10 Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit yang Melegenda

Candi Kerajaan Majapahit - Majapahit merupakan salah satu kerajaan di Indonesia yang bercorak Hindu-Budha dan dianggap sebagai salah satu kerajaan terbesar di Indonesia. Kerajaan ini menurut Negarakertagama kekuasaannya meliputi Sumatra, Jawa hingga Kalimantan.

Dengan luasnya wilayah kekuasaan dari kerajaan Majapahit tidak mengherankan jika kerajaan ini meninggalkan banyak peninggalan sejarah salah satunya adalah bentuk peninggalan berupa candi. Berikut saya informasikan kepada anda tentang 10 Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit yang Melegenda.

1. Candi Jabung

Sumber: @saftanti Via Instagram

Candi Jabung termasuk candi peninggalan kerajaan Majapahit. Candi ini berlokasi di Desa Jabung, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur. Candi Jabung bahannya terbuat dari bata merah yang mampu bertahan hingga ratusan tahun. Berdasarkan keagamaan dalam kitab Nagarakertagama candi jabung dinamai dengan Bajrajinaparamitapura.

Dalam kitab tersebut juga disebutkan bahwa candi Jabung dikunjungi oleh Hayam Wuruk saat lawatannya mengelilingi Jawa Timur pada tahun 1359 M. Candi Jabung terbuat dari batu bata dan ukuran panjangnya yaitu 13,13 meter dengan lebar 9,60 meter serta tinggi 16,20 meter.

2. Candi Pari

Sumber: @dolphin_anabrang Via Instagram

Peninggalan kerajaan Majapahit berikut ini bernama Candi Pari. Candi Pari merupakan wujud peninggalan bersejarah Indonesia yang berlokasi di Kabupaten Sidoarjo dan lebih tepatnya berada di desa Candi Pari. Lokasi candi ini berada di sekitaran 2 km ke arah barat laut pusat semburan lumpuran PT. Lapindo Brantas.

Candi Pari merupakan candi yang memiliki bentuk yang indah, dimana bangunan candi ini berbentuk persegi empat yang terbuat dari batu bata. Candi ini menghadap ke barat dengan ambang serta tutup gerbang yang terbuat dari batu andesit. Konon katanya saat dahulu kala diatas gerbang terdapat batu dengan angka tahun 1293 Saka yang berarti sama denganr 1371 Masehi. Candi ini merupakan peninggalan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389 M) pada zaman Majapahit.

Berdasarkan penelitian J. Knebel, candi Pari merupakan bangunan yang dibuat untuk mengenang tempat hilangnya seorang adik angkat dari salah satu putra Prabu Brawijaya dan juga istrinya yang menolak tinggal di keraton kerajaan Majapahit saat itu.

3. Candi Bajang Ratu

Candi Bajang Ratu diperkirakan didirikan pada abad ke-14 serta merupakan salah satu candi terbesar pada masa keemasan Majapahit. Candi ini berada di kabupaten Mojokerto dan lebih tepatnya di desa Temon, kecamatan Trowulan. Candi Bajangratu dibuat dari bahan batu bata merah, kecuali pada bagian anak tangga dan atap. Candi ini memiliki panjang 6,74 meter dengan tinggi 16,1 meter. Candi ini memiliki bentuk seperti candi pada umumnya yakni dibagian pintu terdapat kalamakara yang berada di atas ambang pintu.

Candi Bajang Ratu diperkirakan berfungsi sebagai sarana untuk menghormati Jayanegara. Hal ini didasarkan dari adanya relief Sri Tanjung di kaki candi yang menggambarkan kisah peruwatan. Selain itu, candi ini diperkiran memiliki fungsi lain yaitu sebagai pintu gerbang Keraton Majapahit. Hal ini didasari bentuk dari candi yang berbentuk gapura yang beratap dengan tangga. Pendapat ini semakin diperkuat dengan letak dari candi ini yang tidak jauh dari bekas istana Majapahit.

4. Candi Surawana

Sumber: wacana.co

Candi Surawana terletak di kabupaten Kediri yakni di desa Canggu. Candi yang memiliki nama lain Wishnubhawanapura ini diperkirakan didirikan pada abad ke-14 dengan tujuan untuk memuliakan Bhre Wengker. Bhre Wengker adalah raja dari kerajaan Wengker yang saat itu di bawah kerajaan kekuasaan Majapahit. Merujuk isi kitab Negarakertagama dijelaskan pada tahun 1361 Hayam Wuruk pernah mengunjungi dan menginap di candi Surawana.

Saat ini candi Surawana memiliki bentuk yang tidak utuh lagi dan hanya bagian bawahnya saja yang bari diperbaiki. Candi Surawana memiliki ukuran 8x8 m2. Candi Surawana terbuat dari batu andesit serta termasuk candi yang beraliran Syiwa.

5. Candi Tikus

Sumber: @nikitacanitaa Via Instagram

Candi Tikus terletak di Kabupaten Mojokerto tepatnya di desa Temon kecamatan Trowulan. Candi ini letaknya juga tidak jauh dari candi Bajangratu dengan jarak hanya sekitar 600 meter. Candi tikus dahulunya telah terkubur dan baru ditemukan kembali pada tahun 1914. Penggalian situs yang telah terkubur dilakukan berdasarkan informasi dari bupati Mojokorto saat itu yaitu R.A.A Kromojoyo Adinegoro bahwa telah ditemukannya miniatur candi di lokasi perkuburan rakyat.

Penggalian secara keseluruhan baru dilakukan pada tahun 1984-1985. Untuk penamaan candi tikus sendiri di ketahui berasal dari masyarakat setempat, penamaan ini didasari karena saat ditemukan lokasi candi ditemukan merupakan sarang tikus.

Bangunan candi tikus arsitekturnya menyerupai sebuah tempat pemandian, dikarenakan ditemukan sebuah kolam yand di dalamnya terdapat beberapa bangunan. Sebagian besar candi berbentuk persegi empat dengan ukuran 29,5 m x 28,25 m yang bahan bangunannya terbuat dari batu bata merah.

6. Candi Cetho

Candi Cetho adalah candi peninggalan kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu. Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke 15 M yaitu masa dimana berakhirnya pemerintahan kerajaan Majapahit. Candi ini terletak di kabupaten Karanganyar yaitu di desa Gumeng, kecamatan Jenawi. Candi Cetho sendiri banyak dimanfaatkan oleh para kalangan yang menganut kepercayaan Kejawen sebagai tempat pertapaan maupun pemujaan.

Candi ini sebelumnya telah hilang dan baru ditemukan kembali pada tahun 1928 setelah adanya proses penggalian. Penggalian candi bertujuan untuk kepentingan rekonstruksi oleh Dinas Purbakala Hindia-Belanda. Candi Cetho sendiri memiliki keunikan dimana bentuknya tidak sama seperti candi Hindu pada umumnya.

Candi ini berbentuk punden berundak dan hal ini bermakna bahwa jatuhnya kerajaan Majapahit membuat munculnya kebudayaan asli dari masyarakat sekitaran candi.

7. Candi Sukuh

Sumber: ksmtour.com

Peninggalan kerajaan Majapahit berikutnya adalah candi Sukuh. Candi Sukuh merupakan komplek candi Hindu yang lokasinya berada di Kabupaten Karanganyar yakni di desa Berjo. Candi Sukuh berada di ketinggian 1.186 mdpl.

Candi Sukuh ditemukan pertama kali oleh ahli arkeolog pada pemerintahan Gubenur Raffles pada tahun 1815. Upaya pelestarian candi sendiri telah dilakukan sejak tahun 1917. Candi ini dibangun pada abad ke 15 M dimana saat itu sezaman dengan masa pemerintahan Suhita yakni seorang ratu Majapahit yang memegang kendali pemerintahan pada tahun 1429-1446. Karena umurnya yang tua candi ini juga diberikan julukan “The Last Temple”.

Pada fase awal pengelolaan candi, pemnfaatan candi sebagai objek wisata mendapat banyak pertentangan dikarenakan ada beberapa arca candi yang menggambarkan bentuk alat reproduksi manusia. Candi sukuh selain memiliki beberapa kontroversi, akan tetapi juga memiliki beberapa keunikan dimana konstruksi candi yang berbentuk trapesium dan memiliki kemiripan dengan candi peninggala suku Maya. Karena keunikannya pada tahun 1995 candi sukuh diajukan sebagai warisan dunia ke badan UNESCO.

8. Gapura Wringin Lawang

Sumber: kompasiana.com

Gapura Wringin Lawang merupakan bentuk peninggalan kerajaan Majapahit yang berlokasi di Kabupaten Mojokerto tepatnya di desa Jatipasar. Candi ini telah berdiri sejak abad ke-14. Gapura ini dibangun dengan bahan berupa batu bata merah dengan tinggi 15,5 m dan luas dasar 13x11 m.

Gapura Wringin Lawang memiliki berbagai spekulasi terhadap fungsinya. Banyak yang menduga bahwa fungsi gapura ini sebagi pintu masuk ke kompleks bangunan penting pusat kota Majapahit, akan tetapi ada juga yang menduga bahwa fungsi gapura ini menjadi gerbang masuk ke kediaman Gajah Mada.

Dengan banyaknya spekulasi yang beredar tentunya diharapkan kedepannya ada penelitian yang membuktikan fakta tentang fungsi gapura ini yang sesungguhnya.

9. Candi Wringin Branjang

Sumber: mblitar.net

Candi Wringin Branjang secara administratif berada di kabupaten Blitar yakni di desa Gadungan. Candi ini terlihat sangat sederhana, dimana candi ini tidak mempunyai kaki dengan kata lain hanya memiliki atap berbentuk limas dan badan candi. Candi ini terbuat dari batu andesit dengan dinding polos tanpa hiasan.

Candi ini memiliki ukuran panjang 4 m, lebar 3 m dengan tinggi 5 m. Candi ini memiliki pintu masuk 1 m dan tinggi 2 m. Candi ini memiliki perbedaan dengan candi lain, perbedaannya yaitu candi ini tidak memiliki relief seperti keadaan candi pada umumnya akan tetapi terdapat lubang ventilasi pada dinding candi. Berdasarkan ciri-ciri dari candi dapat disimpulkan bahwa kegunaan dari candi ini sebagai tempat untuk menyimpan alat-alat upacara kerajaan Majapahit.

10. Candi Brahu

Sumber: @playfulnaughtykiss Via Instagram

Ulasan terakhir ini adalah candi Brahu. Candi Brahu merupakan peninggalan kerajaan Majapahit yang berada di kabupaten Mojokerto tepatnya di dalam situs arkeologi Trowulan, desa Bejijong. Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke 15 M. Candi Brahu sendiri dibangun menggunakan bahan batu bata merah. Ukuran panjang candi yaitu 22,5 m, lebar 18 m serta tinggi 20 m.

Asal usul kata “Brahu” diketahui berasal dari kata “Warahu”. Nama Warahu merupakan sebutan untuk bangunan suci yang diceritakan dalam prasasti Alasantan yang lokasi ditemukannya tidak jauh dari candi Brahu. Prasasti Alasantan mengisahkan bahwa candi Brahu memiliki fungsi sebagai tempat pembakaran atau kremasi jenazah para raja.

Itulah 10 Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit yang saya informasikan untuk anda. Sejarah kerajaan di Indonesa sesuatu yang penting untuk dipelajari, salah satunya bentuk peninggalan sejarah seperti candi karena memberikan informasi tentang bagaimana bentuk bangunan orang-orang terdahulu yang penuh dengan misteri serta informasi yang sangat berharga. Jika ada kesalahan dalam penyampaian serta informasi yang kurang tepat silahkan tulis di kolom komentar.

Semoga Bermanfaat.

Tidak ada komentar