12 Peninggalan Kerajaan Galuh Paling Bersejarah Lengkap Dengan Penjelasan

Peninggalan Kerajaan Galuh - Kerajaan Galuh merupakan suatu kerajaan Sunda yang berada di pulau Jawa, dimana wilayahnya berada di antara Sungai Citarum di sisi barat dan juga Sungai Ci Serayu Cipamali/kali Brebes di sisi timur. Kerajaan ini merupakan penerus dari kerajaan Kendan yang merupakan bawahan dari kerajaan Tarumanagara.

Sejarah tentang Kerajaan Galuh dapat dilihat pada naskah kuno Carita Parahiyangan, suatu naskah berbahasa Sunda yang dicatat pada awal abad ke 16. Dalam naskah itu, cerita tentang Kerajaan Galuh diawali saat Rahiyangta ri Medangjati seorang raja resi yang berkuasa selama kurang lebih lima belas tahun lamanya. Setelah itu, kekuasaan ini diwariskan pada putranya di Galuh yakni Sang Wretikandayun.

Ketika Linggawarman, raja Tarumanagara yang berkuasa dari tahun 666 wafat pada tahun 669, kekuasaan kerajaan  Tarumanagara jatuh ke Sri Maharaja Tarusbawa yang merupakan menantunya dari Sundapura, satu diantara wilayah yang berada dibawah kekuasaan kerajaan Tarumanagara.

Sebab Tarusbawa mengalihkan kekuasaan Tarumanagara ke Sundapura, pihak Galuh yang saat itu di pimpin oleh Wretikandayun yang berkuasa dari tahun 612 M, menentukan pilihan untuk berdiri menjadi kerajaan mandiri. Mengenai pembagian daerah kekuasaan, Galuh dan juga Sunda setuju menjadikan Sungai Citarum menjadi batas dari kerajaan masing-masing.

1. Prasasti Galuh

Sumber: situsbudaya.id
Prasasti Galuh juga termasuk ke dalam salah satu dari peninggalan kerajan Galuh. Prasasti Galuh saat ini disimpan dan dijaga keberadaannya di Museum Nasional dengan nomor inventaris D.29.

Prasasti Galuh sendiri dipahatkan/dituliskan pada sebongkah batu kali dengan bentuk alami yang memiliki ukuran tinggi sekitar 51 cm,  lebar 33 cm dan tebal kisaran 4-19 cm.

Prasasti Galuh dapat kita lihat terdiri dari tiga baris tulisan beraksara dan juga berbahasa Sunda Kuno tanpa adanya sebuah pertanggalan. Akan tetapi, dari model serta bentuk aksaranya, prasasti ini diprediksikan berasal dari seputar abad 14-15 Masehi.

Batu yang merupakan bagian yang terdapat awal tulisan kondisinya telah patah, sehingga separuh aksaranya hilang. Transkripsi singkat pada prasasti ini dilaksanakan oleh J.L.A.Brandes. Isi dari prasasti ini benar-benar ringkas dan singkat dan juga sebagai candrasangkala (pertanggalan yang disusun dengan kalimat yang memiliki kandungan nilai angka khusus), yakni:

[wa]ra buta

Mahisa

hire

2. Prasasti Rumatak

Prasasti Rumatak juga termasuk ke dalam daftar salah satu dari  peninggalan Kerajaan Galuh. Lokasi penemuan prasasti ini berlokasi di Gunung Gegerhanjuang, Desa Rawagirang, Singaparna yakni pada tahun 1877 Masehi. Prasasti ini sekarang disimpan dan dirawat di Museum Nasional Indonesia dengan nomor inventaris D.26.

Prasasti ini dipahatkan atau dituliskan pada sebuah batu pipih yang memiliki ukuran 85 x 62 cm2. Prasasti ini isinya tidaklah panjang bahkan dapat dikatakan isinya sangat pendek, yakni dengan tiga baris tulisan dalam aksara dan juga bahasa Sunda Kuno.

Penulurusan tentang prasasti Rumatak sendiri dilaksanakan oleh K.F. Holle pada tahun 1877 M yang kemudian dilanjutkan oleh Saleh Danasasmita pada tahun l975 hingga tahun l984 M, yang dilanjutkan kembali oleh Atja pada tahun 1990 M, Hasan Djafar pada tahun 1991 M, serta Richadiana Kartakusuma juga pada tahun 1991 M.

Transkripsi dari tulisan tersebut ialah seperti berikut:

tra ba I gune apuy na

sta gomati sakakala rumata

k disusuk ku batari hyang pun

Arti dari tulisan itu ialah tentang pendirian pusat kerajaan nu nyusuk di Rumatak oleh Batara Hiyang. Tanggal dari prasasti ini dituliskan dalam kalimat candrasangkala yang isinya berbunyigune apuy nasta gomati yang oleh Saleh Danasamita, oleh Atja, dikatakan memiliki nilai 1033 Saka atau sama dengan 1111 Masehi. Pun sebaliknya, Hasan Djafar membacanya menjadiba guna apuy diwwa yang disimpulkan sebagai 1333 Saka atau sama dengan 1411 Masehi.

3. Prasasti Cikajang

Prasasti Cikajang merupakan salah satu prasasti peninggalan dari Kerajaan Galuh. Prasasti ini pertama kali ditemukan di wilayah Perkebunan Teh di Cikajang, di lereng barat daya Gunung Cikuray. Prasasti ini sendiri terdapat tiga baris tulisan dalam aksara dan juga bahasa Sunda Kuno, yang aksaranya mirp dengan aksara pada prasasti Kawali (Noorduyn l988). Transkripsi dari tulisan itu ialah Bhagi bhagya, ka, nu ngaliwat.

J. Noorduyn yang merupakan seorang pakar Sunda berkebangsaan Belanda, meragukan keaslian dari prasasti ini. Beliau menyatakan bahwa kemungkinan besar prasasti ini dibikin oleh K. F. Holle dalam rencana menyambut kehadiran tamunya saat itu, H.N.van der Tuuk, yang melakukan kunjungan ke Perkebunan Teh kepunyaan K.F.Holle di kawasan Waspada di daerah Garut tepatnya pada tahun 1870 an.

4. Prasasti Mandiwunga

Prasasti Mandiwunga merupakan salah satu prasasti peninggalan Galuh. Prasasti ini sendiri dituliskan pada sebongkah batu yang pertama kali ditemukan di desa Cipadung, kecamatan Cisaga, Ciamis yakni pada tahun 1985 M . Saat ini prasasti ini disimpan dan dijaga keberadaannya di Museum Negeri Sri Baduga, di Bandung, Jawa Barat.

Prasasti Mandiwunga sendiri terbuat dari batu alam. Pada sisi atas prasasti ini sendiri dalam kondisi patah dan juga ukuran yang ada saat ini setelah patah ialah tinggi 70 cm, lebar dengan kisaran 14-26 cm serta tebal dengan kisaran 4-5-10 cm. Prasasti Mandiwungan untuk pertama kalinya diinformasikan oleh Dirman Surachmat dalam forum Seminar Sejarah Nasional IV di Yogyakarta yaitu pada tahun 1985 M.

Akan tetapi, transkripsi serta ulasannya belum sempurna. Selanjutnya, prasasti ini kemudian ditranskripsi kembali oleh Richadiana Kartakusuma yakni pada tahun 1991 M. Hasil transkripsinya dikatakan secara langsung ke pihak museum setempat.

Prasasti Mandiwungan bertulisan lima baris beraksara dan juga berbahasa gaya Jawa Kuno dengan transkripsi seperti berikut ini :

masa krsna paksa

nawami haryang

pon wrehaspati wa

ra tatkala sima ri

mandiwunga……….

Artinya ialah sebagai berikut:

Bulan paro gelap tanggal 9,

(sadwara:paringkela n) Haryang

(pancawara/pasaran) Pon, (saptawara) Kamis

ketika itulah daerah sima (perdikan) di

Mandiwunga………………..

5. Situs Geger Sunten

Sumber: youtube.com

Situs Geger Sunten merupakan salah satu peninggalan sejarah kerajaan Galuh yang berlokasi di perbukitan Dusun Sodong, Desa Tambaksari, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis. Di situs ini ada beragam bentuk bebatuan yang teratur dan tersusun rapi. Geger Sunten sendiri dikelilingi beberapa puluh pohon mahoni yang bisa menyejukan mata.

Konon katanya, pada tempat ini dahulunya merupakan suatu tempat persembunyian Aki Balangantrang alias Bimaraksa saat menyembunyikan keberadaan Ciung Wanara yakni ketika Kerajaan Galuh dikudeta dan diambil alih kepemimpinannya oleh Barmawijaya. Di lokasi persembunyian inilah para prajurit kerajaan Galuh dilatih guna berperang dan merebut kembali kerajaan Galuh yang telah dikudeta.

Di situs ini dapat kita temukan patilasan batu yang dipercaya dipakai oleh Ciung Wanara dan juga pengikutnya. Seperti batu kursi, baru meja bahkan situs ini juga diperkirakan sebagai tempat pertemuan untuk melaksanakan kegiatan musyawarah.

6. Situs Ciung Wanara Karangmulyan

Sumber: situsbudaya.id

Situs Karangkamulyan ialah suatu situs purbakala bersejarah dan juga situs arkeologi yang berlokasi di Desa Karangkamulyan, Cijeungjing, Ciamis, Jawa Barat, Indonesia. Situs ini adalah peninggalan dari masa Kerajaan Galuh yang memiliki corak Hindu-Buddha.

Legenda Situs Karangmulyan

Legenda situs Karangkamulyan mengisahkan tentang Ciung Wanara yang memiliki hubungan dengan Kerajaan Galuh. Cerita ini sendiri banyak sekali dibumbui dengan cerita kepahlawanan yang mengagumkan seperti kesaktian serta keperkasaan yang tidak dipunyai oleh orang biasa akan tetapi dipunyai oleh Ciung Wanara.

Kisah Ciung Wanara adalah sebuah kisah yang menceritakan mengenai Kerajaan Galuh yakni kerajaan yang telah ada sebelum zaman berdirinya Kerajaan Majapahit dan juga Pajajaran. Dikisahkanlah raja Galuh kala itu Prabu Adimulya Sanghyang Cipta Permana Di Kusumah yang memiliki dua permaisuri yang bernama Dewi Naganingrum dan juga Dewi Pangrenyep. Saat ajalnya telah dekat, sang Prabu mengasingkan diri serta tampuk kekuasaan saat itu diberikan pada Patih Bondan Sarati lantaran Sang Prabu belum memiliki anak dari permaisuri pertama yakni Dewi Naganingrum.

Setelah pemberian kekuasaan tersebut, ternyata dalam memimpin kerajaan Raja Bondan tidak mementingkan kepentingan masyarakat banyak, melainkan hanya mencari keuntungan bagi diri sendiri, hingga atas kuasa Tuhan Dewi Naganingrum diberi anegerah memiliki seorang putera, yakni Ciung Wanara yang kedepannya akan menjadi penerus sah kerajaan Galuh yang adil dan bijaksana dalam memimpin.

Struktur Lokasi Situs Ciung Wanara Karangmulyan

Area yang luasnya sekitar 25 Hektar ini menyimpan beberapa benda yang diperkirakan mempunyai kandungan sejarah mengenai Kerajaan Galuh yang sejumlah besar peninggalan-peninggalan tersebut berbahan dasar batu. Batu-batu ini terletak tidak berdekatan melainkan terletak secara tersebar, dimana antara satu batu dengan batu lainnya memiliki bentuk yang berlainan.

Batu-batu ini ada dalam sebuah bangunan yang strukturnya terbuat dari tumpukan batu dan memiliki bentuk yang hampir serupa. Struktur bangunan ini sendiri mempunyai sebuah pintu hingga bentuknya dapat menyerupai sebuah kamar.

Batu-batu yang berada di struktur bangunan ini mempunyai nama serta memiliki kisah sejarah tersendiri, begitupun di sejumlah tempat lain yang terletak di luar struktur batu. Perlu kita ketahui, setiap nama-nama itu adalah suatu pemberian dari warga yang dihubungkan dengan cerita atau mitos mengenai kerajaan Galuh seperti pangcalikan atau tempat duduk, simbol peribadatan, tempat melahirkan, tempat sabung ayam dan juga Cikahuripan.

7. Situs Pangcalikan

Sumber: youtube.com

Pangcalikan adalah situs yang lokasinya masih berada dalam ruang lingkup situs Karangmulyan. Situs ini merupakan situs pertama yang akan dilalui setelah melewati gerbang utama.

Pelinggih/Pangcalikan adalah sebuah batu bertingkat-tingkat yang berwarna putih dan memiliki bentuk persegi empat, termasuk juga ke dalam golongan Yoni (tempat pemujaan) yang letaknya dengan posisi terbalik dan dipakai buat altar.

Dibawah Yoni itu terdapat sejumlah batu kecil yang seakan-akan sebagai penyangga, hingga memberikan kesan-kesan seperti sebuah dolmen (kubur batu). Letaknya sendiri berada di sebuah struktur tembok yang memiliki panjang 17,5 meter dan lebar 5 meter.

8. Sahyang Bedil

Tempat yang dimaksud Sanghyang Bedil adalah satu ruangan yang dikelilingi tembok yang memiliki ukuran 6,20 x 6 meter. Tinggi tembok kira-kira 80 cm. Pintu menghadap ke sisi utara, di depan pintu masuk dapat ditemukan dan dilihat struktur batu yang memiliki fungsi sebagai sekat. Di ruang ini terdapat dua buah menhir yang letaknya berada di atas tanah, yang masing-masingnya memiliki ukuran 60 x 40 cm dan juga 20 x 8 cm.

Bentuknya menunjukkan tradisi megalitikum.Menurut keyakinan warga, Sanghyang Bedil terkadang bisa dijadikan sebagai suatu pertanda akan datangnya satu peristiwa, khususnya jika pada tempat itu mengeluarkan bunyi suatu letusan, akan tetapi saat ini tanda-tanda itu sudah tidak dapat ditemukan lagi.

Selain itu senjata memiliki makna perlambangan khusus yang sudah dikenal oleh warga sekitar. Senjata adalah simbol dari hawa nafsu. Makna filsafatnya ialah jika hawa nafsu seringkali menyeret manusia kepada suatu kemaksiatan atau kecelakaan .

9. Lambang Peribadatan

Lambang peribadatan sendiri juga masih terdapat dalam ruang lingkup situs Karangmulyan. Batu yang dikatakan sebagai lambang peribadatan adalah beberapa dari kemuncak, akan tetapi ada yang mengatakannya sebagai fragmen candi, warga sendiri menyebutnya sebagai stupa.

Lambang peribadatan sendiri memiliki bentuk yang indah sebab dihiasi oleh pahatan-pahatan sederhana yang merupakan suatu peninggalan sejarah yang bercorak Hindu. Batu ini terletak di dalam struktur tembok yang mempunyai ukuran 3 x 3 x 0.6 meter. Pada tempat ini ada dua unsur budaya yang berbeda yakni terdapatnya kemuncak dan juga struktur tembok.

Struktur tembok yang tersusun secara rapi memperlihatkan lapisan budaya megalitik, sedangkan kemuncak adalah peninggalan sejarah yang bercorak Hindu.Masyarakat menyebutnya lambang peribadatan ataupun lambang keagamaan, lantaran dilihat dari bentuk batu tersebut yang menyerupai stupa.

10. Panyandaran

Masih situs yang ditemukan di ruang lingkup situs Karangmulyan. Panyandaran sendiri Terdiri atas sebuah menhir dan juga dolmen, yang letaknya dikelilingi oleh batu-batu bersusun yang merupakan struktur atau susunan dari tembok. Menhir memiliki ukuran tinggi 120 cm, lebar 70 cm, sedangkan dolmen sendiri memiliki ukuran 120 x 32 cm.

Menurut cerita dari masyarakat setempat, tempat ini adalah tempat melahirkan Ciung Wanara. Pada tempat itu Ciung Wanara dilahirkan oleh Dewi Naganingrum yang selanjutnya bayi itu dibuang serta dihanyutkan ke sungai Citanduy. Seusai melahirkan Dewi Naganingrum bersender di tempat itu selama empat puluh hari lamanya yang bermaksud untuk memulihkan kesehatannya sehabis melahirkan.

Warga memiliki mitos pada tempat ini. Beberapa warga yakin jika ada ibu-ibu yang belum dikaruniai anak dan mau memiliki anak, maka harus bersender di tempat itu seperti yang dilakukan oleh dewi Naganingrum.

11. Cikahuripan

Di area Cikahuripan tidak ada pertanda adanya suatu peninggalan arkeologis. Peninggalan sejarah ini sendiri berbentuk sebuah sumur yang letaknya dekat pertemuan di antara dua sungai, yakni sungai Ci Tanduy dan juga sungai Ci Muntur.

Sumur ini diberi nama Cikahuripan lantaran dianggap masyarakat setempat berisi air kehidupan yang juga  diyakini sebagai simbol kehidupan. Sumur ini adalah sumur abadi, sebab airnya belum pernah kering sepanjang tahun.

12. Makam Dipati Panaekan

Sumber: youtube.com

Di area makam Dipati Panaekan ini juga tidak ditemukannya pertanda dari peninggalan arkeologis dan yang dapat ditemukan hanyalah batu yang berupa lingkaran bersusun tiga.

Dipati Panaekan ialah putra kedua dari Cipta Permana (Prabu di Galuh) Raja Galuh Gara Tengah, dia meninggal dunia lantaran dibunuh oleh adik iparnya sendiri yang bernama Dipati Kertabumi (Singaperbangsa I) lantaran terjadinya konflik dan selisih paham dalam rencana penyerangan Belanda ke Batavia dimana Panaekan cenderung ke saran Dipati Ukur sedangkan Singaperbangsa cenderung ke saran Rangga Gempol.

Seusai dibunuh, jasadnya kemudian dihanyutkan ke Cimuntur serta diangkat kembali dipertemuan Sungai Cimuntur dan juga Sungai Citanduy lalu dikuburkan di lokasi situs Karangmulyan

Itulah informasi tentang 12 Peninggalan Kerajaan Galuh Paling Bersejarah Lengkap Dengan Penjelasan. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan sahabat-sahabat sekalian serta dapat dijadikan referensi dalam mengenal tentang sejarah kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Indonesia.

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar