten yang merupakan tokoh militer Belanda berjanji kepada pemimpin lokal akan membangun kembali masjid yang telah rusak. Akhirnya, pada tahun 1879 Belanda mendirikan kembali masjid Raya Baiturrahaman yang merupakan bentuk permintaan maaf dan juga niat untuk mengurangi kemarahan masyarakat Aceh.

Konstruksi bangunan yang dimulai pada tahun 1879 dengan peletakan batu pertama yang dilakukan oleh teungku Qadhi Malikul Adil yang kemudian juga ditunjuk sebagai imam masjid raya Baiturrahman ini. Setelah dilakukan proses pembangunan, akhirnya masjid ini diselesaikan pada 27 Desember 1882 saat kepemimpinan di bawah sultan terakhir Aceh yang bernama Muhammad Daud Syah.

Saat pembangunan selesai, banyak rakyat Aceh yang menolak beribadah di masjid raya Baiturrahman ini karena dibangun oleh orang Belanda yang dahulunya sebagai musuh. Akan tetapi, saat ini hal tersebut sudah dilupakan dan masjid Raya Baiturrahman telah menjadi kebanggan bagi rakyat Aceh.

Desain Bangunan

Pada mulanya, masjid raya Baiturrahma dirancang oleh arsitek Belanda yakni Gerrit Bruins yang kemudian diadaptasi oleh L.P. Luijks yang bertugas mengawasi pekerjaan konstruksi yang dilaksanakan oleh kontraktor yang bernama Lie A Sie. Desain yang digunakan yaitu gaya Kebangkitan Mughal yang cirinya terdapat kubah besar yang dilengkapi dengan menara-menara.

Interior masjid dihiasi dengan dinding yang terdapat pilar yang berelief, jendela kaca patri dari Belgia, lantai dan tangga marmer dari Tiongkok, batu bangunan yang berasal dari Belanda, lampu hias gantung perunggu dan pintu kayu yang berdekorasi.

2. Masjid Kuno Indrapuri

Sumber: @masjidinfo via Instagram

Masjid Indrapuri merupakan suatu bangunan candi yang asal mulanya berawal dari kerajaan Hindu Lamuri pada abad ke 12 Masehi serta juga digunakan sebagai tempat pemujaan dewa sebelum masuknya agama Islam. Masjid ini terletak di bantaran Krueng (sungai) Aceh di keude Indrapuri, kab. Aceh Besar. Bangunan ini dibangun di atas tanah yang memiliki luas 33.875 meter persegi dengan keringgian berada di 4,8 MDPL.

Masjid ini diperkirakan didirikan pertama kali pada tahun 1207 Hijriah/ 1618 Masehi yang dibangun diatas bekas reruntuhan pura masa pra Islam. Ada sebuah riwayat yang menyatakan bahwa masjid Indrapuri didirikan oleh sultan Iskandar Muda, yaitu sultan Aceh yang memimpin dari tahun 1607 hingga 1636 Masehi.

Dahulu, sebelum didirikan masjid, wilayah ini adalah salah satu Pura sekaligus juga digunakan sebagai benteng kerajaan Lamuri. Perlu kita ketahui bersama, Lamuri sendiri adalah kerajaan bercorak Hindu-Budha yang dipercaya pernah jaya di ujung pulau Sumatera sebelum masuk dan berkembangnya Islam. Keberadaan Pura ini diperkirakan telah didirikan sejak abad 10 Masehi.

Arsitektur Masjid

Bangunan masjid kuno Indrapuri dibangun menggunakan campuran batu dan tanah liat. Saat pendirian masjid, sultan Iskandar Muda memasang 36 tiang penyangga sebagai penopang bangunan masjid.

Pada tiang masjid, masih terlihat jelas hasil ukiran khas masa kerajaan kuno.  Masjid ini juga memiliki atap yang mirip piramida dengan susunan 4 atap dari bawah hingga ujungnya, dan hal ini adalah sebagai ciri khas dari masjid-masjid tradisional Aceh.

Bangunan masjid dengan 4 susunan atap tidak hanya sebuah desain semata, akan tetapi juga mengandung makna yang artinya empat tingkat tersebut melambangkan 4 tingkatan ilmu dalam Islam. 4 tingkatan ilmu tersebut dimulai dari syari'at, tarikat, hakikat dan ma'rifat.

3. Situs Taman Sari Gunongan

Sumber: @zulahadi via Instagram

Taman Sari Gunongan adalah peninggalan kesultan Aceh yang berada di jalan Teuku Umar, kel. Sukaramai, kec. Baiturrahaman, kota Banda Aceh, prov. Aceh. Berdasarkan catatan sejarah taman sari Gunongan pertama kali dibangun oleh sultan Iskandar Muda dengan tujuan untuk menyenangkan hati permaisurinya bernama putri Pahang yang terkadang merindukan kampung halaman.

Perlu kita ketahui bersama, sultan Iskandar Muda menikahi putri Pahang setelah kesultanan Aceh menundukan kerajaan Pahang yang ada di Malaysia pada tahun 1615 M. sultan pun menjadikan putri Pahang sebagai istri keduanya setalah putri Tsani Reubee, Pidie. Dikarenakan kesibukan sultan Iskandar Muda dalam pemerintahan, putri Pahang sering merasa kesepian dan selalu teringat dengan kampung halamannya di Pahang.

Sebagai seorang suami, sultan Iskandar Muda pun mengetahui rasa kesepian dari ratu Pahang. Untuk membahagiakan permaisurinya tersebut, sultan akhirnya mendirikan sebuah gunung berukuran kecil sebagai miniatur perbukitan yang mirip dengan bukit yang mengelilingi istana putroe Phang saat berada di Pahang.

Sultan Iskandar Muda pun memerintahkan para pekerja untuk membangun bukit tersebut, bahkan rakyat pun turut serta membangun bangunan tersebut dengan mengecat putih bangunan dengan kapur saat proses pembangunan. Hingga jadilah bangunan tersebut yang merupakan gambaran kecil daerah pahang yang bergunung-gunung. Disekitaran bukit tersebut juga dibangun taman yang ditanami bungan dan pepohonan dan dikenallah hingga sekarang dengan nama taman Sari Gunongan.

4. Pintu Khop

Sumber: @fotoriza via Instagram

Pintu Khop adalah suatu pintu gerbang kecil yang meyerupai bentuk kubah, dimana pintu ini memiliki fungsi untuk menghubungkan taman Sari Gunongan dengan istana. Pintu Khop juga dijadikan sebeagi tempat peristirahatan putri Pahang setelah selesai berenang. Pintu ini posisinya tidak begitu jauh dengan Gundongan yang juga berada di dalam komplek taman putroe Phang atau putri Pahang.

Pintu Khop dapat diartikan juga pintu mutiara keindraan atau kedewaan. Pintu ini sendiri memiliki panjang yang mencapai 2 meter dan lebar 3 meter, dimana bahan dasar pembuatan pintu ini adalah kapur. Salah satu aturan yang harus dipatuhi tentang pintu ini yakni, hanya keluarga istana kerajaan saja yang boleh melewati pintu gerbang ini.

Pintu Khof berdiri sangat indah dan megah dengan dikelilingi kolam yang airnya bersih dan juga jernih, dimana sumber air dialirkan dari Krueng Daroy atau dikenal juga dengan sebutan sungai Darul Ashiqi. Areal lokasi pintu ini memiliki luasan yang cukup besar yaitu 4.760 meter persegi yang saat ini dikelola dan dijadikan taman rekreasi wisata oleh pemerintah kota Banda Aceh.

5. Benteng Indra Patra

Sumber: @hikayat_pejalan via Instagram

Benteng Indra Patra merupakan sebuah bangunan benteng bercorak Hindu yang lokasinya di kab. Aceh Besar, Aceh. Benteng ini pada mulanya difungsikan sebagai bangunan pertahanan dari serangan musuh yang menyerang wilayah Aceh.

Perlu kita ketahui bersama bangunan benteng ini didirikan pada masa kerajaan Lamuri, dimana kerajaan Lamuri ini merupakan sebuah kerajaan bercorak Hindu di wilayah Aceh sebelum masuknya masa kerajaan Islam. Pada abad ke 17, telah banyak aktivitas perdagangan antar negara serta banyak melibatkan berbagai pihak luar seperti bangsa Tamil, Arab, Siam dan juga India.

Sumber: @hikayat_pejalan via Instagram

Benteng Indra Prata sendiri berlokasi di wilayah Ladong, kab. Aceh Besar dan jaraknya sekitar 19 Kilometer dari kota Banda Aceh. Benteng ini memiliki ukuran luas sebesar 70 x 70 meter, yang pada awalnya terdapat 3 bangunan benteng, akan tetapi saat ini hanya tersisa dua bangunan benteng dan dua stupa.

Saat kerajaan Hindu mengalami keruntuhan, benteng ini tetap difungsikan sebagai benteng pertahanan dari serangan musuh saat kepimpinan sultan Iskandar Muda dan Laksamana Malahayati.

6. Makam Sultan Iskandar Muda

Sumber: reza_irfandi via Instagram

Makam Sultan Iskandar muda berlokasi bersebelahan dengan Meuligoe Aceh yakni tempat kediaman resmi gubernur Aceh dan juga berdampingan dengan museum Aceh. Makam ini dahulunya sempat  tidak diketahui keberadaannya karena dihilangkan jejaknya oleh pasukan Belanda saat terjadinya perang Aceh.

Kemudian, barulah pada 19 Desember 1952 lokasi dari makam sultan Iskandar Muda dapat ditemukan kembali, dikarenakan adanya petunjuk dari mantan permaisuri salah seorang sultan Aceh bernama Pocut Meurah.

Saat tabuk kepemimpinan dipegang oleh sultan Iskandar Muda sejak tahun 1607 hingga 1636, ia membawa kesultanan Aceh mencapai puncak kejayaan. Hal ini dibuktikan pada saat abad ke 17, kesultanan Aceh masuk ke dalam peringkat 5 terbesar diantara kerajaan-kerajaan Islam yang ada di dunia. Saat itu, kesultanan Aceh menjadi tempat perdagangan internasional dengan disinggahi kapal-kapal asing yang membawa hasil bumi dari benua Asia ke benua Eropa.

Tidak hanya dikenal raja yang mampu membawa kesultanan Aceh pada puncak kejayaan, sultan Iskandar Muda juga dikenal sebagai raja yang adil dan bijaksana bahkan kepada keluarganya sendiri. Hal ini ia buktikan dengan memancung puteranya bernama Meurah Pupok di khalayak umum dikarenakan melakukan pelanggaran yang berat.

7. Meriam Sri Rambai

Salah satu bukti bahwa kerajaan ini benar-benar mencapai puncak kejayaan pada masanya adalah adanya peninggalan sejarah berupa peralatan militer yaitu meriam Sri Rambai. Meriam Sri Rambai saat ini diletakan mengarah ke laut di Fort Cornwallis, George Town, Penang, Malaysia.

Senjata ini merupakan senjata kebanggan dari sultan Iskandar Muda yang pernah juga dipakai oleh Francis Light pada tahun 1786 Masehi yang dipergunakan untuk mempertahankan pulau Penang dari berbagai serangan musuh yang ingin menguasainya.

Meriam ini sendiri dibuat pada masa sultan Selim II Turki Utsmani yang mengirim teknisi serta pembuat senjata dari Turki ke wilayah Aceh. Dengan didatangkannya teknisi ini, Aceh kemudian menyerap dan mempelajari cara pembuatan meriam sehingga mampu memproduksi meriam sendiri yang dibuat dengan bahan dasar kuningan yang kemudian difungsikan untuk mempertahankan kerajaan Aceh dari berbagai serangan musuh.

Pada punggung meriam terdapat ukiran yang ditulis dalam bahasa Jawi yang berbunyi :

Tawanan Sulthan kita Sri Sulthan Perkasa Alam Johan Berdaulat menitahkan Orang Kaya Sri Maharaja akan Panglima dan Orang Kaya Laksamana dan Orang Kaya Lela Wangsa akan mengamuk ke Johor Sanat 1023 H (1613 M).

8. Pedang Aman Nyerang

Pada masa lampau, ada seorang warga yang bernama Nyerang, dimana ia mempunyai sebuah pedang yang pernah direbut oleh pasukan Belanda. Aman Nyerang memutuskan untuk hidup mengembara di hutan selama kurang lenih 20 tahun. Akan tetapi, pada 3 Oktober 1922 akhirnya tempat persembunyian Aman Nyerang ditemukan oleh pasukan Belanda dan ia pun dibunuh.

Setelah dibunuh, letnan Jordans yang merupakan tentara pasukan Belanda membawa pedang tersebut ke Belanda. Hingga menjelang wafatnya, letnan Jordans meminta kepada putrinya agar mengembalikan pedang yang pernah dibawanya kembali ke Aceh dan disimpan di suatu tempat seperti halnya museum Aceh.

Kemudian, pada tahun 2000 letnan Jordans pun wafat dan putrinya pun melaksanakan pesan terakhir ayahnya untuk mengembalikan pedang Aman Nyerang ke Aceh. Pedang tersebut pun dikembalikan melalui pengurus yayasan Dana Peucut yang ada di Belanda kepada gubernur Aceh dan hal ini berlangsung pada tanggal 14 Maret 2003.

9. Mata Uang Emas Aceh

Sumber: @instazamrony via Instagram
Seperti kita ketahui bersama, posisi Aceh terletak pada jalur pelayaran dan perdagangan yang sangat strategis, sehingga membuat berbagai komoditas dagang dari seluruh penjuru Asia berkumpul di Aceh. Dengan adanya hal tersebut, mendorong kerajaan Aceh untuk menciptakan mata uang sendiri.

Uang logam menjadi pilihan mata uang Aceh, dimana uang logam tersebut mengandung 70 % emas murni dan dicetak lengkap beserta nama raja-raja yang memimpin Aceh.  Karena kandungan emasnya yang tinggi, mata uang Aceh ini banyak diburu oleh orang dan termasuk salah satu peninggalan kerajaan Aceh yang mencapai punjak kejayaan pada masa tersebut.

10. Kerkhoff Peutjoet

Sumber: @kotabandaaceh via Instagram
Kerkhof Peutjoet merupakan pemakaman prajurit Belanda yang tewas dalam kejadian perang Aceh. Komplek pemakaman ini banyak tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia dan salah satunya berada di kota Banda Aceh.

Perlu kita ketahui bersama, saat zaman penjajahan dahulu kerajaan Aceh yang dibantu dengan rakyatnya sangatlah gigih melawan serta memerangi Belanda. Rakyat Aceh rela berkorban jiwa dan raga demi membela tanah airnya. Dengan adanya perlawanan dalam waktu yang lama tersebut membuat banyak jatuh korban di kedua belah pihak baik kerajaan Aceh maupun pasukan Belanda.

Pada pemakaman ini terdapat kurang lebih 2000 prajurit yang dikuburkan, baik itu dari serdadu Belanda dan juga serdadu Batak, Jawa, Ambon, Madura dan beberapa serdadu lainnya yang termasuk ke dalam angkatan bersenjata Hindia Belanda.

Kuburan kerkhoff ini adalah kuburan militer Belanda yang berada di luar Belanda dengan ukuran terluas di dunia. Dalam sejarah peperangan Belanda, perang Aceh adalah perang yang paling pahit dirasakan oleh Belanda, bahkan pahitnya pengalaman mereka pada saat terjadinya perang Napoleon.

Hingga saat ini, pemakaman tersebut masih dirawat oleh rakyat Aceh dan merupakan salah satu peninggalan sejarah kerajaan Aceh yang banyak dikunjungi.

11.  Sungai Darul Ashiqi/Krueng Daroy

Sumber: @kotabandaaceh via Instagram
Sungai ini memiliki fungsi untuk mengalirkan air ke pintu Khof yang dikelilingi kolam, yang sumber air kolam tersebut berasal dari sungai Darul Ashiqi. Sungai ini bukanlah sungai yang terbentuk secara alami akan tetapi sungai yang sengaja dibuat, dimana panjangnya kurang lebih 5 km dari pegunungan mata le yang berlokasi di kec. Darul Imarah, kab. Aceh Besar.

12. Cap Sikureung

Sumber: @cakradonja via Instagram
Cap Sikureung adalah segel atau cap sultan-sultan yang memimpin Aceh. Cap ini adalah cap resmi yang dipakai baik itu oleh sultan maupun sultanah Aceh yang berfungsi untuk mengesahkan perintah atau sebuah mandat. Dalam bahasa Aceh, Cap Sikureung memiliki arti Cap Sembilan.

Pemberian nama ini, berdasarkan kepada bentuk cap yang mencantumkan nama-nama sultan yang berjumlah sembilan orang dan sultan yang sedang memerintah saat itu namanya tertulis di tengah-tengah cap.

13. Hikayat Prang Sabi

Sumber: tengkuputeh.com
Hikayat Prang Sabi adalah bentuk peninggalan sejarah dari kerajaan Aceh yang berbentuk karya sastra. Hikayat ini menceritakan tentang jihad. Karya sastra ini ditulis oleh para ulama Aceh yang berisikan nasihat, ajakan serta seruan untuk menegakan agama Allah daripada gangguan orang Kafir. Hal ini lah yang membakar semangat juang rakyat Aceh yang tidak takut mati dalam mengusir para penjajah.

Itulah 13 Peninggalan Kesultanan Aceh Paling Bersejarah Beserta Penjelasan yang dapat Abang Nji informasikan kepada sahabat sekalian. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan dan kecintaan kita kepada bangsa dan tanah air ini.

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar