11 Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai Yang Bersejarah

Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai - Kerajaan Samudera Pasai atau dikenal juga dengan sebutan Samudera Darussalam merupakan kerajaan Islam yang berada di pesisir Utara Sumatera yakni disekitar kota Lhokseumawe dan Aceh Utara. Kerajaan Ini dibentuk oleh Marah Silu yang diberi gelar sebagai Sultan Malik As-Saleh pada kisaran tahun 1267.

Adanya kerajaan ini pula tertulis pada kitab Rihlay ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) yang ditulis sang Abu Abdullah ibn Batuthah (1304-1368) yakni seorang musafir dar Maroko yg sempat singgah pada negeri pada tahun 1345. Setelah masa-masa kejayaan, akhirnya kerajaan ini mengalami keruntuhan atau kehancuran pada tahun 1521 dampak serangan dari Portugal.

Walaupun kerajaan ini telah mengalami keruntuhan, akan tetapi masih mampu kita temukan peninggalan-peninggalan sejarah berupa makam, mata uang juga peninggalan-peninggalan lainnya yg masih sanggup kita jumpai dalam waktu ini. Untuk itu Abang Nji akan memberikan berita pada sahabat sekalian mengenai 11 Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai Yang Bersejarah.

1. Lonceng Cakra Donya

Sumber: @acehlon_ via Instagram

Cakra Donya adalah sebuah lonceng terbuat dari besi yg bentuknya menyerupai stupa, yang dibuat oleh negeri cina dalam tahun 1409 Masehi yang merupakan sebuah bentuk pemberian dari kaisar China pada Kesultanan Samudera Pasai. Lonceng ini mempunyai berukuran tinggi yaitu 125 centimeter menggunakan lebar 75 cm.

Pada bagian luar lonceng ini terdapat suatu hiasan berupa simbol-simbol aksara arab dan cina. Aksara Arab tidak dapat terbaca lagi sedangkan aksara cina bertuliskan Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo yang artinya Sultan Sing Fa yang sudah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5.

Lokasi Lonceng Cakra Donya terletak di Jl. Sultan Alaudin Mahmudsyah, No. 12 Kel. Peuniti, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Prov. Aceh.

Dua. Makam Sultan Malik As-Saleh

Makam sultan Malik As-Saleh atau lebih dikenal dengan sultan Malikussaleh berada di kec. Samudera, Aceh Utara yang letaknya kurang lebih 17 km sebelah timur dari kota Lhokseumawe serta berdampingan dengan makam anaknya sultan Muhammad Malik Al-Zahir.

Makam ini adalah situs bersejarah yang sangat monumental pada daerah Nusantara,

Jika dilihat dari batu nisan Sultan Malikussaleh, dapat dilihat adanya peralihan pengaruh dari arsitektur Budha kepada pengaruh arsitektur Islam. Dari ornamen batu nisan tersebut terlihat jelas bahwa batu nisan berasal dari Gujarat (India). Dengan adanya hal ini, menunjukan bahwa kerajaan Samudera Pasai sangat terbuka dalam menerima budaya daerah lain, yakni dengan memadukan budaya India dengan Islam.

3. Makam Sultan Muhammad Malik Al-Zahir

Sumber: ajnn.net

Sultan Muhammad Malik Al-Zahir atau dikenal juga dengan nama Sultan Malikul Dzhahir merupakan anak pertama dari Sultan Malikussaleh yang mengambil alih kepemimpinan kerajaan Samudera Pasai dari tahun 1297 hingga 1326 Masehi.

Batu nisan makam Sultan Muhammad Malik Al-Zahir sendiri terbuat dari batu granit yang terdapat pahatan surah At-Taubah ayat 21-22. Terukirnya ayat ini adalah suatu ungkapan bahwa sultan yang memiliki gelar "Syamsuddunya waddin (Matahari Dunia Dan Agama)" ini merupakan seseorang yang memiliki peran besar dalam menyiarkan dan menyebarkan agama Islam seperti ayahnya.

Selain itu, di batu nisan juga terdapat suatu tulisan yang artinya Kubur ini kepunyaan tuan yang mulia, yang syahid bernama Sultan Malik Al-Zahir, cahaya dunia dan sinar agama. Muhammad bin Malik Al-Saleh, wafat malam Ahad 12 zulhijjah tahun 726 Hijriah (19 November 1326 Masehi). Makam Sultan Malik Al-Zahir sendiri tepat berada di sebelah makam ayahnya Sultan Malik Al-Saleh.

Makam ini berlokasi di Kec. Samudera, Aceh Utara atau lebih tepatnya di Desa Beuringen.

4. Makam Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah

Makam ini adalah peninggalan sejarah dari dinasti Abbasiyah. Teungku Sidi adalah cicit dari khalifah Al-Muntasir yang pergi meninggalakan negeri asalnya yakni Irak dikarenakan diserang oleh tentara Mongolia. Teungku Sidi memiliki jabatan yang sangat penting di kerajaan Samudera Pasai, dimana ia diberikan amanah sebagai menteri keuangan.

Batu nisan teungku Sidi berbahan dasar batu marmer yang berhiaskan ukiran kaligrafi, dimana terdapat ayat kursi yang ditulis melingkar di pinggiran batu nisannya. Pada bagian atas nisan juga terdapat ukiran Surah At-Taubah ayat 21-22 dan kalimat Bismillah.

5. Naskah Surat Sultan Zainal Abidin

Sumber: blogdellyaan.blogspot.com

Naskah ini merupakan surat tulisan dari sultan Zainal Abidin pada tahun 1581 Masehi atau 932 Hijriah. Naskah surat ini dibuat untuk ditujukan kepada kapitan Moran yang bertugas atas nama wakil raja Portugis di India. Naskah surat ini ditulis menggunakan bahasa Arab yang berisi tentang kondisi kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1511 Masehi disaat Malaka jatuh atau takluk di tangan Portugis.

Selain itu, di dalam naskah surat juga tertulis nama-nama kerajaan yang mempunyai hubungan erat dengan kesultanan Samudera Pasai. Sehingga, dapat diketahui nama-nama negeri ataupun kerajaan-kerajaan tersebut. Adapun kerajaan yang disebut atau tertera dalam naskah surat tersebut yakni Negeri Fariyaman (Pariyaman) dan Negeri Mulaqat (Malaka).

6. Makam Ratu Al-Aqla (Nur Ilah)

Ratu Al-Aqla merupakan puteri dari Sultan Muhammad Malik Al-Zahir yang mangkat pada tahun 1380 Masehi. Makam ini berada di Gampong Meunje Tujoh Keca Matangkuli, kec. Matangkuli dengan jarak kurang lebih 30 km dari sebelah timur kota Lhokseumawe. Batu nisan dari makam ratu ini dihiasi dengan kaligrafi yang sangat indah yang menggunakan bahasa Arab dan Kawi.

7. Stempel Kerajaan Samudera Pasai

Sumber: acehkita.com

Stempel ini diperkirakan milik dari sultan Muhammad Malik Al-Zahir seperti yang dikemukakan oleh tim peneliti sejarah kerajaan Islam. Stempel ini pertama kali ditemukan di kec. Samudera, kab. Aceh Utara yang lebih tepatnya di desa Kuta Krueng. Saat ditemukan kondisi stempel telah rusak dikarenakan patah pada bagian gagang atau pegangannya.

Stempel ini memiliki ukuran 2 x 1 cm serta diperkirakan pembuatan berbahan dasar tanduk hewan. Ada pendapat yang menyatakan bahwa stempel ini digunakan sampai masa pemerintahan terakhir kerajaan Samudera Pasai yang saat itu dipimpin oleh sultan Zainal Abidin.

8. Makam Teungku Peuet Ploh Peuet

Makam ini diberi julukan Makam Teungku 44 (Peuet Ploh Peuet) dikarenakan di dalam makam ini dikuburkan jasad 44 orang alim ulama kerajaan Samudera Pasai. Mereka mati dibunuh dikarenakan mengharamkan dan menentang perkawinan raja dengan putri kandungnya sendiri.

Makam ini berlokasi Gamponh Beuringen, kec. Samudera dengan jarak sekitar 17 km sebelah timur kota Lhokseumawe. Pada batu nisan makam ini terdapat ukiran yang sangat indah, dimana terdapat ukiran surah Ali Imran ayat 18.

9. Makam Sultanah Nahrasiyah

Sumber: acehtourism.travel

Nama sultanah Nahrasiyah tidak begitu dikenal dalam sejarah kerajaan Samudera Pasai tidak seperti raja Malikussaleh dan Malikudzahir yang begitu dikenal. Padahal sultanah ini berkuasa di kerajaan Samudera Pasai dari tahun 1416-1428 Masehi serta dikenal sebagai ratu yang adil dan bijaksana dalam memegang pucuk kepemimpinan kerajaan Samudera Pasai.

Makam ratu ini terletak di Gampong Kuta Krueng, kec. Samudera sekitar 18 km sebelah timur kota Lhokseumawe dan tidak begitu jauh dari lokasi makam sultan Malikussaleh. Pada batu nisan makamnya terdapat ukiran kaligrafi surah Yasin, surah Al-Baqarah ayat 285-286, surah Ali Imran ayat 18-19 serta penjelasan yang ditulis dengan aksara Arab yang artinya,

"Inilah makam suci, ratu yang mulia Nahrasiyah yang digelar dari bangsa Chadiu bin Sultan Haidar Ibnu Said Ibnu Zainal Ibnu Sultan Ahmad Ibnu Sultan Muhammad Ibnu Sultan Malikussaleh, mangkat pada senin 17 Zulhijjah 831 H" (1428 M).

10. Mata Uang Emas

Sumber: boombastis.com

Dalam Ying Yai Sheng Lan Karya dari Ma Huan, seorang juru tulis sekaligus penerjemah Laksamana Muslim Cheng Hi. Pada karya tersebut dijelaskan bahwa mata uang Samudera Pasai saat itu dinar emas dengan kadar sebesar 70 persen dan juga mata uang keueh yang berbahan dasar timah, dimana perbandingan 1 dinar sama dengan 1600 keueh.

Kerajaan Samudera Pasai pertama kali mencetak mata uang emas ini pada masa pemerintahan sultan Muhammad Malik Al-Zahir. Mata uang ini tetap digunakan hingga bala tentara Nippon mendarat atau tiba di Seulilmeum, Aceh Besar pada tahun 1942. Mata uang ini berukuran kecil dimana diameternya hanya 10 mm dengan berat 0,6 gram setiap koinnya.

11. Hikayat Raja Pasai

Hikayat raja Pasai adalah karya sastra sejarah kerajaan Samudera Pasai yang isinya menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 1250-1350 Masehi. Pada zaman tersebut adalah masa pemerintahan raja Malikussaleh.

Berdasarkan perkiraan Dr. Russel Jones, hikayat ini ditulis saat abad ke 14. Hikayat ini menceritakan  masa dari berdirinya  kerajaan Samudera Pasai hingga penaklukannya oleh kerajaan Majapahit.

Itulah informasi tentang 11 Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai Yang Bersejarah yang dapat Abang Nji informasikan kepada sahabat sekalian.Semoga dengan adanya artikel ini semakin menambah wawasan kita tentang kerajaan-kerajaan Islam yang pernah berdiri atau eksis di Indonesia.

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar